Ojol di Mal

News7 Dilihat

DermayuMagz.com – Keberadaan pengemudi ojek online (ojol) kini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan perkotaan, terutama dalam mobilitas pengantaran makanan dari berbagai pusat perbelanjaan di Jakarta.

Namun, tidak semua mal di ibu kota memberikan kenyamanan yang sama bagi para pengemudi ojol. Beberapa pusat perbelanjaan telah menjadi favorit karena fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan, sementara yang lain justru menyulitkan.

Pengemudi ojol kerap menolak pesanan jika lokasi mal tujuan dinilai menyulitkan aktivitas mereka. Hal ini dikarenakan adanya berbagai faktor yang membuat mereka enggan atau bahkan memilih untuk tidak mengambil pesanan dari mal tertentu.

Dalam survei yang dilakukan, ditemukan bahwa beberapa mal di Jakarta memiliki predikat ‘ramah ojol’. Predikat ini bukan diberikan secara resmi, melainkan berdasarkan penilaian para pengemudi ojol itu sendiri.

Faktor utama yang mempengaruhi penilaian ini adalah ketersediaan area parkir khusus, kemudahan akses keluar masuk, dan perlakuan dari petugas keamanan.

Salah satu mal yang paling sering disebut sebagai mal ramah ojol adalah Cilandak Town Square (Citos). Subur (40), seorang pengemudi ojol, mengaku hampir setiap hari ia melayani pesanan dari Citos.

Ia bisa keluar masuk mal tersebut hingga lima kali dalam sehari. Baginya, Citos menawarkan kemudahan yang sangat berarti.

“Untuk Citos disediakan buat ojol parkiran, untuk restonya juga enak-enak sih,” ujar Subur sambil tersenyum, merujuk pada area parkir khusus yang disediakan untuk pengemudi ojol dan banyaknya pilihan restoran.

Bagi Subur dan rekan-rekannya, fasilitas parkir yang aman dan gratis merupakan nilai tambah yang sangat besar. Hal ini membuat mereka tidak perlu lagi repot mencari tempat parkir di pinggir jalan yang berisiko.

Selain Citos, Pondok Indah Mall (PIM) juga masuk dalam daftar mal yang dianggap nyaman oleh pengemudi ojol. Rizki (42), pengemudi ojol lainnya, sering menerima pesanan dari PIM 1.

Meskipun ia harus berjalan cukup jauh dari area parkir ojol yang terletak di ujung mal, Rizki tetap merasa lebih baik daripada harus parkir sembarangan.

“Memang yang jadi kendala jaraknya saja sih, jauh,” akuinya, namun ia menekankan bahwa keamanan kendaraan dan tidak adanya biaya parkir menjadi prioritas utamanya.

Kehadiran petugas keamanan yang berjaga di area parkir ojol juga memberikan rasa aman tambahan bagi para pengemudi.

Baca juga : Sindikat Mafia Tambang Diduga Sekap dan Siksa WNI di Malaysia

Kondisi ini sangat kontras dengan beberapa mal di Jakarta Pusat dan Jakarta Utara yang belum menyediakan fasilitas serupa. Hal ini seringkali menimbulkan gesekan antara pengemudi ojol dan petugas keamanan.

Di sekitar PIM 2, terlihat beberapa pengemudi ojol sedang menunggu pesanan sambil duduk santai. Salah satunya adalah Jaelani (44).

Jaelani mengaku betah mangkal di kawasan PIM karena merasa lebih tenang dan nyaman saat bekerja. Ia menyebut kawasan tersebut sebagai titik penjemputan atau penurunan penumpang yang strategis.

Menurutnya, petugas keamanan di sekitar PIM cenderung lebih ramah dan bahkan membantu mengatur titik penjemputan agar tidak mengganggu lalu lintas.

Pengalaman ini sangat berbeda dengan yang pernah ia alami di kawasan Senayan dan SCBD, di mana ia beberapa kali terlibat perselisihan dengan petugas keamanan.

Oleh karena itu, Jaelani kini lebih memilih mencari pesanan di kawasan Jakarta Selatan, termasuk di sekitar PIM, karena dinilai lebih ramai atau “gacor” sesuai istilah para pengemudi.

Meskipun demikian, Jaelani berharap ada pengembangan fasilitas di masa mendatang. Ia menginginkan adanya tempat berteduh atau bahkan colokan listrik gratis untuk mengisi daya ponsel.

“Ya misalnya kayak charger HP, atau ada tempat berteduh gitu nantinya,” harapnya.

Para pengemudi ojol pada dasarnya tidak menuntut banyak. Bagi mereka, fasilitas sederhana seperti tempat parkir yang aman dan perlakuan yang ramah dari pengelola mal sudah sangat berarti.

Keramahan sebuah mal bagi pengemudi ojol bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga tentang bagaimana mereka diberi ruang untuk menjalankan profesinya tanpa merasa terganggu atau dianggap sebagai masalah.

Kenyamanan ini secara tidak langsung juga berkontribusi pada efisiensi layanan pengantaran makanan, memastikan pesanan sampai ke tangan pelanggan dengan lebih cepat dan optimal.