DermayuMagz.com – Gejolak ekonomi global yang dipenuhi ketidakpastian memicu langkah strategis dari berbagai bank sentral di seluruh dunia. Sepanjang kuartal III 2026, lembaga-lembaga moneter ini tercatat melakukan aksi borong emas dengan volume mencapai 321,2 ton, sebuah angka yang merefleksikan peningkatan signifikan sebesar 42 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Data terbaru dari World Gold Council (WGC) yang dirilis pada Sabtu (7/11/2026) menunjukkan bahwa akumulasi ini merupakan volume pembelian kuartalan tertinggi sejak kuartal IV 2024. Langkah masif ini sekaligus mengukuhkan posisi emas sebagai instrumen aset yang krusial dalam struktur cadangan devisa negara di tengah dinamika pasar keuangan internasional yang menantang.

Secara kumulatif, total pembelian emas oleh bank sentral selama periode Januari hingga September 2026 telah mencapai 675 ton. Angka ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6 persen jika dibandingkan dengan volume pembelian pada kurun waktu yang sama di tahun 2025. Tren ini menegaskan bahwa emas masih menjadi primadona bagi bank sentral sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional mereka.

Faktor Pendorong Aksi Koleksi Emas

Laporan dari WGC mengidentifikasi beberapa motivasi utama di balik langkah agresif bank sentral tersebut. Beberapa poin krusial yang mendasari kebijakan ini meliputi:

Emas dianggap memiliki peran strategis yang tak tergantikan dalam pengelolaan aset jangka panjang. Di tengah fluktuasi ekonomi, logam mulia ini memberikan rasa aman bagi bank sentral untuk menyeimbangkan neraca cadangan devisa mereka dari tekanan eksternal.

Proyeksi dan Dinamika Harga

Meskipun permintaan dari sektor bank sentral menunjukkan tren yang kuat, WGC memberikan catatan penting terkait perilaku pasar. Pembelian emas oleh lembaga resmi tetap bersifat sensitif terhadap perubahan harga di pasar global. Hingga saat ini, belum terdapat korelasi yang cukup stabil antara harga emas dengan volume pembelian yang dapat menjamin batas bawah harga (price floor) secara permanen.

Ke depan, WGC memproyeksikan bahwa aktivitas pembelian emas oleh bank sentral sepanjang tahun 2026 kemungkinan besar akan menyamai atau setidaknya mendekati realisasi volume pada tahun 2025. Dengan sisa kuartal yang masih berjalan, sektor bank sentral diprediksi tetap menjadi motor penggerak utama yang menopang permintaan emas di pasar global sepanjang tahun ini.

Para pelaku pasar dan investor kini terus memantau langkah bank sentral sebagai indikator utama arah kebijakan moneter global. Dengan posisi emas yang kembali mendapatkan kepercayaan penuh dari institusi resmi, komoditas ini diperkirakan akan terus menjadi fokus dalam narasi ekonomi internasional hingga akhir tahun 2026.