DermayuMagz.com – Tangis Rena Regina (35) pecah saat menceritakan keberhasilannya membangun usaha Maminom Snack. Ia tak menyangka kini telah memiliki rumah, tanah, dan mampu menyekolahkan anak-anaknya ke pondok pesantren.
Perjalanan Rena membangun Maminom Snack, usaha camilan rumahan yang menjual berbagai makanan ringan seperti mie lidi dan basreng, dimulai dari keterbatasan.
Sebelum memiliki usaha sendiri, Rena adalah seorang ibu rumah tangga yang kebingungan mencari pekerjaan tanpa harus meninggalkan anak-anaknya.
Ia sempat bekerja freelance di jasa katering bersama temannya, namun pekerjaan tersebut tidak bertahan lama karena tidak sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Akhirnya, Rena memilih mencari pekerjaan yang lebih dekat dengan rumah.
Ia sempat menerima pekerjaan mencuci dan menyetrika pakaian milik tetangga selama beberapa bulan.
“Tapi saya pikir capek juga,” cerita Rena saat berbincang dengan Liputan6.com.
Dari situlah, Rena mulai berpikir untuk mencoba usaha sendiri.
Saat camilan mie lidi sedang ramai diminati pada tahun 2018, Rena memutuskan untuk mencoba membuatnya.
Modal awal yang ia keluarkan hanya sekitar Rp 300 ribu untuk membeli bahan baku dari Shopee.
Ia menggoreng sendiri camilan itu di rumah, lalu mencoba memasarkannya ke Sukabumi melalui bantuan saudara.
Rena melihat kawasan Sukabumi sebagai pasar yang potensial karena banyaknya pabrik dan pekerja yang menjadi target pasar camilan murah.
Dari sana, pesanan mulai berdatangan, awalnya hanya sekitar 20 boks, lalu meningkat menjadi 50, 100, hingga 200 boks sekali kirim.
“Awalnya cuma mie lidi,” katanya.
Pasarnya kemudian meluas hingga ke Jakarta.
Beberapa pelanggan di kawasan Sudirman meminta variasi isi dalam satu kemasan, tidak hanya mie lidi, tetapi juga makaroni dan basreng yang saat itu sedang populer.
Rena pun mulai mencoba membuat basreng sendiri.
Namun, percobaan awalnya beberapa kali gagal.
“Awalnya tebal dan keras,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Ia terus mencoba berbagai cara hingga akhirnya menemukan metode yang lebih pas.
Bahan basreng dibekukan terlebih dahulu di freezer, lalu dipotong tipis menggunakan cutter agar hasilnya lebih renyah.
Sejak saat itu, produk buatannya mulai berkembang.
Dalam satu kemasan, Rena mencampur berbagai jenis camilan sesuai permintaan pelanggan.
Perlahan, reseller mulai bermunculan dari berbagai daerah.
“Sekali ambil bisa 100 sampai 200 boks,” katanya.
Saat usahanya mulai menanjak, Rena mengaku pernah mendapat cibiran dari orang sekitar.
Ada yang bahkan menudingnya “nyugih” sehingga penjualan camilannya semakin ramai.
Jatuh Bangun Saat Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 sempat membuat usaha Rena jatuh cukup dalam.
Penjualan yang biasanya ramai, mendadak sepi.
Rena dan suaminya pun mulai memutar otak agar produk mereka tetap terjual.
Kemasan boks diganti menjadi standing pouch dengan ukuran lebih kecil.
Harga jualnya pun ditekan hingga Rp 5 ribu per bungkus agar tetap bisa dibeli masyarakat.
Usaha Rena perlahan bangkit.
Suatu hari, teman Rena yang memiliki jaringan waralaba toko minuman teh kekinian menawarkan bantuan.
Temannya meminta Rena mencoba menitipkan produk basreng di tiga toko miliknya.
Awalnya Rena hanya mengisi sedikit produk di tiap toko.
Namun, dari mulut ke mulut, produk itu mulai dikenal pemilik toko lainnya yang berada dalam jaringan waralaba tersebut.
“Jadi nyebar sendiri,” ujarnya.
Perlahan produk basreng ukuran Rp 5 ribu buatannya mulai masuk ke sekitar 12 toko minuman teh kekinian.
Rena menjual produk itu ke reseller sekitar Rp 4 ribu per bungkus, lalu dijual kembali Rp 5 ribu oleh toko.
Dari sana, usahanya mulai kembali bergerak setelah sempat terpukul pandemi.
Tak lama kemudian, pemilik toko minuman teh kekinian itu kembali memberi masukan agar Rena membuat produk camilan lain dengan harga yang tetap ramah untuk anak sekolah.
Rena pun mulai memproduksi berbagai snack campuran dengan harga serupa.
Menurutnya, strategi harga murah menjadi salah satu cara agar produknya bisa masuk ke lebih banyak toko dan diterima pasar.
“Yang penting terjangkau dulu,” katanya.
Di saat yang sama, Rena mulai memahami bahwa untuk masuk ke toko yang lebih besar, produknya harus memiliki legalitas yang lengkap.
Ia kemudian mengikuti berbagai pelatihan usaha dan mulai mengurus sertifikasi halal hingga hak kekayaan intelektual (HAKI).
“Kalau nggak punya legalitas, toko juga takut masukin produk,” ujarnya.
Langkah itu membuka jalan baru.
Salah satu toko besar pertama yang menerima produknya adalah Redbox Cimanggis.
Di toko itu, penjualan produknya cukup tinggi hingga omzet mingguan mencapai sekitar Rp 2 juta.
Saat itu, semangat Rena kembali tumbuh.
Ia mulai berpikir bagaimana caranya agar produknya bisa masuk ke lebih banyak toko modern dan pusat frozen food.
Berkat KUR BRI, Bisa Beli Rumah dan Tanah
Saat usahanya mulai berkembang setelah pandemi, Rena berkenalan dengan layanan KUR (Kredit Usaha Rakyat) BRI.
Pinjaman pertama yang ia dapatkan sebesar Rp 50 juta.
Dana tersebut tidak langsung dipakai untuk memperbesar produksi.
Rena menggunakannya lebih dulu untuk memenuhi kebutuhan dasar produksi yang sebelumnya serba terbatas.
Saat itu mereka bahkan belum memiliki freezer tambahan, kompor memadai, maupun peralatan produksi lainnya.
Di rumah, mereka hanya memiliki satu tabung gas untuk memasak seluruh pesanan camilan.
Dari dana KUR itu, mereka mulai membeli freezer, menambah kompor, hingga beberapa mesin pendukung produksi.
“Jadi buat alat-alat kebutuhan usaha dulu,” ujarnya.
Setelah usaha mereka berkembang dengan bantuan KUR, Rena dan suaminya kembali mengajukan pinjaman lanjutan melalui program Kupra BRI.
Saat itu mereka mendapatkan tambahan modal sekitar Rp 70 juta.
Beberapa waktu kemudian, pinjaman kembali ditambah melalui top up hingga mencapai sekitar Rp 90 juta.
Baca juga : Kucing Pembawa Rejeki: 10 Jenis yang Dipercaya Memberikan Keberuntungan
Tambahan modal dari BRI memberi perubahan cukup besar.
Sebelum mendapat tambahan modal, stok barang mereka masih sangat terbatas.
Belanja bahan baku hanya satu hingga dua bal di pasar.
Setelah memiliki freezer dan modal tambahan, mereka mulai bisa membeli bahan baku dalam jumlah lebih besar dan bekerja sama langsung dengan pabrik.
“Sekarang sudah bisa langsung dikirim dari pabrik,” ujarnya.
Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan produksi dua freezer miliknya, Rena mengaku bisa menerima kiriman hingga sekitar 30 bal bahan baku sekaligus.
Perubahan itu ikut memperluas pasar usahanya.
Produk camilan mereka mulai masuk ke lebih banyak toko di Bogor, Bekasi, hingga Sukabumi.
Rena bahkan mulai memiliki rencana memperluas pemasaran ke Tangerang.
Sebelum mendapat tambahan modal usaha, omzet harian Rena hanya sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per hari.
Artinya, dalam 30 hari hanya sekitar Rp 9 juta.
“Awal-awal paling segitu,” katanya.
Namun setelah usaha berkembang dan distribusi produk semakin luas, omzet meningkat.
Kini, omzet bulanan bisa mencapai sekitar Rp 30 juta hingga Rp 35 juta per bulan.
Menurut Rena, salah satu produk yang cukup membantu peningkatan penjualan adalah basreng berbentuk koin yang mulai diproduksi setelah mendapat tambahan modal usaha.
Dari hasil usaha tersebut, Rena dan keluarganya kini bisa memiliki rumah, tanah di kampung halaman di Bogor, hingga menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren.
Asal Usul Nama Maminom Snack
Nama brand Maminom Snack tidak muncul begitu saja.
Rena menceritakan, nama itu datang dari anak keduanya bernama Naura.
Saat sekolah di Bimba, Naura belum bisa mengucapkan namanya sendiri dengan jelas.
Yang keluar justru “Nounou” dan “Nomnom”.
Teman-teman di sekolah kemudian memanggilnya Nomnom.
Lama-lama panggilan itu melekat pada Naura.
Dari situlah ide menjadikannya sebagai nama brand muncul.
“Yaudah, pakai Nomnom aja,” pikir Rena saat itu.
Seorang teman yang bisa desain kemudian membantu Rena membuat logo.
Konsepnya dibuat bergaya kartun Jepang.
Hasilnya cocok dan langsung dipakai Rena.
Nama Nomnom pun mulai dikenal banyak orang.
Brand itu perlahan berkembang dan makin sering disebut pelanggan.
Namun saat hendak didaftarkan ke HAKI, muncul kendala.
Nama Nomnom ternyata sudah dipakai pihak lain sehingga tidak bisa didaftarkan.
Rena sempat bingung mencari jalan keluar.
Di satu sisi, nama Nomnom sudah terlanjur melekat.
Sampai akhirnya ada saran untuk menambahkan unsur lain agar tetap membawa identitas lama.
“Yaudah, pakai Maminom aja. Maksudnya makanan minuman. Kalau nanti suatu saat jual minuman juga masih nyambung,” kata Rena meniru saran yang diterima waktu itu.
Akhirnya dipilihlah nama Maminom.
Kata “nom” tetap dipertahankan karena sudah akrab di telinga pelanggan.
Meski begitu, ada cerita lucu yang sering terjadi setelah brand itu dikenal.
Banyak reseller yang salah paham dan mengira “Maminom” adalah nama panggilan Rena.
Ia jadi sering dipanggil “Mami”.
“Padahal mamin itu singkatan, bukan nama aku,” ujarnya sambil tertawa.
Kredit UMKM BRI Tembus Rp 1.211 Triliun
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi mengatakan, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI tetap tumbuh solid pada awal 2026.
Hingga akhir Triwulan I 2026, total kredit dan pembiayaan BRI tercatat mencapai Rp 1.562 triliun atau tumbuh 13,7 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Dalam Press Conference Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026), Hery menegaskan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi tulang punggung utama pembiayaan perseroan.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp 1.211 triliun,” ujar Hery.
Menurut dia, BRI juga terus memperkuat perannya sebagai penyalur utama KUR di Indonesia sejalan dengan program pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah di seluruh Indonesia.
Dari jumlah tersebut, sektor pertanian menjadi penerima pembiayaan terbesar dengan nilai mencapai Rp 19,86 triliun atau sekitar 42,16 persen dari total penyaluran.
Hery mengatakan penyaluran pembiayaan tersebut tidak hanya mencerminkan luasnya jangkauan layanan BRI, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan usaha produktif di berbagai daerah.
“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” katanya.
Selain pembiayaan, BRI juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan untuk pelaku UMKM.
Program tersebut dirancang untuk membantu meningkatkan kapasitas usaha masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan di berbagai daerah.






