DermayuMagz.com – Harga pangan terpantau mengalami kenaikan signifikan pada Kamis, 21 Mei 2026. Data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan bahwa beberapa komoditas penting, seperti cabai rawit merah dan telur, telah menembus harga yang cukup tinggi di pasaran.
Cabai rawit merah dilaporkan mencapai harga Rp 57.650 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam ras juga tidak kalah melonjak, menyentuh angka Rp 32.500 per kilogram. Kenaikan ini menjadi perhatian mengingat kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan pokok sehari-hari bagi masyarakat.
Informasi ini didasarkan pada data yang dirilis oleh PIHPS Nasional, yang dikelola oleh Bank Indonesia (BI). Data tersebut dihimpun pada Kamis, 21 Mei 2026, sekitar pukul 09.44 WIB, dan dikutip dari laporan Antara.
Selain cabai rawit merah, komoditas cabai lainnya juga mengalami kenaikan harga. Harga cabai merah besar tercatat Rp 53.650 per kilogram, sementara cabai merah keriting dijual seharga Rp 52.100 per kilogram. Cabai rawit hijau juga mengalami kenaikan, yaitu Rp 38.700 per kilogram.
Kenaikan harga tidak hanya terbatas pada komoditas cabai dan telur. Bawang merah terpantau dijual dengan harga Rp 50.950 per kilogram, dan bawang putih mencapai Rp 43.950 per kilogram. Kenaikan harga pada komoditas ini tentu akan menambah beban pengeluaran rumah tangga.
Untuk komoditas beras, harga bervariasi tergantung kualitasnya. Beras kualitas bawah I dibanderol Rp 15.350 per kilogram, dan kualitas bawah II Rp 15.150 per kilogram. Beras kualitas medium I dijual seharga Rp 16.100 per kilogram, sedangkan kualitas medium II mencapai Rp 16.550 per kilogram.
Sementara itu, beras kualitas super I dibanderol Rp 17.600 per kilogram, dan kualitas super II Rp 17.750 per kilogram. Fluktuasi harga beras ini menunjukkan adanya dinamika pasokan dan permintaan di pasar.
Di sektor daging, harga daging ayam ras segar berada di angka Rp 36.150 per kilogram. Untuk daging sapi, kualitas I dijual seharga Rp 148.450 per kilogram, dan kualitas II seharga Rp 145.850 per kilogram. Kenaikan harga daging sapi ini bisa jadi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketersediaan dan biaya produksi.
Gula pasir juga mengalami kenaikan harga. Gula pasir kualitas premium dijual dengan harga Rp 23.200 per kilogram, sementara gula pasir lokal dihargai Rp 20.550 per kilogram. Kenaikan harga gula ini dapat berdampak pada industri makanan dan minuman.
Untuk kebutuhan minyak goreng, harga minyak goreng curah tercatat Rp 18.950 per liter. Minyak goreng kemasan bermerek I dijual seharga Rp 24.150 per liter, dan minyak goreng kemasan bermerek II seharga Rp 24.050 per liter. Kenaikan harga minyak goreng ini menjadi perhatian karena merupakan kebutuhan esensial.
Kondisi kenaikan harga pangan di tingkat domestik ini terjadi di tengah tren global yang juga menunjukkan peningkatan. Laporan sebelumnya pada awal Mei 2026 menyebutkan bahwa harga pangan dunia telah naik selama tiga bulan berturut-turut.
Baca juga : IWOI Geram: Bapenda Belum Jelas, Polemik Pajak Reklame ke Kejari
Kenaikan harga pangan global tersebut didorong oleh lonjakan harga minyak nabati dan peningkatan harga sereal serta beras. Faktor tingginya biaya energi turut memperparah situasi ini.
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) melaporkan bahwa indeks harga pangan dunia naik pada April 2026, menandai kenaikan selama tiga bulan berturut-turut. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya energi dan gangguan yang timbul akibat konflik di Timur Tengah.
Indeks harga minyak nabati FAO mengalami kenaikan signifikan sebesar 5,9% pada April 2026, mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini dipengaruhi oleh harga minyak sawit, kedelai, dan bunga matahari. Kenaikan harga minyak nabati ini sebagian besar dikaitkan dengan tingginya harga minyak mentah dan permintaan biofuel yang meningkat.
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menyatakan bahwa sistem pertanian global tetap menunjukkan ketahanan meskipun ada gangguan. Namun, ia juga menyoroti dampak dari tingginya biaya energi yang memengaruhi harga komoditas.
Indeks harga sereal di FAO juga tercatat naik 0,8% secara bulanan. Kenaikan ini mencerminkan lonjakan harga gandum dan jagung. Sementara itu, indeks harga beras secara keseluruhan meningkat 1,9% karena biaya produksi dan pemasaran yang lebih tinggi di negara-negara pengekspor beras, yang juga dipengaruhi oleh harga minyak mentah.
Lebih lanjut, indeks harga daging FAO dilaporkan mencapai rekor tertinggi baru pada April 2026. Kenaikan ini mencapai 1,2% dari bulan sebelumnya dan 6,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan harga daging sapi menjadi pendorong utama dalam indeks ini.
Di sisi lain, indeks harga susu justru mengalami penurunan sebesar 1,1% dari Maret. Sementara itu, indeks harga gula mengalami penurunan yang cukup tajam, yaitu 4,7%. Penurunan ini disebabkan oleh ekspektasi pasokan global yang melimpah.
FAO juga telah merevisi naik perkiraan produksi sereal global untuk tahun 2025 menjadi 3,04 miliar ton, yang menunjukkan peningkatan 6% dari tahun sebelumnya. Namun, perkiraan produksi gandum untuk tahun 2026 direvisi sedikit lebih rendah menjadi 817 juta ton.
Kondisi harga pangan yang terus berfluktuasi, baik di tingkat domestik maupun global, memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan produsen, untuk menjaga stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.






