DermayuMagz.com – Di tengah ketidakpastian global akibat tekanan geopolitik dan geoekonomi, Pemerintah Indonesia bersama PT Pertamina (Persero) memperkuat sinergi untuk menjaga ketahanan energi nasional. Situasi global yang dinamis ini mengharuskan Indonesia untuk lebih waspada dan proaktif dalam mengamankan pasokan energi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyoroti bahwa tensi politik dan ekonomi dunia saat ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung dalam konflik, tetapi juga meluas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Namun, Bahlil mengungkapkan rasa syukurnya atas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026, meskipun dalam kondisi global yang menantang. Hal ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional yang cukup baik.
Dalam menghadapi situasi global yang serba tidak pasti, negara-negara cenderung memprioritaskan kepentingan nasionalnya masing-masing. Hal ini berlaku baik bagi negara produsen maupun konsumen energi.
Oleh karena itu, Indonesia perlu bergerak cepat untuk mencari dan mengembangkan alternatif energi. Fokus ini penting agar tidak terus bergantung pada bahan bakar fosil, terutama mengingat target produksi minyak dan gas (migas) nasional yang belum sepenuhnya tercapai.
“Namun kami bersyukur bahwa dalam kondisi seperti ini, atas arahan Presiden, harus segera mencari alternatif-alternatif energi lain yang tidak hanya mengedepankan BBM yang bersumber dari fosil. Ketika lifting kita tidak tercapai, maka harus ada cara lain yang kita harus lakukan,” jelas Bahlil pada acara IPA Convex ke-50 di ICE BSD City, 20-22 Mei 2026.
Pertamina pun menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan energi nasional. Perusahaan energi pelat merah ini mengakui bahwa era energi mudah atau easy energy telah berakhir.
Peningkatan tensi geopolitik dan gangguan pada rantai pasok global menjadi faktor-faktor yang semakin kompleks dalam industri energi saat ini. Situasi ini menuntut strategi yang lebih matang dan kolaboratif.
Baca juga : Strategi Pertamina untuk Ketahanan Energi Nasional di Mata Mahasiswa
Meskipun demikian, Pertamina tetap memandang peluang besar di sektor energi Indonesia. Penguatan kolaborasi strategis, percepatan adopsi teknologi, dan peningkatan produksi energi domestik menjadi tiga pilar utama untuk menjaga kesinambungan pasokan energi.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyampaikan bahwa Indonesia masih memiliki potensi besar bagi para investor dan pelaku industri energi. Peluang ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan lebih lanjut.
“Pada dasarnya, memang era easy energy sudah berlalu. Namun jika kita melihat lebih jauh, khususnya di Indonesia, kita masih memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, praktisi industri energi, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” ujar Oki.
Dalam sesi Global Executive Talk, Oki menyoroti potensi gangguan pasokan energi global akibat ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Hal ini dapat memicu volatilitas harga dan stabilitas pasokan global.
Peran Pertamina dinilai sangat strategis dalam memastikan energi tetap tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan di seluruh penjuru Indonesia. Strategi yang dijalankan tidak hanya terbatas pada diversifikasi impor dan pengelolaan pasokan jangka pendek.
Peningkatan produksi migas di dalam negeri juga menjadi prioritas utama. Hal ini menjadi langkah krusial untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri.
“Hal pertama yang kami lakukan adalah meningkatkan dan memaksimalkan produksi domestik minyak dan gas,” tegas Oki.
Selain penguatan produksi nasional, kolaborasi dianggap sebagai kunci penting dalam menghadapi kompleksitas industri energi saat ini. Kemitraan memungkinkan perusahaan untuk berbagi keahlian dan pengetahuan, sehingga dapat menekan risiko bisnis.
Pertamina sendiri telah menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah perusahaan energi terkemuka di tingkat global. Kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat posisi Pertamina dan berkontribusi pada ketahanan energi nasional.
“Kami membutuhkan partnership. Kami memiliki banyak perusahaan mitra yang sangat andal,” tambah Oki.
Koordinasi yang erat dengan pemerintah juga menjadi elemen penting dalam menjaga keberlanjutan investasi di sektor energi. Dukungan pemerintah, seperti perpanjangan kontrak, penyesuaian skema bagi hasil, dan pemberian insentif fiskal, sangat dibutuhkan mengingat tingkat pengembalian investasi yang terkadang terbatas.
Pemanfaatan teknologi juga semakin menjadi krusial. Penerapan teknologi canggih dapat meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi risiko. Perusahaan energi global kini banyak mengandalkan supercomputer dan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung eksplorasi dan pengambilan keputusan yang lebih akurat.
Indonesia dinilai masih memiliki peluang besar dalam pengembangan sektor energi, termasuk migas nonkonvensional dan enhanced oil recovery (EOR). Untuk memaksimalkan potensi ini, Pertamina mendorong pengembangan teknologi produksi dan optimalisasi lapangan eksisting.
Pendekatan seperti chemical enhanced oil recovery dan optimalisasi sumur produksi menjadi bagian dari upaya tersebut. Dengan demikian, Indonesia dapat terus berupaya menjaga ketahanan energinya di tengah tantangan global.
“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, engineer, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” pungkas Oki.






