Nobar Film Kartini Versi PBB, Hanung Bramantyo Ungkap Pemikiran Pahlawan Emansipasi

showbiz5 Dilihat

DermayuMagz.com – Pemutaran film “Kartini” dalam forum internasional di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bukan sekadar perayaan semata, melainkan sebuah upaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai emansipasi yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini agar terus relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.

Acara ini merupakan bagian integral dari pameran seni ukir Jepara bertajuk “TATAH” yang diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Dengan menayangkan film “Kartini” versi PBB, panitia berharap dapat menanamkan inspirasi dan semangat perjuangan Kartini, khususnya bagi kalangan muda.

Kehadiran tokoh-tokoh penting seperti Wakil Bupati Jepara, perwakilan Kementerian Ekonomi Kreatif, serta keturunan langsung R.A. Kartini, turut menambah bobot acara. Sutradara film “Kartini”, Hanung Bramantyo, juga hadir dan berbagi pandangannya mengenai pentingnya sosok Kartini.

“Kartini merepresentasikan semangat juang yang tak pernah padam, semangat kemerdekaan berpikir, dan keterbukaan wawasan bagi seluruh masyarakat. Kami berharap, melalui film ini, semakin banyak generasi muda yang mengenal lebih dalam sosok dan nilai-nilai perjuangan beliau,” ujar Muhammad Ibu Hajar, Wakil Bupati Jepara, dalam sambutannya di Teater Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Joddy Mulyasetya Putra, seorang keturunan Kartini, menekankan bahwa sosok pahlawan emansipasi ini lebih dari sekadar figur sejarah. Baginya, Kartini adalah cerminan nilai-nilai kehidupan yang senantiasa relevan. Melalui Kartini Center, ia dan keluarganya berdedikasi untuk melestarikan warisan pemikiran Kartini.

“Bagi kami, Kartini bukanlah sekadar sebuah ikon, melainkan sebuah filosofi hidup yang dapat diterapkan oleh siapa saja, kapan saja. Kami terus berupaya mengamalkan nilai-nilai yang diwariskan oleh beliau, mulai dari keberanian, ketajaman berpikir kritis, hingga kedisiplinan yang tinggi,” jelas Joddy.

Hanung Bramantyo menyoroti perbedaan signifikan antara versi film “Kartini” yang ditayangkan di PBB dengan yang pernah beredar di bioskop maupun platform digital. Menurut Hanung, versi khusus PBB ini dirancang untuk lebih menonjolkan aspek-aspek otentik dari perjuangan Kartini yang terkadang luput dari perhatian.

“Kartini tidak seharusnya hanya dikenang pada tanggal peringatannya saja. Ada banyak pahlawan perempuan yang menginspirasi, namun Kartini memiliki dampak yang sangat luas hingga akhirnya menjadi simbol emansipasi nasional,” tegas Hanung.

Lebih lanjut, Hanung mengungkapkan bahwa pemikiran Kartini mengenai pemberdayaan ekonomi melalui kewirausahaan menjadi salah satu poin penting yang ingin ia tampilkan dalam film. Hal ini tercermin dalam beberapa adegan yang menggambarkan bagaimana gagasan Kartini mampu memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitarnya.

“Gagasan yang ia perjuangkan memiliki dampak nyata pada ekonomi masyarakat. Emansipasi dan kesetaraan yang ia advokasikan turut berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi. Dampaknya tidak hanya terbatas di Batavia, namun bahkan mampu menembus pasar internasional. Kita patut bangga karena Kartini adalah sosok yang pemikirannya telah mendunia,” papar Hanung dengan bangga.

Respon Internasional Terhadap Film Kartini

Hanung Bramantyo juga berbagi cerita mengenai reaksi komunitas internasional saat film tersebut diputar di PBB. Ia menyebutkan bahwa banyak pihak yang terkesan dan terkejut dengan kedalaman pemikiran Kartini yang dinilai sangat progresif dan emansipatif untuk zamannya.

“Mereka terheran-heran melihat bagaimana seorang perempuan Indonesia di era tersebut sudah memiliki pemikiran yang begitu maju. Kartini berhasil memadukan wawasan Barat dengan kearifan lokal. Salah satu contohnya adalah bagaimana ia melakukan negosiasi dalam urusan pernikahannya. Dari sinilah film ini mendapatkan perhatian yang kemudian membawanya ke forum PBB,” kenang Hanung.

Riset Mendalam Hingga ke Belanda

Dalam kesempatan yang sama, Daniel, seorang anggota tim riset dari Rumah Kartini, menjelaskan bahwa proses pembuatan film ini melibatkan penelitian sejarah yang komprehensif. Tim riset bahkan melakukan penelusuran arsip dan literatur hingga ke Belanda untuk memastikan akurasi historis.

Daniel turut berkontribusi dalam memastikan keakuratan setiap detail sejarah, mulai dari pencarian naskah asli tulisan Kartini hingga penggunaan bahasa Belanda dalam beberapa dialog film. Ia menjelaskan bahwa berbagai literatur dan artikel mengenai Kartini telah diteliti, bahkan tulisan-tulisan yang muncul di film pun ditelusuri hingga edisi aslinya.

“Beberapa kali Mas Hanung meminta masukan terkait penggunaan bahasa Belanda dalam dialog. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan visualisasi sejarah yang otentik,” ujar Daniel.

Pemilihan Dian Sastrowardoyo Sebagai Kartini

Hanung Bramantyo juga membeberkan alasan di balik pemilihan aktris Dian Sastrowardoyo untuk memerankan tokoh sentral Kartini. Ia menilai Dian memiliki karakter yang kuat, kritis, serta memiliki kepedulian mendalam terhadap isu pendidikan perempuan, yang dinilainya sangat merepresentasikan semangat Kartini.

“Pada saat itu, kandidat pemeran utama ada Dian Sastrowardoyo atau Maudy Ayunda. Namun, Maudy saat itu masih terlalu muda. Untuk peran Nasirah, kami memilih Christine Hakim karena beliau dinilai mampu merepresentasikan karakter tersebut dengan baik. Jadi, pasangan Dian yang berapi-api dan Christine yang sangat Indonesia ini terasa pas. Saat sesi pembacaan naskah, mereka sudah menunjukkan dinamika yang kuat, sehingga saat dialog Kartini diucapkan, terasa begitu hidup,” pungkas Hanung Bramantyo.