Alasan Film 402 Rumah Sakit Angker Korea Tak Gunakan Latar RS Gonjiam Seperti Film Sebelumnya

showbiz5 Dilihat

DermayuMagz.com – Film horor Indonesia terbaru, 402 Rumah Sakit Angker Korea, telah menarik perhatian publik bukan hanya karena genre-nya yang menyeramkan, tetapi juga karena latar belakang pembuatannya yang unik. Berbeda dengan banyak film remake yang mencoba menghadirkan kembali nuansa film aslinya di tanah air, film ini justru memilih untuk syuting di Korea Selatan, negara asal film yang diadaptasinya, Gonjiam: Haunted Asylum.

Keputusan ini tentu menimbulkan pertanyaan di benak banyak penonton. Mengapa tim produksi tidak memilih rumah sakit terbengkalai di Indonesia sebagai lokasi syuting? Penulis naskah film ini, Lele Laila, dalam sebuah kesempatan wawancara, menjelaskan bahwa pilihan tersebut didasari oleh keinginan kuat untuk mempertahankan esensi dan atmosfer dari film Gonjiam yang asli.

Laila mengungkapkan bahwa ambisi tim sebenarnya lebih besar lagi, yaitu melakukan syuting langsung di lokasi Rumah Sakit Gonjiam yang ikonik. Namun, realitas lapangan berkata lain. “Bahkan sebelumnya kita pengin syuting di (rumah sakit) Gonjiam. Tapi (RS) Gonjiam-nya sudah rata dengan tanah,” ujarnya.

Sebagai informasi tambahan, Rumah Sakit Gonjiam yang menjadi latar film horor Korea Selatan tersebut memang merupakan bangunan nyata yang memiliki sejarah kelam. Dikenal sebagai Rumah Sakit Jiwa Namyang di Gonjiam, fasilitas ini ditutup pada tahun 1996 akibat masalah finansial. Penutupan ini terjadi setelah presiden rumah sakit meninggal dunia dan tidak ada satupun dari anak-anaknya yang bersedia meneruskan pengelolaan.

Meskipun tidak dapat syuting di lokasi asli yang sudah tidak ada, tim produksi tetap berupaya keras untuk mereplikasi atmosfer horor yang kuat. Laila menegaskan bahwa mereka tidak ingin membohongi penonton dengan mengklaim rumah sakit tersebut masih ada jika lokasinya diganti. “Kayaknya juga enggak bijak kalau kita ngebohong bahwa rumah sakitnya masih ada,” tuturnya.

Oleh karena itu, mereka mencari lokasi di Korea Selatan yang dinilai mampu memberikan nuansa serupa. “Jadi kita mencari entitas rumah sakit yang memang mungkin tidak 100 persen benar, ada fiksinya…tapi kita memang mengambil hal-hal yang sering terjadi di Korea,” jelas Laila.

Namun, upaya mempertahankan ciri khas Korea Selatan tidak lantas membuat film ini kehilangan identitas Indonesianya. Sebaliknya, tim produksi justru berinovasi dengan memadukan elemen-elemen horor khas Indonesia ke dalam cerita yang berlatar di Korea. “Gimana sih kalau misalnya spirit para pencari hantu Indonesia mencari hantu di Korea dengan cara-cara orang Indonesia,” kata Laila.

Salah satu bocoran menarik yang diungkap adalah penggunaan Jelangkung, ikon horor Indonesia, namun dengan sentuhan mantra berbahasa Korea. Perpaduan budaya horor ini diharapkan dapat memberikan pengalaman baru dan mencekam bagi para penonton, baik dari Indonesia maupun internasional.

Film 402 Rumah Sakit Angker Korea sendiri bercerita tentang sebuah tim pembuat konten yang beranggotakan lima orang. Mereka berangkat ke Korea Selatan dengan tujuan melakukan penelusuran di sebuah rumah sakit yang telah lama ditinggalkan. Tim ini terdiri dari Juna (Arbani Yasiz), Adit (Saputra Kori), Bara (Elang El Gibran), Arum (Diandra Agatha), dan Yuri (Lea Ciarachel). Di sana, mereka juga berinteraksi dengan mahasiswa Indonesia bernama Tyas (Aylena Fusil) dan seorang tokoh lokal yang mendalami kisah horor, Daeho (Jang Hansol).

Motivasi utama mereka adalah popularitas dan keuntungan dari siaran langsung penelusuran horor yang diharapkan dapat menarik jutaan penonton. Namun, misi mereka berubah menjadi perjuangan bertahan hidup ketika serangkaian peristiwa mengerikan mulai menghantui mereka di dalam rumah sakit angker tersebut.

Sebelum tayang secara resmi di bioskop Indonesia, film 402 Rumah Sakit Angker Korea mendapatkan kehormatan untuk diputar dalam ajang Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN) 2026. Festival ini merupakan salah satu festival film bergenre horor, sci-fi, fantasi, dan thriller terbesar di Asia, yang berbasis di Korea Selatan. Keikutsertaan dalam BIFAN ini menjadi bukti kualitas dan potensi film horor Indonesia di kancah internasional.

DermayuMagz.com – Perjalanan seorang seniman seringkali diwarnai dengan tantangan dan impian yang harus diwujudkan. Bagi Jirayut, penyanyi dangdut jebolan ajang pencarian bakat, debutnya di dunia akting layar lebar melalui film Cek Khodam merupakan sebuah pencapaian yang sangat berarti. Film yang disutradarai oleh Jero Point ini tidak hanya menguji kemampuannya berakting, tetapi juga mewujudkan dua impian besar dalam hidupnya.

Jirayut, yang dikenal luas dengan pesonanya di panggung dangdut, mengaku bahwa momen paling mendebarkan baginya bukanlah saat berakting di depan kamera, melainkan saat sesi reading naskah. Sebagai pendatang baru di dunia akting, ia merasa sangat gugup dan kurang percaya diri ketika harus mendalami karakter Sakti di bawah bimbingan acting coach.

“Aku deg-degannya malah pas reading. Itu kayak aku pucat saja seharian,” ujar Jirayut dengan jujur saat ditemui di Metropole XXI Jakarta Pusat pada Kamis, 25 Juni 2026. Ia menambahkan bahwa pada awalnya, ia merasa sering melakukan kesalahan di mata acting coach, yang membuatnya harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan dari lawan mainnya yang memiliki pengalaman akting lebih matang, seperti Saputra Kori dan Benidictus Siregar.

Namun, Jirayut tidak menyerah begitu saja. Ia menunjukkan dedikasinya dengan terus belajar, bertanya, dan berusaha memahami setiap detail karakter serta dialog. Kegigihannya ini pun menuai pujian dari rekan-rekan sesama pemain. “Karena memang, satu, aku baru di dunia akting. Kedua, harus cepat masuk ke karakter Sakti apalagi disandingkan dengan pemain yang pengalamannya sudah keren-keren,” jelasnya.

Selain tantangan dalam reading, Jirayut juga menceritakan pengalaman syuting yang cukup menantang. Salah satu adegan yang paling berkesan baginya adalah adegan laga yang harus dilakukan pada dini hari. “Aku dibanting-banting soalnya. Yang paling menantang di adegan action. Ada adegan dibanting-banting jam 3 subuh, bayangkan saja,” kenangnya.

Meskipun melelahkan, pengalaman tersebut justru menjadi memori tak terlupakan yang membentuk karakternya sebagai aktor. Adegan-adegan berat tersebut membuatnya semakin menghargai proses kreatif dalam pembuatan film.

Film Cek Khodam, yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 Juli 2026, mengangkat fenomena konten mistis yang marak di era digital. Ceritanya berpusat pada Sakti (Jirayut), Wira (Saputra Kori), dan Bima (Benidictus Siregar) yang membuat konten “cek khodam”. Tanpa disadari, aktivitas mereka berdampak besar pada dunia gaib, menyebabkan penurunan angka ketakutan manusia dan hilangnya wibawa para makhluk halus. Situasi ini memicu Panglima Khodam untuk turun tangan ke dunia manusia.

Bagi Jirayut, keterlibatannya dalam film ini memiliki makna ganda. Pertama, ini adalah impian ibunya yang ingin melihatnya sukses di layar lebar. “Karena memang pertama, ini impian mamaku. Mama ingin banget aku ada di layar lebar,” ungkapnya dengan haru.

Kedua, ini juga merupakan impian Jirayut sendiri yang telah lama ia idamkan. “Kedua, impian aku juga. Aku sering ngomong di podcast bahwa aku ingin main film horor,” katanya.

Jirayut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada produser Dheeraj Kalwani dari Dee Company yang telah memberinya kesempatan emas ini. Ia berharap film Cek Khodam dapat mengikuti kesuksesan film-film sebelumnya yang diproduksi oleh Dee Company, termasuk Tumbal Proyek yang berhasil menarik lebih dari 1,6 juta penonton dan menjadi salah satu film Indonesia terlaris tahun 2026. Jirayut optimis bahwa Cek Khodam akan meraih hasil yang baik di tangga box office Indonesia.