DermayuMagz.com – Sebuah transformasi luar biasa terjadi di Bandar Lampung, di mana bekas area penambangan batu yang tandus kini disulap menjadi sebuah kawasan konservasi dan wisata edukasi yang memukau bernama Lembah Suhita.
Terletak di Jalan Batin Mangku Negara, Batu Putuk, Kecamatan Teluk Betung Utara, tempat ini kini menawarkan pemandangan hijau yang rimbun, gemericik air sungai yang menenangkan, serta aktivitas budidaya lebah madu yang menarik.
Lembah Suhita telah menjadi destinasi favorit, terutama saat musim liburan sekolah. Kawasan seluas satu hektare ini ramai dikunjungi oleh keluarga, pelajar, hingga komunitas pencinta alam yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus belajar.
“Tagline kami adalah From Quarry to Sanctuary. Dulu ini kawasan tambang batu, kemudian perlahan kami ubah menjadi kawasan konservasi dan eduwisata,” ujar Adinda Putri Anastasia, Tim Marketing Lembah Suhita, pada Selasa (23/6/2026).
Perjalanan Panjang Mengubah Lahan Bekas Tambang
Proses perubahan besar di Lembah Suhita dimulai pada tahun 2016 oleh Suyadi, pemilik kawasan sekaligus seorang pengusaha madu ternama dengan merek “Madu Suhita”.
Batu-batu sisa aktivitas tambang tidak dibiarkan begitu saja. Sebaliknya, seluruh elemen alam yang ada dimanfaatkan kembali untuk membangun ekosistem baru yang lebih ramah lingkungan.
Penanaman berbagai jenis vegetasi dilakukan secara bertahap. Sistem pengairan pun dibangun dengan memanfaatkan mata air alami yang mengalir di area tersebut.
Adinda menjelaskan bahwa pengalaman Suyadi dalam budidaya lebah menjadi kunci utama pengembangan kawasan ini. Suyadi bahkan sempat mendalami budidaya lebah di Australia selama dua tahun.
“Owner kami memang memiliki keahlian di bidang perlebahan. Sekarang ekosistem yang terbentuk sudah sangat mendukung perkembangan koloni lebah madu,” tuturnya.
Wisata Gratis dengan Syarat
Lembah Suhita menawarkan konsep wisata yang unik. Pengunjung tidak dikenakan tiket masuk maupun biaya parkir.
Sebagai gantinya, pengunjung diwajibkan melakukan pembelian produk di galeri atau kafe dengan minimal transaksi Rp 25 ribu per orang.
Dengan nominal tersebut, pengunjung bebas menikmati seluruh area wisata tanpa biaya tambahan. Beragam produk tersedia, mulai dari madu, makanan, minuman, hingga produk UMKM lokal.
Salah satu aktivitas yang paling digemari adalah *barefoot grounding*. Pengunjung diajak berjalan tanpa alas kaki di jalur khusus yang telah disiapkan menggunakan batu-batu alami.
Adinda menambahkan bahwa konsep *grounding* ini bukan sekadar wisata, melainkan bagian dari gaya hidup sehat yang ingin diperkenalkan oleh Lembah Suhita.
“Grounding membuat kita lebih dekat dengan alam. Saat kaki menyentuh tanah dan batu secara langsung, tubuh menjadi lebih rileks dan membantu mengurangi stres akibat aktivitas sehari-hari,” ungkapnya.
Selain itu, pengunjung dapat menikmati aliran sungai yang jernih, berpiknik bersama keluarga, bersantai di gazebo, atau sekadar menikmati udara pegunungan yang sejuk.
Bagi anak-anak, pengalaman yang ditawarkan lebih beragam. Mereka bisa bermain di sungai, mengenal ekosistem lebah, hingga belajar menjaga lingkungan melalui berbagai kegiatan edukatif.
Edukasi Lingkungan
Banyak sekolah dan komunitas yang menjadikan Lembah Suhita sebagai lokasi kegiatan luar ruangan. Adinda menekankan bahwa edukasi lingkungan menjadi fokus utama yang ingin ditanamkan kepada generasi muda.
“Kami ingin anak-anak mengenal alam sejak dini. Mereka adalah generasi emas yang nantinya akan menjaga lingkungan. Karena itu kami banyak bekerja sama dengan sekolah dan komunitas agar anak-anak bisa belajar langsung di alam,” ucap dia.
Kesadaran akan pentingnya peran lebah juga menjadi salah satu materi yang dikenalkan kepada pengunjung. Meskipun lebah terkadang identik dengan sengatan, di Lembah Suhita, pengunjung diajak memahami peran vital serangga ini dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui penyerbukan tanaman.
Di tengah pesatnya pembangunan Kota Bandar Lampung, Lembah Suhita hadir sebagai oase baru bagi masyarakat yang ingin melepaskan diri sejenak dari hiruk-pikuk perkotaan.
Dari bekas tambang batu yang nyaris tak bernyawa, kawasan ini telah bertransformasi menjadi ruang hijau yang memberikan manfaat ekonomi, edukasi, dan konservasi.
Ini menjadi bukti nyata bahwa alam yang rusak bukanlah akhir dari segalanya. Dengan kesabaran dan komitmen, lahan yang pernah dieksploitasi dapat kembali hidup dan memberikan manfaat bagi banyak orang.
Kini, setiap langkah pengunjung yang menyusuri sungai, berjalan tanpa alas kaki di atas batu, atau menyaksikan lebah mengumpulkan nektar, menjadi bagian dari kisah besar tentang pemulihan alam.






