DermayuMagz.com – Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) Lateng di Banyuwangi kini mencuri perhatian dunia internasional. Kawasan ini resmi didapuk sebagai model percontohan atau best practice bagi delegasi ASEAN dalam forum ASEAN ID Blue, berkat keberhasilannya mengintegrasikan sektor perikanan dengan industri pariwisata yang berkelanjutan.
Kunjungan delegasi ke lokasi tersebut menjadi bukti nyata bagaimana hilirisasi perikanan tidak sekadar bicara soal angka produksi, melainkan tentang transformasi ekonomi yang menyentuh akar rumput. Konsep yang diusung oleh pemerintah Banyuwangi ini mampu mengubah wajah kawasan pesisir yang dulunya kumuh menjadi pusat ekonomi baru yang modern dan tertata.
Direktur Pemberdayaan Usaha Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ali Rahmat Iman Santoso, mengungkapkan bahwa keunikan KNMP Lateng terletak pada fokusnya terhadap sektor turisme. Berbeda dengan pusat pendaratan ikan konvensional, di sini hasil tangkapan nelayan langsung diolah menjadi produk kuliner bernilai tinggi yang siap dinikmati oleh wisatawan.
“KNMP Banyuwangi berbeda dengan lainnya, mereka fokus pada turisme sehingga lebih mengedepankan wisata kuliner. Hasil tangkapan nelayan langsung dibawa ke sini dan bisa diolah menjadi berbagai macam produk siap saji,” ujar Ali Rahmat saat meninjau lokasi pada Sabtu (17/7/2026).
Selain fokus pada hilirisasi, daya tarik kawasan ini juga diperkuat oleh pendekatan arsitektur yang ciamik. Bangunan di KNMP Lateng sengaja dirancang dengan mengadopsi elemen rumah adat Suku Osing. Perpaduan antara modernitas fasilitas perikanan dengan sentuhan kearifan lokal ini berhasil menciptakan identitas kawasan yang kuat dan menarik bagi para pengunjung.
Delegasi dari berbagai negara ASEAN pun dibuat terkesan dengan model pemberdayaan ini. Salah satu yang paling antusias adalah perwakilan dari Kedutaan Besar Fiji, Leone Bainivanua. Ia mengakui bahwa konsep kampung nelayan terpadu seperti yang ada di Banyuwangi sangat inspiratif dan berpotensi untuk diadaptasi di negaranya yang juga memiliki karakteristik wilayah kepulauan.
Senada dengan hal tersebut, perwakilan dari Malaysia Mission to ASEAN, Faezatun Azirah Binti Yahaya, memberikan apresiasi tinggi terhadap cara Banyuwangi mengorganisir komunitas nelayan. Menurutnya, keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan adalah kunci keberhasilan yang patut dijadikan referensi bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Di balik kemegahan konsepnya, KNMP Lateng memiliki fasilitas yang sangat lengkap guna mendukung operasional nelayan. Kawasan ini telah dilengkapi dengan:
- Gerai kuliner sebagai pusat pemasaran produk olahan laut.
- Dermaga sandar perahu yang representatif.
- Unit pendaratan ikan dan pabrik es untuk menjaga kesegaran tangkapan.
- Workshop nelayan untuk mendukung aktivitas teknis.
- Unit pengolahan hasil laut yang dikelola oleh UMKM setempat.
Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, menuturkan bahwa perubahan drastis ini merupakan buah dari kebijakan yang berpihak pada warga lokal. Sebelumnya, area ini hanyalah lokasi berjualan dengan tenda-tenda yang tidak tertata. Kini, melalui pendampingan intensif, istri-istri nelayan dan warga sekitar dapat meningkatkan taraf hidup mereka melalui sektor pariwisata kuliner.
Perlu diketahui, inisiatif KNMP Lateng merupakan bagian dari program prioritas nasional yang digagas di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Banyuwangi terpilih menjadi salah satu dari 100 titik awal pengembangan kampung nelayan terpadu di Indonesia. Keberhasilan ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi daerah pesisir lainnya untuk melakukan lompatan serupa, demi mewujudkan ekonomi biru yang inklusif dan berdaya saing global.






