DermayuMagz.com – Ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan minyak mentah dari Timur Tengah menempatkan kawasan Asia Tenggara dalam posisi yang rentan terhadap volatilitas harga serta gangguan distribusi energi global. Saat ini, sekitar 60 persen kebutuhan impor minyak mentah di ASEAN masih sangat bergantung pada wilayah tersebut.

Kondisi ini tidak hanya mencakup minyak mentah secara langsung, tetapi juga berdampak pada sekitar 45 persen pasokan produk minyak di Asia Tenggara yang melibatkan proses pengolahan dan perdagangan tidak langsung dari kawasan yang sama. Apabila terjadi ketegangan geopolitik atau hambatan pasokan di Timur Tengah, dampak sistemik dipastikan akan merambat ke berbagai sektor vital di ASEAN, mulai dari lonjakan biaya transportasi, efisiensi industri, hingga kenaikan harga komoditas barang secara umum.

Sri Konsep Harum Wicaksono, perwakilan dari Pertamina Energy Institute, menegaskan bahwa ketahanan energi di tingkat regional memerlukan langkah strategis yang lebih dari sekadar mengandalkan cadangan darurat. Dalam paparannya pada sesi pertama 2nd East Asia Media Caucus di Jakarta, Jumat (6/11/2026), ia menekankan bahwa cadangan energi hanyalah solusi jangka pendek untuk “membeli waktu”.

Menurutnya, sistem energi yang tangguh harus dibangun melalui diversifikasi sumber perdagangan, peningkatan pasokan domestik, serta kesiapan infrastruktur yang mumpuni. Mekanisme tanggap darurat yang terintegrasi menjadi kunci utama agar setiap negara di kawasan mampu merespons ketidakpastian global dengan lebih efektif.

Tantangan Produksi dan Proyeksi Kebutuhan

Tantangan ketahanan energi ASEAN semakin nyata jika menilik tren produksi minyak yang terus mengalami penurunan. Merujuk pada data International Energy Agency (IEA), produksi minyak mentah di Asia Tenggara berada di angka 2,5 juta barel per hari pada 2015. Angka ini merosot menjadi 1,8 juta barel per hari pada 2025 dan diprediksi akan terus turun hingga menyentuh level 1,6 juta barel per hari pada 2031.

Di sisi lain, kebutuhan konsumsi energi justru menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Permintaan minyak di kawasan ASEAN diproyeksikan melonjak dari 5 juta barel per hari pada 2024 menjadi 6,2 juta barel per hari pada 2035. Ketimpangan antara penurunan produksi dan kenaikan permintaan ini menjadi sinyal bagi negara-negara di kawasan untuk segera membenahi sektor hulu migas.

Sri Konsep menyarankan agar investasi hulu migas ditingkatkan guna mengoptimalkan lapangan minyak yang masih beroperasi. Selain itu, pengembangan teknologi untuk efisiensi produksi dan transisi menuju energi alternatif harus segera dilakukan agar ketergantungan pada impor tidak semakin membebani ekonomi kawasan di masa depan.

Infrastruktur dan Koordinasi Regional

Aspek infrastruktur menjadi pilar krusial lainnya dalam menjaga stabilitas energi. Saat ini, sekitar 86 persen kapasitas kilang minyak di ASEAN masih terkonsentrasi di empat negara utama, yakni Indonesia, Thailand, Singapura, dan Malaysia. Namun, kapasitas infrastruktur yang besar tidak menjamin keamanan pasokan jika sistem distribusi dan aksesibilitas tidak berjalan optimal.

Sri Konsep menyoroti bahwa kapasitas tangki atau kilang yang terdata secara statistik belum tentu mencerminkan kesiapan pasokan darurat yang dapat langsung digunakan saat krisis. Hal ini mencakup tantangan teknis seperti kecocokan jenis minyak mentah dengan spesifikasi kilang, serta ketersediaan pelabuhan dan jalur distribusi yang memadai.

Untuk mengatasi kendala tersebut, penguatan kerja sama regional melalui mekanisme yang sudah ada menjadi sangat relevan. Beberapa poin penting yang ditekankan meliputi:

Kejelasan mengenai kepemilikan stok, skema pembiayaan penyimpanan, serta regulasi kewenangan aktivasi cadangan darurat menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh negara-negara anggota ASEAN. Pada akhirnya, ketahanan energi kawasan tidak hanya diukur dari besarnya cadangan minyak yang disimpan, melainkan pada kemampuan kolektif untuk memastikan bahwa energi dapat diakses, didistribusikan, dan dikelola secara efisien kapan pun dibutuhkan.