Luhut Bertemu Investor Internasional di Singapura, Tekankan Kekuatan Ekonomi

Bisnis5 Dilihat

DermayuMagz.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan melakukan serangkaian pertemuan dengan sejumlah investor global dan perusahaan pengelola aset terkemuka di Singapura.

Kunjungan ini bertujuan untuk mendengarkan pandangan pelaku pasar sekaligus menjelaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Tujuannya adalah untuk memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perekonomian nasional.

Dalam pertemuan tersebut, beberapa investor menyuarakan kekhawatiran mereka terkait kondisi pasar global yang dinilai masih bergejolak.

Isu-isu seperti fluktuasi nilai tukar, pergerakan modal akibat suku bunga global yang tinggi, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi topik perhatian utama.

Menanggapi hal tersebut, Luhut menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap dalam kondisi yang solid.

“Dari diskusi kami hari ini, memang ada kekhawatiran mengenai volatilitas pasar. Mulai dari fluktuasi nilai tukar, hingga arus modal akibat tingginya suku bunga dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Luhut melalui akun Instagram pribadinya.

Ia merinci bahwa Indonesia berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen.

Tingkat inflasi juga dilaporkan tetap terkendali, berada di kisaran 2,4 persen.

Luhut mengakui bahwa fundamental ekonomi yang kuat saja belum cukup untuk mempertahankan keyakinan pasar.

Baca juga : 80 Persen Konten Media Didominasi Berita Negatif

Menurutnya, aspek kepercayaan dan kepastian juga menjadi faktor penting yang diperhatikan investor.

“Namun, saya sepakat bahwa fundamental saja tidak cukup, karena pasar juga menilai aspek kepercayaan dan kepastian,” tegasnya.

Ia menekankan komitmen pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Defisit anggaran akan dijaga agar tetap berada di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Luhut memandang kredibilitas fiskal sebagai aset krusial yang harus dijaga oleh pemerintah.

“Kredibilitas fiskal adalah aset berharga yang tidak akan kami pertaruhkan,” katanya.

Selain itu, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) telah menyiapkan berbagai skenario antisipasi.

Langkah ini diambil untuk menghadapi kemungkinan lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai USD 100 per barel.

DEN telah menyusun simulasi dampak ekonomi jika harga minyak mencapai level tersebut.

Kajian tersebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo, beserta rekomendasi stimulus ekonomi.

Pemerintah juga berencana melakukan efisiensi melalui transformasi digital menggunakan teknologi GovTech.

Sistem ini akan mendukung perubahan mekanisme subsidi energi, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM).

Perubahan tersebut akan beralih dari skema berbasis barang menjadi bantuan tunai langsung yang lebih tepat sasaran.

Di sektor keuangan, Luhut menyebutkan bahwa pemerintah mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengoptimalkan penggunaan kecerdasan buatan (AI).

AI akan digunakan dalam sistem pengawasan pasar modal.

Pemerintah juga terus mematangkan ekosistem Indonesia Financial Center (IFC) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Tujuannya adalah agar IFC dapat menjadi pusat kolaborasi dan layanan keuangan yang kompetitif secara global.

“Saya memandang kepercayaan dan kepastian sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi itu sendiri,” tulis Luhut.

Ia menilai bahwa arah kebijakan ekonomi Indonesia saat ini semakin mengarah pada sistem yang lebih kompetitif, transparan, dan efisien.

Hal ini menunjukkan bahwa peluang investasi jangka panjang di Indonesia masih sangat menjanjikan.