DermayuMagz.com – Sara Wijayanto, seorang figur yang dikenal kerap berinteraksi dengan dunia gaib, mengakui bahwa sosok hantu Rahma masuk dalam daftar tiga teror paling menyeramkan baginya. Kisah kelam Rahma ini kini diangkat menjadi sebuah film horor bertajuk “Cerita Lila”.
Dalam film tersebut, Rahma, yang diperankan oleh Shareefa Daanish, diceritakan memiliki anak kembar bernama Lila dan Lili. Lili mengalami sakit-sakitan yang membutuhkan biaya pengobatan besar. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan tanpa kehadiran sosok suami, Rahma terpaksa mengambil jalan pintas yang tragis.
Rahma mengakhiri hidup kedua anaknya, kemudian disusul dengan bunuh diri. Kejadian ini menjadi dasar dari teror yang dialami oleh Lila dalam film tersebut. Sara Wijayanto merasa sangat terpukul saat pertama kali mengetahui latar belakang cerita ini.
“Rahma masuk top three aku sih. Waktu awal penelusuran itu kita melihat POV-nya dari Lila. Jadi hancur hati kami saat tahu kok ada seorang ibu yang mengakhiri hidup dua anaknya sendiri,” ujar Sara Wijayanto kepada Showbiz Liputan6.com di Epicentrum XXI Jakarta, pada 12 Juni 2026.
Sara Wijayanto mengungkapkan bahwa di masa mudanya, Rahma pernah bertemu dengan seorang pria yang tampak menjanjikan untuk dijadikan pasangan hidup. Namun, harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Rahma kemudian menjalani kehidupan yang penuh kesulitan, di mana ia tidak mampu bertahan secara mental dan spiritual, sehingga membuatnya terjerumus ke jalan yang salah.
Pertemuan Sara Wijayanto dengan sosok Lila terjadi saat ia melakukan penelusuran bersama timnya dalam program Diary Misteri Sara. Rekaman dari penelusuran di kawasan Bogor, Jawa Barat, tersebut sempat menjadi viral di kanal YouTube. Setelah itu, Sara Wijayanto mengaku berinteraksi dengan arwah Rahma dan menemukan hikmah dari pengalaman tersebut.
“Jadi sebenarnya kita semua manusia kan mengalami hal buruk atau cobaan dalam hidup. Di sini diuji bagaimana supaya jangan sampai kalah dan tenggelam dalam negatif yang akhirnya bisa melakukan hal buruk,” tambah Sara.
Sara Wijayanto menekankan bahwa ia tidak membenarkan tindakan yang dilakukan oleh Rahma. Ia hanya berusaha memahami tragedi yang menimpa Lila dan Lili dari berbagai perspektif, termasuk dari sudut pandang Rahma itu sendiri. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi Sara.
“Ada PR-nya soalnya Rahma itu. Ada isengnya, jadi semenjak aku bawa dia ke kantor, banyak yang dipanggil. Ada ketukan-ketukan di set kita,” ujar istri Demian Aditya ini.
Sara Wijayanto menjelaskan bahwa kemampuan yang dimilikinya bukanlah tanpa risiko. Ketika seseorang memiliki kemampuan untuk membantu orang lain, seperti misalnya memasuki rumah yang diduga terkena santet, maka ada konsekuensi yang harus dihadapi.
“Tapi memang kalau bahaya, misalnya aku punya teman-teman healer juga, mereka kadang-kadang habis praktik membersihkan rumah orang, bisa seminggu dua minggu sakit. Tapi memang itu sudah bagian dari gift-nya,” pungkasnya.
Ia menambahkan bahwa saat memutuskan untuk membantu seseorang, ia selalu menguatkan niat dan memohon petunjuk dari Tuhan. Sara Wijayanto meyakini dan berserah diri kepada Sang Pencipta dalam setiap tindakannya.
Film “Cerita Lila” mulai tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 18 Juni 2026, mengangkat kisah tragis yang dialami oleh seorang ibu dan anak-anaknya.
Film ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru mengenai isu-isu sosial dan mental yang mungkin dihadapi oleh masyarakat, sekaligus menyajikan pengalaman horor yang mendalam bagi penonton.
Sara Wijayanto sendiri terus aktif dalam berbagai proyek yang berkaitan dengan hal-hal mistis, baik melalui program televisi maupun film, sembari terus berbagi pengalaman dan pandangannya mengenai dunia gaib.
Kisah hantu Rahma ini menjadi salah satu bukti bahwa di balik cerita horor yang menyeramkan, seringkali tersimpan kisah pilu dan pelajaran hidup yang mendalam.
Keberanian Sara Wijayanto dalam menghadapi dan menguak misteri di balik fenomena gaib patut diapresiasi, terlebih lagi ketika ia mampu mengemasnya menjadi sebuah karya yang informatif dan menghibur.
Film “Cerita Lila” diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi penonton, tidak hanya sebagai tontonan horor, tetapi juga sebagai refleksi diri mengenai kondisi sosial dan psikologis yang mungkin terjadi di sekitar kita.
Pengalaman Sara Wijayanto dalam menelusuri tempat-tempat angker dan berinteraksi dengan entitas gaib telah memberinya pemahaman yang unik tentang sisi lain kehidupan yang jarang terlihat oleh mata awam.
Kisah Rahma dalam “Cerita Lila” menjadi pengingat akan pentingnya dukungan sosial dan kesehatan mental bagi setiap individu, terutama bagi para ibu yang seringkali menjadi tulang punggung keluarga.
Melalui film ini, penonton diajak untuk merenungkan betapa kompleksnya masalah yang bisa dihadapi oleh seseorang, hingga mendorongnya untuk melakukan tindakan ekstrem.
Sara Wijayanto, dengan keterlibatannya dalam proyek ini, kembali menegaskan posisinya sebagai sosok yang tidak hanya tertarik pada hal-hal supranatural, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan.
Diharapkan film “Cerita Lila” dapat memberikan pengalaman sinematik yang tak terlupakan, sekaligus membuka diskusi lebih luas mengenai topik-topik sensitif yang diangkat.
Peran Sara Wijayanto sebagai narasumber dan penelusur kisah mistis dalam film ini menjadi daya tarik tersendiri, memberikan sentuhan otentik pada cerita yang disajikan.
Kisah Rahma yang masuk dalam daftar hantu terseram bagi Sara Wijayanto, semakin menambah rasa penasaran penonton untuk menyaksikan bagaimana teror itu divisualisasikan di layar lebar.
Film ini tidak hanya sekadar menyajikan adegan menyeramkan, tetapi juga menggali kedalaman emosi dan perjuangan seorang ibu dalam menghadapi kerasnya kehidupan.
Keberanian Sara Wijayanto dalam berbagi pengalamannya dengan dunia gaib telah membuka pandangan baru bagi banyak orang, termasuk dalam konteks perfilman horor Indonesia.
Dengan demikian, “Cerita Lila” bukan hanya sekadar film horor biasa, melainkan sebuah karya yang sarat makna dan dapat memberikan pelajaran berharga.
Film ini menjadi bukti bahwa di balik cerita seram, selalu ada pesan moral dan sosial yang dapat dipetik oleh penonton.
Sara Wijayanto terus membuktikan konsistensinya dalam dunia hiburan, khususnya dalam genre horor, dengan memberikan kontribusi yang berarti.
Kisah Rahma yang mencekam diharapkan mampu memberikan pengalaman menonton yang intens dan meninggalkan kesan mendalam bagi para penikmat film.
Melalui film ini, penonton diajak untuk melihat sisi lain dari fenomena gaib yang mungkin belum banyak terungkap.
Peran Sara Wijayanto dalam memberikan narasi dan pemahaman tentang dunia mistis menjadi elemen penting dalam keberhasilan film “Cerita Lila”.
Kisah tragis Rahma menjadi fokus utama yang diangkat, menjadikannya sebagai biang teror dalam film ini.
Pengalaman Sara Wijayanto yang mendalam di dunia spiritual memberikan kredibilitas tersendiri pada film ini.
Diharapkan film ini dapat menjadi tontonan yang menarik sekaligus edukatif bagi masyarakat Indonesia.
Film “Cerita Lila” menjadi kolaborasi menarik antara dunia horor dan perspektif Sara Wijayanto yang unik.
Kisah ini juga menyoroti pentingnya kesehatan mental dan dukungan keluarga dalam menghadapi kesulitan hidup.
Kehadiran Sara Wijayanto sebagai pembicara utama dalam pengungkapan kisah ini menambah nilai informatif artikel.






