DermayuMagz.com – Di jantung Jakarta Selatan, kawasan Blok M terus memancarkan pesonanya, bertransformasi dari pusat kebudayaan anak muda era 80-an menjadi destinasi ‘kalcer’ yang digandrungi generasi kini.
Sore hari di Blok M selalu diwarnai hiruk pikuk aktivitas. Dari Stasiun MRT Blok M, aliran manusia terlihat tak henti-hentinya mengalir.
Para pemuda-pemudi dengan gaya busana beragam, dari kasual hingga nyentrik, melangkah cepat menyusuri trotoar. Mereka kemudian berpencar menuju tujuan masing-masing, seperti Little Tokyo, Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Blok M Square, M Bloc Space, Blok M Plaza, dan Pasaraya.
Suara deru MRT yang melintas sesekali terdengar, namun seolah tak mengganggu suasana. Setiap orang tampak larut dalam kegiatan mereka.
Kawasan Blok M sendiri telah lama dikenal sebagai simbol kejayaan anak muda Jakarta pada era 80-an dan 90-an. Meskipun waktu terus bergulir, pesona Blok M tak lekang oleh zaman.
Kini, Blok M menjelma menjadi tempat ‘kalcer’ yang identik dengan anak muda Jakarta.
Mayoritas pengunjung muda menghabiskan waktu dengan berkumpul di berbagai coffee shop. Mereka memesan minuman dan makanan ringan sambil bercengkrama dengan teman.
Sebagian lainnya memilih tempat yang lebih tenang untuk berbincang di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.
Di sana, mereka duduk di tepi taman, membaca buku, atau sekadar menikmati suasana sambil menikmati pergantian waktu.
Alifia (29), seorang warga Jakarta Timur, mengaku rutin mengunjungi Blok M. Ia kerap bertemu teman-temannya di area sekitar Blok M setelah turun dari MRT.
Menurutnya, ada daya tarik khusus yang membuat Blok M terasa lebih “mengundang” dibanding tempat nongkrong lainnya di Jakarta Selatan.
“Blok M menurutku punya daya tarik yang lebih luas. Secara lokasi strategis, ada mal, coffee shop, kuliner yang beragam, ada Taman Literasi juga yang kadang jadi tempat konser gratis,” ungkap Alifia kepada Liputan6.com.
Bagi Alifia, Blok M menawarkan pengalaman yang tidak selalu berkaitan dengan gaya hidup mahal. Pengunjung dapat datang dengan berbagai tujuan dan anggaran.
Ada yang duduk santai di taman tanpa biaya, ada pula yang mencari kopi dengan suasana estetik, atau sekadar berjalan kaki menikmati atmosfer kawasan tersebut.
“Akses transportasi juga gampang, dan secara budget masih masuk buat anak muda ataupun keluarga,” tambahnya.
Pernita (30), warga Jakarta Pusat, memiliki cerita serupa. Awalnya ia datang karena penasaran melihat Blok M yang sering muncul di media sosial dan menjadi topik pembicaraan teman-temannya.
Rasa penasaran tersebut kemudian berkembang menjadi kebiasaan.
Kini, ia menyempatkan diri untuk datang ke kawasan itu setidaknya dua minggu sekali.
Menurut Pernita, Blok M menawarkan suasana yang lebih santai dibandingkan kawasan elite lainnya di Jakarta. Pengunjung tidak merasa terbebani untuk tampil terlalu formal atau mengeluarkan banyak uang.
“Kalau di Blok M ramai, banyak pilihan dan harganya lebih terjangkau dibanding SCBD dan lainnya,” tuturnya.
Di satu sisi jalan, pengunjung dapat menemukan jajanan kaki lima yang selalu ramai pembeli.
Baca juga : 10 Inspirasi Desain Rumah Desa Bergaya Korean House yang Nyaman untuk Lansia
Di sisi lain, berdiri coffee shop modern dengan desain minimalis yang dipenuhi oleh anak muda.
Keberadaan toko musik lawas, photobooth, hingga lorong-lorong kecil bernuansa Jepang turut memperkaya wajah Blok M saat ini.
“Karena banyak pilihan makanan, pengen coba makanan viral, ada coffee shop sampai tempat photobooth, jadi banyak pilihan untuk main di sana,” jelas Pernita.
Pengamat tata kota, Nirwono Joga, menilai kebangkitan Blok M bukanlah sebuah kebetulan. Ia berpendapat bahwa kawasan ini berhasil beradaptasi dengan perubahan gaya hidup urban dan kebutuhan ruang publik masyarakat perkotaan.
“Kawasan Blok M telah menjadi ruang publik yang mudah dicapai transportasi umum dan relatif murah harga makanannya,” ujar Nirwono.
Ia melihat karakter Blok M saat ini berbeda jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu. Dulu identik sebagai pusat perbelanjaan dan tempat nongkrong generasi tertentu, kini kawasan tersebut berkembang menjadi ruang subkultur baru.
Ruang subkultur ini dibentuk oleh budaya digital dan tren viral yang terus berkembang.
Kehadiran MRT Jakarta dan perluasan rute Transjabodetabek menjadi faktor penting yang menghidupkan kembali kawasan ini.
Kemudahan akses membuat Blok M tidak lagi terasa eksklusif bagi warga Jakarta Selatan saja.
Pengunjung dari wilayah Jakarta Timur, Depok, Tangerang, hingga Bekasi kini dapat datang dan pulang dengan lebih mudah.
Di tengah menjamurnya pusat komersial modern di Jakarta, Blok M justru menemukan kekuatannya melalui hal-hal yang sederhana.
Hal tersebut meliputi trotoar yang ramai, ruang publik terbuka, dan keramaian yang terasa dekat dengan keseharian warga kota.
Pengunjung datang bukan hanya untuk makan atau berbelanja.
Mereka datang untuk merasakan atmosfer dan suasana yang ditawarkan.
Ketika malam semakin larut, keramaian di Blok M belum juga mereda.
Di bawah sorotan lampu jalan dan papan-papan neon toko, kawasan ini terus bergerak.
Hal ini seolah menegaskan bahwa Blok M bukan sekadar tempat nongkrong yang sedang viral.
Melainkan, Blok M adalah wajah baru kehidupan urban Jakarta yang kembali menemukan denyutnya.





