Harga Perak Hari Ini 24 Juli 2026 Turun Rp 1.500

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Harga perak di pasar domestik terpantau mengalami pelemahan pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Berdasarkan data dari laman resmi Logam Mulia, harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat merosot sebesar Rp 1.500 per gram.

Jika pada perdagangan sebelumnya harga perak Antam berada di level Rp 40.050, kini nilainya tergelincir ke angka Rp 38.550 per gram. Penurunan ini sejalan dengan tren negatif yang melanda harga perak di pasar global.

Bagi investor yang melirik logam mulia perak, Antam sendiri menyediakan beberapa pilihan produk, mulai dari perak butiran murni dengan kadar 99,95% hingga perak batangan. Untuk perak batangan, tersedia dalam ukuran 250 gram yang dibanderol Rp 10.162.500, serta ukuran 500 gram dengan harga Rp 19.400.000.

Dinamika Harga Perak Dunia

Di pasar internasional, harga perak dilaporkan terkoreksi sebesar 0,66% menjadi US$ 57,24 per ons. Pelemahan ini terjadi setelah harga perak dunia mengalami tekanan cukup dalam, yakni turun lebih dari 3% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Sentimen utama yang memicu gejolak ini adalah lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, yang kemudian memicu kekhawatiran global mengenai potensi inflasi yang lebih tinggi.

Situasi geopolitik ini membuat pasar bereaksi dengan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akan mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut menjadi beban bagi aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets) seperti perak dan emas.

Ketidakpastian Geopolitik dan Kebijakan Fed

Kenaikan harga minyak mentah Brent, yang sempat menembus level di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, dipicu oleh ketegangan militer yang melibatkan ancaman tindakan lebih luas terhadap Iran. Selain itu, kebijakan tarif baru Amerika Serikat sebesar 10%–12,5% terhadap impor dari mitra dagang utama juga menambah ketidakpastian di pasar keuangan.

Saat ini, pelaku pasar tengah memantau ketat probabilitas kenaikan suku bunga The Fed. Terdapat peluang sebesar 34% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan minggu depan, dengan probabilitas kenaikan pada bulan September yang kini diprediksi melebihi 78%.

Jim Wyckoff, seorang analis dari American Gold Exchange, menjelaskan bahwa harga minyak yang tinggi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Hal ini dianggap sebagai musuh utama bagi pasar logam mulia, mengingat emas dan perak tidak menawarkan imbal hasil tetap kepada para pemegangnya.

Dampak Terhadap Logam Mulia Lainnya

Tidak hanya perak, harga emas dunia juga mengalami tekanan serupa. Pada Kamis, 23 Juli 2026, harga emas spot sempat anjlok 2,1% menjadi US$ 4.041,59 per ons. Sementara itu, logam mulia lainnya seperti platinum dan paladium juga mencatatkan penurunan masing-masing sebesar 3,1% dan 2,8%.

Investor saat ini sedang menanti keputusan suku bunga dari Federal Reserve serta komentar lanjutan dari Ketua Fed, Kevin Warsh, setelah pertemuan kebijakan dua hari yang dijadwalkan berlangsung minggu depan. Reaksi pasar diprediksi akan sangat bergantung pada retorika bank sentral, apakah akan condong ke arah hawkish (kebijakan ketat) atau dovish (kebijakan longgar).

“Meskipun mengalami penurunan harga pada akhir pekan ini, secara historis perak tetap menunjukkan ketahanan dan masih berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan jika dilihat dari tren akumulatifnya,” ungkap pengamat pasar.

Bagi masyarakat yang ingin berinvestasi, fluktuasi harga ini merupakan bagian dari siklus pasar yang dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi global. Disarankan untuk terus memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter internasional sebelum mengambil keputusan investasi lebih lanjut.