Harga Perak Antam Hari Ini Anjlok Rp 550, Cek Update Terbarunya

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Dinamika pasar logam mulia kembali menunjukkan pergerakan yang menarik perhatian para investor. Pada perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, Harga Perak yang dikeluarkan oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tercatat mengalami koreksi sebesar Rp 550, sehingga kini berada di level Rp 38.650 per gram. Penurunan ini cukup kontras jika dibandingkan dengan harga pada sesi perdagangan sebelumnya yang sempat bertengger di angka Rp 39.200 per gram.

Bagi para kolektor maupun investor yang berminat pada produk fisik Antam, perusahaan menyediakan berbagai pilihan varian. Saat ini, Antam menawarkan produk perak batangan dengan berat 250 gram yang dipasarkan dengan harga Rp 10.187.500, serta varian perak batangan 500 gram yang dibanderol senilai Rp 19.450.000. Selain itu, tersedia pula opsi perak butiran murni dengan kadar 99,95% yang melengkapi lini produk logam mulia perusahaan tersebut.

Di sisi lain, pergerakan harga perak di pasar global justru menunjukkan tren yang berbeda. Mengacu pada data dari tradingeconomics.com, harga perak dunia terpantau menguat sebesar 0,94% ke posisi US$ 57,63 per ons. Secara umum, komoditas perak dunia saat ini diperdagangkan di kisaran angka US$ 57 per ons di tengah situasi pasar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal.

Salah satu pemicu utama fluktuasi harga ini adalah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong pemulihan harga minyak mentah dunia. Ketegangan geopolitik tersebut memberikan dampak langsung terhadap sentimen pasar, di mana para investor kini lebih berhati-hati dalam memantau prospek inflasi global serta arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Kondisi keamanan di Timur Tengah juga sempat memanas setelah militer Amerika Serikat melaporkan adanya upaya pencegatan terhadap serangan mendadak dari pihak Iran yang menyasar pasukan AS di wilayah tersebut. Di tengah ketidakpastian ini, para pelaku pasar sedang menanti keputusan kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed). Meskipun ada desakan dari Presiden Donald Trump agar suku bunga diturunkan, pasar justru melihat adanya probabilitas tinggi bahwa biaya pinjaman akan tetap berada di level yang tinggi.

Analisis pasar menunjukkan adanya perkiraan peluang sebesar 80% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September mendatang. Hal ini mencerminkan tingginya tingkat kehati-hatian investor dalam menyikapi kebijakan moneter AS di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Selain perak, pasar juga mencermati pergerakan harga emas dunia yang pada Selasa, 28 Juli 2026, mengalami penurunan sebesar 1,1% ke level US$ 4.032,42 per ons, dipicu oleh penguatan nilai tukar dolar AS.

Secara historis, harga emas tercatat telah terkoreksi sekitar 24% sejak dimulainya konflik antara AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu. Tekanan pada logam mulia ini diperparah oleh ekspektasi bahwa inflasi akibat perang akan memaksa suku bunga tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang. Bagi para investor, logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) menjadi kurang menarik saat suku bunga berada di level tinggi.

“Harga energi yang tinggi tetap menjadi kekhawatiran inflasi bagi para anggota The Fed. Kecenderungan kebijakan yang lebih ketat atau hawkish telah mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga serta menguatnya nilai dolar AS, sehingga memberikan tekanan signifikan pada pasar logam mulia,” ujar Direktur High Ridge Futures, David Meger.

Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS untuk bulan Juni yang dijadwalkan pada Kamis mendatang. Data ini dianggap krusial sebagai petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya. Sementara itu, pihak Commerzbank telah melakukan revisi proyeksi harga emas akhir tahun dengan menurunkan estimasi sebesar US$ 300 menjadi US$ 4.500 per ons, dengan catatan bahwa pemulihan harga emas akan sulit terjadi tanpa adanya perubahan arah dalam kebijakan suku bunga global.