Token Show Dukung Film Horor Hasil Penelusuran Sara Wijayanto di Bogor

showbiz3 Dilihat

DermayuMagz.com – Film horor terbaru bertajuk “Cerita Lila” siap tayang di bioskop Tanah Air mulai 18 Juni 2026. Film ini diangkat dari kisah viral yang sempat menghebohkan kanal YouTube Diary Misteri Sara milik Sara Wijayanto, yang kini memiliki lebih dari 11 juta pelanggan.

Kisah Lila sendiri telah disaksikan oleh lebih dari 10 juta penonton di platform YouTube, menjadikannya konten yang sangat populer. Film yang diproduksi oleh MVP Pictures ini disutradarai oleh Bobby Prasetyo dan dibintangi oleh Lutesha, Sara Wijayanto, serta Shareefa Daanish.

Kehadiran film “Cerita Lila” ini turut didukung oleh Show Token, sebuah platform hiburan yang memanfaatkan teknologi. Dukungan ini menjadi langkah awal Show Token dalam industri perfilman Indonesia dan menandai komitmen mereka untuk mendukung karya anak bangsa.

Show Token melihat keterlibatan dalam produksi film “Cerita Lila” sebagai pembuka jalan untuk ekspansi yang lebih besar di industri seni dan hiburan Indonesia. Rencananya, Show Token akan berinvestasi dan terlibat dalam produksi sekitar 25 hingga 35 film sepanjang tahun 2026.

Langkah ini menunjukkan bahwa Show Token bukan sekadar pemain baru, melainkan sebuah kekuatan yang siap mendorong pertumbuhan ekosistem perfilman di Indonesia.

COO Show Token, Joshua Khubani, membenarkan hal ini dalam sebuah kesempatan di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa melalui keterlibatan dalam film “Cerita Lila”, Show Token ingin membuktikan bahwa teknologi, investasi, dan industri kreatif dapat bersinergi untuk menciptakan peluang baru bagi para pelaku industri film.

“Dimulai dari ‘Cerita Lila’, kami ingin membuktikan teknologi, kreativitas, dan kolaborasi dapat menjadi fondasi baru bagi industri hiburan Indonesia. Target kami bukan hanya berpartisipasi dalam puluhan film,” ungkap Joshua Khubani mengenai kolaborasi dengan film “Cerita Lila”.

Membangun Ekosistem Entertainment

Joshua menambahkan bahwa visi Show Token adalah membangun ekosistem entertainment yang kuat. Ekosistem ini akan menghubungkan para kreator, komunitas, dan mitra industri untuk menciptakan nilai bersama dalam satu platform yang terintegrasi.

Ia optimistis bahwa kehadiran Show Token akan membawa perbedaan. Platform ini dirancang untuk membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat dan investor dalam mendukung berbagai proyek hiburan.

Konsep yang ditawarkan Show Token dianggap sebagai terobosan baru, terutama mengingat tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap film lokal, konten digital, serta perkembangan teknologi aset digital.

Sektor Hiburan Lain

Joshua Khubani menyatakan bahwa Show Token tidak hanya akan fokus pada industri film. Ke depannya, platform ini berencana untuk melebarkan sayap ke sektor hiburan lainnya.

Sektor-sektor tersebut meliputi konser musik, berbagai event seni, hingga pengembangan konten kreatif lainnya. Hal ini menunjukkan ambisi Show Token untuk menjadi pemain utama dalam berbagai lini industri hiburan.

Lila Dibunuh Ibunya?

Sara Wijayanto menceritakan awal mula pertemuannya dengan sosok Lila. Pertemuan itu terjadi saat tim Diary Misteri Sara melakukan penelusuran di Bogor beberapa tahun lalu.

Saat pertama kali bertemu, Sara Wijayanto merasa iba dengan kondisi Lila. Ia adalah korban ketidakadilan yang ironisnya dilakukan oleh orang yang seharusnya melindunginya.

“Lila sengaja dibunuh ibunya. Dia tersesat (di alam lain) karena mencari adiknya. Di dunia sana, kayak baru terjadi kemarin atau enggak sadar sudah berpindah dimensi. Kami ketemu, akhirnya dia menceritakan apa yang terjadi,” ungkap Sara Wijayanto pada Januari 2026.

Kisah pilu ini yang kemudian diangkat menjadi film horor “Cerita Lila”, diharapkan dapat memberikan pengalaman yang mencekam sekaligus menyentuh bagi penonton.

Film ini akan menjadi salah satu tontonan yang dinanti di penghujung semester pertama tahun 2026, terutama bagi para penggemar genre horor dan penikmat film Indonesia.

Dukungan dari Show Token diharapkan dapat memberikan dorongan tambahan bagi industri perfilman Indonesia, membuka lebih banyak peluang bagi kreator, dan menghasilkan karya-karya berkualitas yang dapat bersaing di kancah nasional maupun internasional.

Dengan konsep yang inovatif dan dukungan teknologi, Show Token berambisi untuk menjadi jembatan antara inovasi digital dan dunia hiburan tradisional.

Kolaborasi dengan “Cerita Lila” ini menjadi bukti nyata dari visi tersebut, sekaligus memberikan angin segar bagi perkembangan industri perfilman Indonesia di masa depan.

Penonton diharapkan dapat menikmati film horor yang mencekam sekaligus memiliki cerita yang kuat, berkat kolaborasi antara talenta perfilman Indonesia dan dukungan teknologi dari Show Token.

Film ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga warisan budaya dan cerita lokal yang bisa diangkat menjadi karya seni yang mendunia.

Proyek “Cerita Lila” ini diharapkan menjadi awal kesuksesan besar bagi Show Token dalam misi mereka membangun ekosistem hiburan yang inklusif dan inovatif.

Kehadiran film ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat film horor yang mencari pengalaman sinematik yang berbeda dan penuh misteri.

Dengan berbagai elemen yang ditawarkan, “Cerita Lila” berpotensi menjadi salah satu film horor Indonesia yang paling banyak dibicarakan di tahun 2026.

Show Token sendiri telah menyatakan komitmennya untuk terus mendukung berbagai proyek kreatif di masa mendatang, memperkuat posisinya sebagai platform hiburan yang berorientasi pada masa depan.

Perjalanan Sara Wijayanto dalam menggali cerita-cerita mistis dan mengangkatnya ke layar lebar patut diapresiasi, apalagi kali ini didukung oleh teknologi modern.

Film “Cerita Lila” ini bukan hanya sekadar tontonan horor, tetapi juga sebuah upaya untuk menghidupkan kembali cerita-cerita lokal yang memiliki nilai budaya dan spiritual.

Para penggemar film horor dapat bersiap untuk merasakan ketegangan dan kejutan yang ditawarkan oleh “Cerita Lila” di bioskop kesayangan mereka.

Keterlibatan Show Token dalam industri ini diharapkan dapat memicu gelombang inovasi baru dalam cara produksi dan distribusi konten hiburan di Indonesia.

Dengan demikian, “Cerita Lila” menjadi representasi kolaborasi antara narasi horor yang kuat dan dukungan teknologi yang progresif.

Film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 18 Juni 2026.

Liputan6.com, Jakarta – Pasangan Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid memenuhi panggilan penyidik Polda Metro Jaya terkait dugaan kasus penipuan travel umrah Hanania Group. Kehadiran Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid bertujuan mengklarifikasi keterlibatan mereka dalam mempromosikan agen travel umrah tersebut.

Penasihat hukum Thariq Halilintar dan Aaliyah Massaid, Sangun Ragahdo, menegaskan, kliennya hadir sebagai bentuk sikap kooperatif terhadap proses hukum yang berjalan. Tujuannya, memberi keterangan yang sebenar-benarnya mengenai hubungan kerja sama tersebut.

“Pertanyaan tadi di atas sebetulnya kami hadir kooperatif untuk menyampaikan dalam tanda kutip ya, hubungan kami dalam hal ini klien saya, Aaliyah dan Thariq terkait dengan Hanania Group. Mungkin biar enggak ada berita simpang siur, enggak ada lagi mispersepsi, misinformasi, akan saya luruskan di sini,” ujar Sangun Ragahdo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Ia membantah kabar yang menyebut, keberangkatan umrah pasangan ini bersifat gratis. Ada biaya besar yang tetap harus dikeluarkan Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar.

“Ini mungkin yang perlu saya sampaikan. Saya gimana juga orang yang suka melihat berita-berita dari teman-teman, saya lihat ada yang bilang ternyata selama ini Thariq dan Aaliyah umrah enggak bayar. Oh enggak. Justru yang kemarin itu sudah berapa kali di-approach mereka enggak mau karena mereka mau bayar gitu lo,” jelas Sangun Ragahdo.

Kita Tetap Bayar

Meski mendapat tawaran jasa promosi atau endorse, Sangun Ragahdo memastikan, kliennya tetap mengeluarkan biaya untuk memboyong rombongan keluarga dan staf. Nominal yang telah dibayarkan kepada pihak Hanania Group terbilang besar.

“Jadi kalau dibilang, katakanlah kita ini berangkat dalam tanda kutip ada yang gratis. Cuma malah kita yang tetap bayar. Pembayaran dari Thariq pun ini enggak sedikit. Kita telah membayar kepada Hanania itu mencapai hampir Rp 170 juta, Rp 160 juta sekian. Itu di luar biaya-biaya untuk di sana, untuk makan, bayar mutawif, dan lain sebagainya,” paparnya.

Tak Sebanding

Thariq Halilintar mengaku tidak merasa rugi meski telah mengeluarkan banyak uang, jika dibandingkan dengan nasib para jemaah lain. Ia prihatin melihat kondisi para korban yang kehilangan tabungan.

“Enggak ada sebandinglah dengan kerugian para korban yang ada,” ucap Thariq Halilintar.

Prihatin Korban Umrah

Senada dengan suami, Aaliyah Massaid sedih menyadari banyak korban yang telah menabung bertahun-tahun demi bisa ke Tanah Suci. Ia berharap agar hak-hak para korban segera dikembalikan oleh pihak travel.

“Ya, apalagi sangat prihatin pasti yang umrah itu juga sudah menabung bertahun-tahun. Jadi kita juga sangat sedih, sangat prihatin. Karena kita juga punya orang tua yang pusing, kan yang sudah umrah menabung segala macam. Semoga banget cepat selesai. Amin. Terima kasih, ya teman-teman semua,” pungkas Aaliyah Massaid.