DermayuMagz.com – Pasar energi global kembali menunjukkan volatilitas setelah harga minyak mentah dunia mengalami koreksi pada penutupan perdagangan akhir pekan, Sabtu (19/9/2026). Meskipun sempat berada di bawah bayang-bayang ketegangan geopolitik yang memicu lonjakan harga, komoditas minyak mentah WTI dan Brent kini sedikit tergelincir dari posisi tertingginya.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun sebesar 1,6 persen, menetap di level US$ 100,30 per barel. Sementara itu, minyak Brent yang menjadi tolok ukur harga internasional juga mengalami pelemahan sebesar 0,9 persen, ditutup pada posisi US$ 103,87 per barel. Meski mengalami penurunan, harga minyak dunia secara umum masih bertahan di kisaran psikologis US$ 100 per barel.
Dampak Gangguan Infrastruktur
Tekanan pada harga minyak ini terjadi di tengah upaya pasar merespons gangguan pada infrastruktur energi di Arab Saudi. Sebelumnya, harga sempat melonjak lebih dari 5 persen sebagai reaksi langsung atas serangan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan pipa milik Arab Saudi pada Kamis lalu. Serangan tersebut memaksa otoritas setempat untuk menutup operasional pipa sebagai langkah mitigasi darurat.
Meski terjadi gangguan, JPMorgan melalui Kepala Strategi Komoditas Global, Natasha Kaneva, mengungkapkan bahwa arus pasokan minyak dari Timur Tengah masih menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Berdasarkan analisis catatan Jumat, volume pengiriman minyak dari wilayah tersebut rata-rata mencapai 17 juta barel per hari dalam sepuluh hari terakhir. Angka ini memang masih berada di bawah rata-rata tahun 2025 dengan selisih sekitar 6 juta barel per hari, namun dinilai cukup stabil di tengah situasi yang menantang.
Analisis Pasokan dan Risiko Geopolitik
Data satelit yang dipantau oleh JPMorgan menunjukkan adanya perubahan strategi pengiriman dari pihak Arab Saudi. Tercatat, aliran minyak melalui Selat Hormuz meningkat signifikan hingga mencapai 2,8 juta barel per hari dalam enam hari terakhir, melonjak tajam dibandingkan volume pada Agustus yang hanya berada di angka 700.000 barel per hari.
“Untuk saat ini, solusi alternatif tersebut tampaknya berhasil selama pihak Iran membiarkannya,” ujar Natasha Kaneva dalam analisis pasarnya.
Namun, para analis tetap memberikan peringatan terkait keberlanjutan pasokan tersebut. Helima Croft, Kepala Strategi Komoditas Global di RBC Capital Markets, menilai bahwa ancaman terhadap infrastruktur energi masih sangat nyata. Keterlibatan kelompok Houthi di Yaman, yang dikenal sebagai sekutu Iran, dipandang masih memiliki kapabilitas berupa pasokan drone dan persenjataan untuk melakukan serangan lanjutan terhadap Pipa East-West serta fasilitas strategis lainnya di sepanjang Laut Merah.
Senada dengan hal tersebut, Rapidan Energy memprediksi bahwa gangguan pada pipa Arab Saudi berpotensi membatasi kapasitas produksi dan ekspor minyak mentah hingga akhir September 2026. Risiko ketidakpastian pasar diperkirakan akan terus berlanjut apabila penghentian operasional pipa diperpanjang atau jika terjadi eskalasi serangan dari pihak-pihak terkait, yang pada akhirnya dapat menekan kembali stabilitas harga minyak dunia di masa depan.






