DermayuMagz.com – Muhammad Risky Pratama, seorang bocah berusia 12 tahun, dulunya harus mengayuh sepeda puluhan kilometer setiap hari untuk menjual ikan segar demi membantu perekonomian keluarganya. Kehidupannya yang penuh perjuangan kini mulai berubah setelah ia mendapatkan kesempatan bersekolah melalui program Sekolah Rakyat.
Risky adalah anak sulung dari empat bersaudara. Sejak duduk di bangku kelas 4 SD, ia tinggal bersama kakek dan neneknya di Bagan Deli, Kota Medan. Ibunya merantau ke luar daerah untuk bekerja, sementara ayahnya telah berkeluarga lain dan jarang bertemu dengannya.
Keluarga Risky sangat bergantung pada penghasilan kakeknya, Salamuddin, yang bekerja sebagai pencari kerang di laut. Namun, pendapatan kakeknya sangat tidak menentu, berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per hari, tergantung kondisi cuaca. Dengan tanggungan 13 anggota keluarga, termasuk Risky, kakeknya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi biaya pendidikan.
Menyadari kondisi tersebut, Risky yang duduk di bangku kelas 6 SD memutuskan untuk ikut membantu mencari tambahan penghasilan. Ia memilih berjualan ikan, sebuah keputusan yang datang dari keinginannya sendiri. Tujuannya mulia: meringankan beban keluarga dan tetap bisa melanjutkan pendidikan.
“Hasil jualan dibagi nenek, habis itu nenek beli beras dan pampers adik,” cerita Risky dengan nada lirih.
Kini, kehidupan Risky telah mengalami perubahan signifikan. Melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 2 Medan, ia tidak hanya mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga menemukan harapan baru untuk mewujudkan cita-citanya.
Nenek Risky, Masitah (55), mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran program Sekolah Rakyat yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Tanpa program ini, ia mengaku tidak akan mampu menyekolahkan cucunya.
“Dulu saya menangis, kenapa? Karena saya tak akan mampu menyekolahkan dia. Karena dia bilang, cita-cita awak ini nek, apa bisa awak sekolah, nah itu saya menangis memang. Tapi kalau sekarang ini saya menangis, tapi menangis bahagia,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Masitah melihat banyak perubahan positif pada diri Risky sejak ia bersekolah di Sekolah Rakyat. Risky kini menjadi lebih mandiri, percaya diri, dan lebih rajin beribadah.
“Bukan lagi ada perubahan, jauh kali, bilangkan jauh kali lah. Perhatiannya kalau pulang jauh lah dia, tidak sebelumnya dulu mau melalak (keluyuran), kalau sekarang melalak arahnya ke musala sana atau masjid,” ujarnya.
Sang kakek, Salamuddin (63), juga menyoroti inisiatif Risky yang tinggi. Ia berharap melalui pendidikan di Sekolah Rakyat, Risky dapat mengumpulkan bekal untuk masa depannya.
“Kalau penghasilan lumayan juga, cuma kan kita kan sayang sekolahnya, enggak bisa sekolah itu aja, maka kami kerahkan ini supaya kami semangatkan dia untuk sekolah, ini supaya dia terdidik, menjadi orang,” jelas Salamuddin.
Kehidupan Risky tidak lepas dari kerinduan terhadap ibunya. Sejak terakhir bertemu saat ia duduk di kelas 4 SD, Risky belum pernah bertemu kembali dengan ibunya. Komunikasi pun hanya sebatas telepon seluler dengan frekuensi yang jarang.
“Kangen (mamak) mau jumpa kaya dulu, dulunya mamak nyuruh nyuci piring, sekarang nggak lagi, dulunya mamak nyuruh jaga adik, sekarang nggak lagi,” kata Risky dengan suara bergetar.
Kondisi ini menempa Risky menjadi pribadi yang kuat. Sebagai anak sulung yang bertanggung jawab menjaga adik-adiknya, kemandirian tumbuh dalam dirinya.
Masuknya Risky ke Sekolah Rakyat semakin memperkuat karakter tersebut. Di sana, ia tidak hanya belajar ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian dan melatih keterampilan.
Risky mengaku sangat senang dengan fasilitas yang tersedia di Sekolah Rakyat. Fasilitas tersebut sangat mendukung cita-citanya untuk menjadi seorang tentara.
“Dulu saya enggak pandai baca pak, jadi saya pandai diajarin guru, wali asuh, wali asrama pak. Nggak pandai niat salat, niat wudhu, bisa pandai pak,” imbuhnya.
Dengan senyum penuh harapan, Risky berharap dapat segera bertemu kembali dengan ibunya. Ia bertekad untuk terus menggapai mimpinya di Sekolah Rakyat.
“Mamak biar bagus-bagus kerjanya, jangan terpikir kami dulu, kalau mamak terpikir, jadi mamak nggak terlalu konsen bekerja. Terimakasih mamak sudah menjaga kami dari kecil,” ungkap Risky penuh haru.






