Orang Kaya India Meningkatkan Donasi untuk Sains

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Sebuah pergeseran paradigma filantropi tengah terjadi di kalangan orang kaya India. Jika sebelumnya perhatian utama tercurah pada donasi untuk institusi keagamaan seperti kuil dan organisasi religius, kini tren baru menunjukkan meningkatnya minat pada pendanaan ilmu pengetahuan dan pengembangan institusi sains.

Fenomena ini disorot oleh berbagai tokoh terkemuka. Salah satunya adalah fisikawan India-Amerika peraih Wolf Prize 2025, Jainendra Jain. Ia menceritakan pengalamannya menerima panggilan mengejutkan dari seorang konglomerat properti India, Abhishek Lodha, pemilik Lodha Group. Lodha, yang dikenal dengan proyek-proyek prestisius seperti Trump Tower, mengundang Jain untuk menjadi direktur pendiri sebuah lembaga fisika teoritis baru.

Jain mengungkapkan keterkejutannya atas ketertarikan mendadak seorang pengembang properti terhadap sains fundamental. Ia menganggap hal ini sebagai sebuah anomali jika dibandingkan dengan kebiasaan filantropi di Amerika Serikat yang lebih umum. “Saya terkejut seseorang yang membangun gedung pencakar langit bisa tiba-tiba tertarik untuk investasi dalam sains fundamental. Hal ini wajar bagi orang-orang kaya di AS, tapi lain halnya di India,” ujar Jain kepada BBC pada akhir Mei, bertepatan dengan peluncuran Lodha Theoretical Physics Institute.

Pergeseran ini tidak hanya berhenti pada satu kasus. Beberapa minggu setelahnya, Rajiv Bajaj, pewaris salah satu dinasti bisnis tertua di India, meluncurkan program beasiswa terbesar yang dikhususkan bagi perempuan di bidang teknik inti. Program ini menawarkan biaya pendidikan hingga 800 ribu rupee (sekitar Rp 151,8 juta) di universitas pilihan.

Para ahli melihat tren ini sebagai cerminan kesadaran yang tumbuh di kalangan elit India. Mereka mulai menyadari bahwa kemajuan sains dan daya saing nasional dalam jangka panjang saling berkaitan erat. Pergeseran ini menandai evolusi dalam cara pandang filantropi di India, bergerak dari sumbangan untuk kebutuhan spiritual ke investasi pada kemajuan intelektual dan teknologi.

Pergeseran Teologi ke Sains

Secara historis, India dikenal sebagai negara yang memprioritaskan ilmu teologi. Data menunjukkan bahwa hampir separuh dari total donasi filantropi disalurkan kepada kuil dan organisasi keagamaan. Oleh karena itu, komitmen baru yang mengarah pada perkembangan sains dan pembangunan institusi ilmiah menjadi sebuah titik balik yang signifikan.

“Tidak ada negara hebat yang bertahan tanpa dasar sains mendalam. Kami percaya India menciptakan pemikir-pemikir hebat. Jadi, letak kekurangan bukanlah pada bakat, melainkan infrastruktur,” ujar Abhishek Lodha. Pernyataannya menekankan pentingnya penyediaan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung potensi ilmiah yang ada.

Neera Nundy, co-founder Dasra, sebuah organisasi yang berfokus pada strategi filantropi, mengidentifikasi dua kelompok utama yang mendorong tren ini: “Inter-Gen” (keluarga tradisional dengan generasi filantropis terkini) dan “Now-Gen” (pencipta kekayaan baru). Kelompok “Now-Gen”, khususnya, cenderung lebih melek teknologi, berorientasi pada data, dan fokus pada hasil yang terukur. Karakteristik ini sangat selaras dengan investasi dalam sains, inovasi, dan solusi berbasis riset.

Meskipun demikian, Nundy mencatat bahwa investasi filantropis dalam bidang sains di India masih tertinggal dibandingkan dengan sektor pendidikan dan layanan kesehatan. Kedua sektor tersebut secara konsisten mendominasi arus keseluruhan donasi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat pendapatan per kapita India yang masih tergolong rendah dan adanya prioritas pembangunan lain yang saling bersaing. Penelitian ilmiah di India juga masih menghadapi tantangan akibat kurangnya sumber daya yang memadai.

Perubahan Krusial Terhadap Perkembangan India

Potensi peningkatan donasi berbasis sains di India sangatlah besar. Diperkirakan, pada tahun fiskal 2030, keluarga-keluarga kaya di India berpotensi menyumbangkan tambahan antara US$14 hingga US$15 miliar. Seberapa besar manfaat yang akan diterima oleh dunia sains dari potensi ini akan sangat bergantung pada efektivitas ekosistem yang berkembang, terutama dalam hal pembangunan institusi dan penciptaan jalur yang kredibel untuk investasi ilmiah berskala besar dan jangka panjang.

Para ahli menyarankan bahwa sektor-sektor yang memiliki sinergi langsung dengan bisnis, seperti industri farmasi, harus menjadi pionir dalam inisiatif filantropi berbasis sains. “Perusahaan farmasi India tidak melakukan penelitian mutakhir. Tetapi peluang penciptaan nilai berikutnya bagi mereka terletak pada obat-obatan inovatif, yang membutuhkan lebih banyak pendanaan untuk lembaga penelitian,” ujar seorang pengamat.

Angka pengeluaran bruto India untuk penelitian dan pengembangan (R&D) masih tergolong rendah, berkisar antara 0,6-0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara-negara seperti China, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kontribusi sektor swasta terhadap R&D di India hanya sekitar 36%, berbeda dengan negara-negara maju yang angkanya mencapai 70%.

Investasi pada sains dan perkembangan teknologi ini hadir pada titik krusial bagi India. Ada kekhawatiran bahwa India mungkin tertinggal dalam inovasi terbaru seperti Artificial Intelligence (AI) dan robotik. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Abhishek Lodha, pergeseran ini merupakan bentuk evolusi. “Sebuah peradaban yang membutuhkan dongkrak dipertemukan dengan filantropi layanan, dan sekarang Anda akan melihat pergerakan menuju filantropi keunggulan,” katanya. Perubahan ini menandai langkah India menuju kemajuan yang lebih kokoh di kancah global.