Kondisi Pangan Saat Ini: Cabai Rawit Merah Capai Rp 61.900 per Kilogram

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Fluktuasi harga pangan kembali menjadi sorotan, dengan cabai rawit merah mencatat lonjakan signifikan hingga mencapai Rp 61.900 per kilogram pada Rabu, 8 Juli 2026. Kenaikan ini, bersama dengan komoditas lainnya, mengindikasikan adanya tekanan pada stabilitas harga kebutuhan pokok.

Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, yang dikelola oleh Bank Indonesia, menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah pada pukul 06.00 WIB pagi itu mencapai angka tersebut. Sementara itu, harga telur ayam ras juga terpantau tinggi, yakni Rp 29.050 per kilogram.

Kondisi ini bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Berdasarkan laporan yang sama, komoditas cabai lainnya juga mengalami kenaikan. Cabai merah besar dijual seharga Rp 49.750 per kg, cabai merah keriting Rp 50.300 per kg, dan cabai rawit hijau Rp 49.950 per kg. Kenaikan harga cabai ini tentu menjadi perhatian serius bagi masyarakat, terutama ibu rumah tangga yang paling merasakan dampaknya dalam pengeluaran sehari-hari.

Selain komoditas pedas, harga bawang merah dan bawang putih juga terpantau tinggi di tingkat pedagang eceran. Masing-masing dijual seharga Rp 46.550 per kg untuk bawang merah dan Rp 43.950 per kg untuk bawang putih. Kenaikan pada komoditas dasar ini semakin memperparah kekhawatiran akan inflasi pangan.

Beras, sebagai makanan pokok utama, juga menunjukkan tren harga yang tidak stabil. Beras kualitas bawah I dibanderol Rp 14.700 per kg, sementara kualitas bawah II Rp 14.500 per kg. Untuk kualitas medium, harganya berkisar Rp 16.350 per kg (kualitas I) dan Rp 16.150 per kg (kualitas II). Sementara itu, beras kualitas super I mencapai Rp 17.650 per kg dan kualitas super II Rp 17.150 per kg.

Di sektor protein hewani, daging ayam ras segar dijual dengan harga Rp 36.850 per kg. Daging sapi, yang merupakan komoditas premium, juga terpantau mahal. Daging sapi kualitas I mencapai Rp 150.350 per kg, dan kualitas II Rp 141.150 per kg.

Gula pasir, komoditas penting lainnya, juga tidak luput dari kenaikan harga. Gula pasir kualitas premium dijual Rp 20.300 per kg, sedangkan gula pasir lokal Rp 19.050 per kg. Kenaikan harga gula ini berpotensi memengaruhi industri makanan dan minuman.

Minyak goreng, yang menjadi kebutuhan pokok rumah tangga, juga mengalami kenaikan. Minyak goreng curah dibanderol Rp 20.550 per liter. Untuk minyak goreng kemasan, merek I dijual Rp 24.250 per liter, dan merek II Rp 23.400 per liter.

Menanggapi fenomena ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan tekanan inflasi yang terjadi pada Juni 2026 akan mulai mereda dalam beberapa bulan ke depan. Menurutnya, kenaikan harga saat ini lebih banyak dipicu oleh komoditas yang bersifat fluktuatif, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan beberapa bahan pangan, bukan karena lonjakan permintaan masyarakat yang berlebihan.

Purbaya menjelaskan bahwa komoditas yang bersifat musiman pada akhirnya akan kembali ke harga normal. Ia juga menyoroti penurunan harga minyak dunia yang diharapkan akan diikuti oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. “Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat,” ujar Purbaya.

Pemerintah, melalui Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, terus memantau pergerakan harga pangan. Data inflasi inti (core inflation) yang relatif stabil menjadi indikator positif bahwa kondisi ini belum mencerminkan adanya lonjakan permintaan yang signifikan. Inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 2,76 persen secara tahunan, menunjukkan bahwa inflasi umum lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor sementara.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi umum pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen. Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar, utamanya dipicu oleh kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara.

Selain transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga berkontribusi terhadap inflasi. Kenaikan harga bawang merah, bawang putih, dan beras menjadi beberapa komoditas yang memberikan andil pada inflasi di sektor ini. Namun, dengan inflasi inti yang masih terkendali, diharapkan kenaikan harga pangan ini bersifat sementara dan akan berangsur pulih seiring dengan stabilnya pasokan dan faktor-faktor eksternal lainnya.

Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan melalui berbagai kebijakan, termasuk pemantauan pasokan, distribusi, dan koordinasi antarlembaga. Diharapkan, upaya ini dapat meringankan beban masyarakat dan menjaga daya beli di tengah fluktuasi harga komoditas pangan.