Bahasan Haji Mabrur, Jemaah Haji Indonesia Hadiri Pengajian Ustadz Ariful Bahri

Berita6 Dilihat

DermayuMagz.com – Masjid Nabawi di Madinah tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga destinasi kajian keagamaan yang menarik bagi para jemaah. Salah satu kajian yang kerap diminati adalah yang dibawakan oleh Ustadz Ariful Bahri.

Ustadz Ariful Bahri, seorang dosen di Universitas Islam Madinah, rutin memberikan kajian di Masjid Nabawi, tepatnya di pintu 19. Kajian ini disampaikan dalam Bahasa Indonesia setiap hari setelah shalat Maghrib hingga menjelang waktu Isya.

Pada musim haji 2026 ini, Ustadz Ariful Bahri secara khusus membahas tema seputar haji mabrur kepada jemaah haji Indonesia yang berada di Madinah. Pembahasan ini disambut antusias oleh para jemaah.

Pantauan langsung di lokasi menunjukkan bahwa area pintu 19 Masjid Nabawi dipadati oleh jemaah haji Indonesia. Mereka berbondong-bondong hadir untuk menyimak penjelasan dari ustadz yang berasal dari Kampar, Riau ini.

Bahkan, sebelum adzan Maghrib berkumandang, sebagian jemaah haji Indonesia sudah bersiap-siap di dekat pintu 19. Mereka berusaha mendapatkan posisi terdepan untuk dapat mendengarkan kajian dengan lebih baik.

Salah seorang jemaah haji asal Tangerang Selatan, Banten, bernama Murtadho, mengungkapkan rasa senangnya bisa mengikuti kajian Ustadz Ariful Bahri. Ia telah mengikuti kajian tersebut selama tiga hari berturut-turut.

“Alhamdulillah, sudah tiga hari ini saya ikut kajian beliau,” ujar Murtadho kepada petugas Media Center Haji di Masjid Nabawi Madinah pada Rabu, 6 Mei 2026.

Pertanda Haji Mabrur

Dalam salah satu kajiannya, Ustadz Ariful Bahri menjelaskan bahwa ciri-ciri atau pertanda haji mabrur tidak dapat diukur saat jemaah masih berada di Madinah maupun Makkah.

Pertanda sebenarnya dari haji mabrur akan terlihat setelah jemaah kembali ke tanah air. Ia menekankan bahwa ujian sesungguhnya datang setelah kepulangan dari tanah suci.

“Sepulangnya ia dari tanah haram, dari melaksanakan ibadah haji, tak sanggup lagi solat berjamaah, itu tanda hajinya tidak mabrur. Berat haji mabrur itu. Haji mabrur itu pertandanya bukan di sini tapi ujian itu ada dikala kita balik. Maka itu baru disebut dengan mabrur,” ungkapnya.

Ustadz Ariful Bahri menambahkan bahwa menjadi mabrur berarti membawa kebaikan dalam kehidupan. Perubahan dari perilaku buruk menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, adalah indikasi dari kemabruran haji.

“Menjadi mabrur artinya adalah mendatangkan kebaikan dalam kehidupan, yang bisa merubah seseorang dari buruk menjadi baik, dari baik menjadi lebih baik baru ktu disebut mabrur,” jelasnya.

Ia kembali menegaskan bahwa pertanda haji mabrur akan terlihat dari konsistensi ibadah setelah kembali ke kampung halaman. Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah apakah masih menjalankan shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan masih bisa menangis karena kebesaran Allah.

“Pertanda haji mabrur itu nanti, sebaliknya kita ke kampung halaman masih solat atau tidak? masih baca Quran atau tidak? masih berzikir atau tidak? masih bisa menangis atau tidak? Itu baru disebut dengan haji mabrur,” ulangnya.

Pada akhir penjelasannya, Ustadz Ariful Bahri mengingatkan bahwa Allah tidak hanya memuji orang yang melaksanakan ibadah haji, tetapi lebih memuji haji yang mabrur. Ia mendoakan agar seluruh jemaah dianugerahi haji dan umrah yang mabrur.

Baca juga: Dinkes Banyuwangi Tingkatkan GERMAS Lewat Gerakan ‘Tandang Bareng’ untuk Kendalikan Hipertensi

“Allah tak memuji orang yang melaksanakan ibadah haji, tapi Allah puji haji yang mabrur dan semoga Allah bagi kita semuanya haji dan umrah yang mabrur,” tandasnya.