Modal 300 Ribu, Bisnis Maminom Snack Rena Berbuah Tanah dan Rumah

News4 Dilihat

DermayuMagz.com – Tangis Rena Regina (35) pecah saat menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan. Ia tak kuasa menahan haru ketika mengenang titik terendahnya hingga kini mampu membangun usaha Maminom Snack hingga meraih kesuksesan.

Rena berhasil mengubah nasibnya dari seorang ibu rumah tangga biasa menjadi pengusaha sukses. Usaha Maminom Snack yang ia rintis dari nol kini telah membawanya pada pencapaian luar biasa, termasuk memiliki rumah dan tanah sendiri, serta mampu menyekolahkan anak-anaknya di pondok pesantren.

Perjalanan ini tentu tidak mudah. Rena harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk keterbatasan modal awal dan tantangan saat pandemi melanda.

Sebelum terjun ke dunia bisnis, Rena adalah seorang ibu rumah tangga yang ingin berkontribusi pada ekonomi keluarga tanpa meninggalkan anak-anaknya. Ia sempat mencoba bekerja freelance di bidang katering, namun pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan prioritasnya untuk mengurus keluarga.

Akhirnya, Rena beralih menjadi pekerja rumah tangga, mencuci dan menyetrika pakaian tetangga selama beberapa bulan. Namun, pekerjaan ini dirasa cukup melelahkan.

“Tapi saya pikir capek juga,” cerita Rena saat berbincang dengan Liputan6.com di tempat usahanya yang berlokasi di kawasan Bojong Gede, Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (14/5/2026).

Dari titik inilah, Rena mulai membulatkan tekad untuk membangun usahanya sendiri. Ia melihat peluang di tengah ramainya camilan mie lidi pada tahun 2018.

Dengan modal awal hanya sekitar Rp 300 ribu, Rena membeli bahan baku mie lidi dari platform online. Ia mengolah sendiri camilan tersebut di rumah dan mulai memasarkannya ke Sukabumi melalui bantuan saudaranya.

Rena menyadari bahwa kawasan Sukabumi sangat potensial karena banyaknya pabrik dan pekerja yang menjadi target pasar camilan terjangkau. Ternyata, usahanya tidak sia-sia. Pesanan mulai berdatangan, awalnya hanya 20 boks, lalu meningkat pesat hingga 200 boks dalam sekali pengiriman ke kawasan Parungkuda, Sukabumi.

“Awalnya cuma mie lidi,” katanya mengenang.

Pasar Maminom Snack kemudian meluas hingga ke Jakarta. Beberapa pelanggan di kawasan Sudirman mulai meminta variasi produk dalam satu kemasan. Tidak hanya mie lidi, tetapi juga makaroni dan basreng yang saat itu tengah populer.

Rena pun mencoba membuat basreng sendiri. Namun, percobaan pertamanya mengalami kegagalan karena teksturnya yang terlalu tebal dan keras.

“Awalnya tebal dan keras,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Dengan kegigihan, Rena terus bereksperimen hingga menemukan metode yang tepat. Ia membekukan bahan basreng di freezer, lalu memotongnya tipis menggunakan cutter agar menghasilkan tekstur yang lebih renyah.

Sejak itu, produk Maminom Snack semakin berkembang. Rena mulai menawarkan kemasan campuran berbagai jenis camilan sesuai permintaan pelanggan. Perlahan, para reseller mulai bermunculan dari berbagai daerah seperti Karadenan hingga Tajurhalang.

“Sekali ambil bisa 100 sampai 200 boks,” katanya bangga.

Di tengah meroketnya penjualan, Rena mengaku pernah menerima cibiran dari orang di sekitarnya. Ada yang menudingnya “nyugih” demi melariskan dagangannya.

Jatuh Bangun Saat Pandemi Covid-19

Pandemi Covid-19 menjadi ujian berat bagi Maminom Snack. Penjualan yang sebelumnya ramai mendadak sepi. Rena dan suaminya harus memutar otak agar produk mereka tetap bisa bertahan di pasar.

Mereka memutuskan untuk mengganti kemasan boks menjadi standing pouch dengan ukuran yang lebih kecil. Harga jual pun ditekan hingga Rp 5 ribu per bungkus agar tetap terjangkau oleh masyarakat di tengah kesulitan ekonomi.

Secara perlahan, usaha Rena mulai bangkit. Sebuah kesempatan emas datang ketika seorang teman yang memiliki jaringan waralaba toko minuman teh kekinian menawarkan bantuan. Temannya meminta Rena untuk mencoba menitipkan produk basreng di tiga toko miliknya.

Awalnya, Rena hanya mengisi sedikit produk di setiap toko. Namun, berkat promosi dari mulut ke mulut, produk Maminom Snack mulai dikenal oleh pemilik toko lain dalam jaringan waralaba tersebut.

“Jadi nyebar sendiri,” ujarnya senang.

Produk basreng ukuran Rp 5 ribu ini mulai merambah ke sekitar 12 toko minuman teh kekinian. Rena menjualnya ke reseller seharga Rp 4 ribu per bungkus, yang kemudian dijual kembali Rp 5 ribu oleh toko.

Dari sinilah, usaha Maminom Snack kembali bergerak setelah terpukul oleh pandemi. Tak lama kemudian, pemilik toko minuman teh kekinian kembali memberikan masukan agar Rena membuat produk camilan lain dengan harga yang tetap ramah di kantong anak sekolah. Rena pun mulai memproduksi berbagai jenis snack campuran dengan harga serupa.

Menurut Rena, strategi harga yang terjangkau menjadi kunci agar produknya dapat masuk ke lebih banyak toko dan diterima oleh pasar.

“Yang penting terjangkau dulu,” katanya.

Di saat yang sama, Rena mulai memahami pentingnya legalitas untuk bisa masuk ke toko yang lebih besar. Ia mengikuti berbagai pelatihan usaha dan mulai mengurus sertifikasi halal hingga hak kekayaan intelektual (HAKI).

“Kalau nggak punya legalitas, toko juga takut masukin produk,” ujarnya menjelaskan.

Langkah ini membuka jalan baru bagi Maminom Snack. Salah satu toko besar pertama yang menerima produk mereka adalah Redbox Cimanggis. Di toko tersebut, penjualan produk Maminom Snack cukup tinggi, dengan omzet mingguan mencapai sekitar Rp 2 juta.

Semangat Rena kembali tumbuh. Ia mulai merencanakan bagaimana agar produknya bisa masuk ke lebih banyak toko modern dan pusat frozen food.

Berkat KUR BRI, Bisa Beli Rumah dan Tanah

Ketika usahanya mulai berkembang pesat pasca-pandemi, Rena berkenalan dengan layanan KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari BRI. Pinjaman pertama yang ia dapatkan adalah sebesar Rp 50 juta.

Dana tersebut tidak langsung digunakan untuk memperbesar produksi, melainkan untuk memenuhi kebutuhan dasar produksi yang sebelumnya sangat terbatas. Saat itu, mereka bahkan belum memiliki freezer tambahan, kompor yang memadai, maupun peralatan produksi lainnya. Di rumah, mereka hanya memiliki satu tabung gas untuk memasak seluruh pesanan camilan.

Melalui dana KUR, mereka mulai membeli freezer, menambah jumlah kompor, hingga beberapa mesin pendukung produksi.

“Jadi buat alat-alat kebutuhan usaha dulu,” ujarnya.

Setelah usahanya semakin berkembang dengan bantuan KUR, Rena dan suaminya kembali mengajukan pinjaman lanjutan melalui program Kupra BRI. Kali ini, mereka mendapatkan tambahan modal sebesar Rp 70 juta.

Baca juga : Desain Rumah Sederhana Tropis Skandinavia Terbaru yang Estetik dan Nyaman

Beberapa waktu kemudian, pinjaman kembali ditambah melalui top up hingga mencapai total sekitar Rp 90 juta.

Tambahan modal dari BRI memberikan perubahan yang signifikan. Sebelum mendapatkan tambahan modal, stok barang mereka sangat terbatas. Belanja bahan baku hanya dilakukan satu hingga dua bal di pasar.

Setelah memiliki freezer dan modal tambahan, mereka mulai bisa membeli bahan baku dalam jumlah yang lebih besar dan bekerja sama langsung dengan pabrik.

“Sekarang sudah bisa langsung dikirim dari pabrik,” ujarnya lega.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan produksi dua freezer miliknya, Rena mengaku bisa menerima kiriman hingga sekitar 30 bal bahan baku sekaligus.

Perubahan ini turut memperluas jangkauan pasar usahanya. Produk camilan Maminom Snack kini sudah masuk ke lebih banyak toko di Bogor, Bekasi, hingga Sukabumi. Rena bahkan memiliki rencana untuk memperluas pemasaran ke Tangerang.

Sebelum mendapatkan tambahan modal usaha, omzet harian Rena hanya berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu. Artinya, dalam sebulan, omzetnya hanya mencapai sekitar Rp 9 juta.

“Awal-awal paling segitu,” katanya.

Namun, setelah usaha berkembang dan distribusi produk semakin luas, omzet Maminom Snack meningkat pesat. Kini, omzet bulanan bisa mencapai sekitar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per bulan.

Menurut Rena, salah satu produk yang sangat membantu peningkatan penjualan adalah basreng berbentuk koin yang mulai diproduksi setelah mendapatkan tambahan modal usaha.

Dari hasil usahanya tersebut, Rena dan keluarganya kini telah mampu memiliki rumah, tanah di kampung halaman di Bogor, hingga menyekolahkan anak-anak mereka ke pondok pesantren.

Asal Usul Nama Maminom Snack

Nama brand Maminom Snack tidak muncul begitu saja. Rena menceritakan bahwa nama tersebut terinspirasi dari anak keduanya yang bernama Naura.

Saat sekolah di Bimba, Naura belum bisa mengucapkan namanya sendiri dengan jelas. Yang keluar dari mulutnya adalah panggilan “Nounou” dan “Nomnom”. Teman-temannya di sekolah kemudian akrab memanggilnya Nomnom.

Lama-kelamaan, panggilan itu melekat pada Naura. Dari sinilah muncul ide Rena untuk menjadikannya sebagai nama brand usahanya.

“Yaudah, pakai Nomnom aja,” pikir Rena saat itu.

Seorang teman yang memiliki keahlian desain kemudian membantu Rena membuat logo. Konsepnya dibuat bergaya kartun Jepang, dan hasilnya sangat cocok sehingga langsung digunakan oleh Rena.

Nama Nomnom mulai dikenal banyak orang. Brand ini perlahan berkembang dan semakin sering disebut oleh para pelanggan. Namun, saat hendak didaftarkan ke HAKI, muncul kendala. Nama Nomnom ternyata sudah dipakai oleh pihak lain, sehingga tidak dapat didaftarkan.

Rena sempat bingung mencari jalan keluar. Di satu sisi, nama Nomnom sudah terlanjur melekat di benak pelanggan. Hingga akhirnya, ada saran untuk menambahkan unsur lain agar tetap membawa identitas lama.

“Yaudah, pakai Maminom aja. Maksudnya makanan minuman. Kalau nanti suatu saat jual minuman juga masih nyambung,” kata Rena meniru saran yang diterimanya saat itu.

Akhirnya, nama Maminom dipilih. Kata “nom” tetap dipertahankan karena sudah akrab di telinga pelanggan. Meskipun demikian, ada cerita lucu yang sering terjadi setelah brand ini dikenal. Banyak reseller yang salah paham dan mengira “Maminom” adalah nama panggilan Rena. Ia pun kerap dipanggil “Mami”.

“Padahal mamin itu singkatan, bukan nama aku,” ujarnya sambil tertawa.

Kredit UMKM BRI Tembus Rp 1.211 Triliun

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa penyaluran kredit dan pembiayaan BRI terus tumbuh solid pada awal 2026. Hingga akhir Triwulan I 2026, total kredit dan pembiayaan BRI tercatat mencapai Rp 1.562 triliun, tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI pada Kamis (30/4/2026), Hery menegaskan bahwa segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi tulang punggung utama pembiayaan perseroan.

“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery.

Menurutnya, BRI terus memperkuat perannya sebagai penyalur utama KUR di Indonesia, sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.

Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sektor pertanian menjadi penerima pembiayaan terbesar dengan nilai mencapai Rp 19,86 triliun atau sekitar 42,16 persen dari total penyaluran.

Hery menambahkan bahwa penyaluran pembiayaan ini tidak hanya mencerminkan luasnya jangkauan layanan BRI, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan usaha produktif di berbagai daerah.

“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” katanya.

Selain pembiayaan, BRI juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan bagi pelaku UMKM. Program-program ini dirancang untuk membantu meningkatkan kapasitas usaha masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai daerah.