Iklan
Asia
FOKUS: Sepi di mata Bua Noi, gorila yang 40 tahun dikurung dalam mal Bangkok
Apa yang dialami Bua Noi menarik perhatian dunia, memicu pertanyaan soal perdagangan satwa liar, konservasi dan kesejahteraan hewan di Asia Tenggara. Dan setelah hampir 40 tahun tiba di Kebun Binatang Pata, masa depannya masih belum jelas.
Bua Noi, seekor gorila dataran rendah barat, terlihat di kandangnya di Kebun Binatang Pata, Bangkok. (Foto: CNA/Jack Board)
Jack Board
@JackBoardCNA
BANGKOK: Salah satu klimaks dalam film King Kong adalah ketika gorila raksasa memanjat gedung Empire State di Kota New York, bangunan tertinggi di dunia saat itu.
Kong digambarkan sebagai hewan yang luar biasa kuat, tapi didera kesepian di tengah kota besar yang tak ramah.
Kong direnggut dari hutan tempatnya tinggal, lalu dijadikan bahan tontonan. Dia adalah satwa liar yang terasingkan di tengah dunia yang tidak memahaminya.
Seperti New York, ibu kota Thailand juga memiliki gedung-gedung yang mencakar langit. Di kota ini juga, ada kisah nyata soal kera besar yang tinggal di bangunan buatan manusia.
Dia adalah Bua Noi. Dalam bahasa Thailand, nama itu berarti “teratai kecil”.
Gorila betina ini tinggal di bangunan tingginya sendiri, sebuah mal tujuh lantai. Dia sudah ditempatkan di atas mal itu sejak 1987, saat masih kecil, ditempatkan jauh di atas lalu lintas Bangkok yang padat dan penuh warna.
Dulu, dia adalah hewan paling terkenal di Thailand. Namun sekarang, dia nyaris dilupakan. Dan selama bertahun-tahun, dia hidup sendirian.
Selama hampir 40 tahun, gorila itu terjebak dalam perdebatan antara mereka yang mengatakan Bua Noi dirawat dengan baik dan pihak yang meyakini dia seharusnya dibebaskan. Perdebatan ini melibatkan aktivis, pejabat pemerintah dan bahkan selebriti papan atas dunia.
Ada persoalan mendasar yang jadi pertanyaan: bagaimana gorila yang terancam punah bisa berada di dalam mal kebun binatang sendirian, dan mengapa dia masih di sana sampai saat ini?
Pengunjung Kebun Binatang Pata di Bangkok melihat ke arah kandang beton Bua Noi melalui kaca. (Foto: CNA/Jack Board)
MEMASUKI DUNIA BUA NOI
Memasuki Kebun Binatang Pata dan menapaki lantai teratas Pusat Perbelanjaan Pata Pinklao, rasanya seperti kembali ke masa lalu. Dekorasi dan desainnya seolah terperangkap di tahun 1990-an, di masa kejayaannya.
Melalui lift kaca menuju atap, para pengunjung bisa menyaksikan mal yang kini terbengkalai. Semuanya gelap, dengan papan-papan yang menutupi beberapa bagian. Hanya kebun binatang yang masih beroperasi di lantai enam dan tujuh.
Di pintu masuknya, terlihat burung-burung tropis tengah menggigiti kandang besi mereka. Musik keras terdengar, jadi suara latar bagi anak-anak yang berebut ingin mengusap bayi kambing di dalam kandang.
Sebuah air mancur berhias tanaman plastik menyemprotkan kabut ke area tersebut. Meski demikian, udara di lantai paling atas bangunan ini tetap panas karena terbuka ke langit. Kanopi plastik nyaris tak mampu menahan terik matahari kota Bangkok yang menyengat.
Baunya menyengat. Bau dari hewan-hewan seperti monyet ekor panjang, lemur, beruang, orangutan, kapibara, dan kura-kura.
Sekelompok pengunjung menunggu atraksi utama. Dia tersembunyi dari pandangan, di dalam kandang terpisah yang oleh pihak kebun binatang disebut sebagai area VIP.
Akhirnya, melalui ruang tunggu kecil, rombongan itu memasuki dunia Bua Noi.
Seekor gorila tua yang hidup sendirian berada di balik panel kaca besar. Area miliknya kira-kira seluas lapangan basket kecil, berpendingin udara, dilengkapi beberapa ayunan tali dan ban, serta dilingkupi oleh beton dan baja.
Bua Noi berjalan keluar saat sekelompok manusia berkerumun. Dia adalah makhluk yang luar biasa, ekspresif, kuat, dan sangat cerdas.
Namun saat itu, Bua Noi sepertinya tidak ingin perhatian. Dia berbalik menghadap dinding dan mulai buang air kecil di lantai. Air seninya mengalir, lalu dia berbaring sambil mengutak-atik sehelai daun, matanya redup.
Beberapa menit kemudian, para pengunjung terlihat tidak tertarik lagi dan beranjak pergi melewati labirin kandang-kandang kecil lainnya, atraksi sekunder.
Bua Noi tetap sendirian. Setidaknya sampai rombongan berikutnya datang.
Beberapa tahun lalu, sineas Amerika Colin Sytsma mendatangi kebun binatang itu di Bangkok dan masuk ke kandang Bua Noi untuk mendokumentasikan kehidupannya yang terisolasi di Pata.
“Ada jamur di hampir semua tempat. Secara keseluruhan terasa sangat kotor bagi saya,” katanya.
“Satu hal yang selalu saya pikirkan adalah, Bua Noi tidak pernah menyentuh rumput selama 35 tahun, dan betapa menyedihkannya itu bagi hewan sosial, tidak bertemu gorila lain, dan tidak bisa berada di hutan, di rumput, dengan vegetasi yang begitu akrab bagi mereka,” ujarnya.
Baca:
Dari andalan jadi beban, ketika gas di Thailand kian mahal dan mencemari
‘Tak bisa digantikan AI’: Mengapa Thailand ingin mereformasi bisnis pijat, termasuk yang ‘abu-abu’
PEMBELA BUA NOI
Salah satu tokoh dalam film Sytsma sekaligus pembela utama kebebasan Bua Noi adalah perempuan Thailand berusia 70 tahun, Sinjira Apaitan.
Rumahnya di pusat Bangkok mudah dikenali.
Di taman kecil di depan rumahnya, berdiri potongan karton gorila seukuran asli. Di salah satu pohon, dia membentangkan terpal yang dihiasi potongan kertas berbentuk tangan anak-anak.
Para siswa menggambar dan menulis pesan untuk Bua Noi, seperti “born to be wild” dan “you have my hands”.
Itu adalah simbol dari kampanye panjang yang dia jalankan selama puluhan tahun. Awalnya dia adalah penggalang dana untuk organisasi satwa, lalu kini dikenal sebagai “perempuan biasa dengan akal sehat dan hati yang spiritual”.
Hidupnya perlahan namun pasti terikat pada satu gorila ini.
Dia mengenang masa ketika Bua Noi menjadi daya tarik utama bagi keluarga di Bangkok, kota metropolitan yang ketika itu sedang berkembang. Dia biasa melintas di depan gedung tinggi yang saat itu terkenal, dan memberi tahu anak-anaknya bahwa ada seekor gorila di atas pusat perbelanjaan itu.
“Dulu, dia sangat populer. Semua orang tahu tentang Bua Noi.”
“Dan saya berkata kepada anak-anak saya, ‘Lihat, bagaimana mungkin ada gorila di sini? Apa alasannya?’ Seperti melihat manusia di penjara. Itu tidak normal. Dan kamu harus melakukan sesuatu,” katanya.
“Saya sekarang akan berusia 70 tahun, tetapi untuk Bua Noi, saya melihatnya saat saya berusia sekitar 30-an, dan dia masih ada di sana. Hal yang tidak berubah adalah kesepian di matanya. Matanya mengatakan banyak hal.”
Hanya sedikit orang yang benar-benar mengenal Bua Noi.
Sinjira pun tidak terkecuali. Meski telah lama menjadi advokat bagi gorila tersebut, dia hanya menghabiskan sedikit waktu bersama Bua Noi, terutama karena hubungannya dengan pemilik Pata memburuk selama bertahun-tahun.
Pemilik saat ini bernama Kanit Sermsirimongkol, saudara dari pendiri awal kebun binatang tersebut, Vinai.
“Sejauh yang saya rasakan, kami tidak pernah menjadi musuh. Saya hanya ingin membantunya terbebas dari situasi ini,” kata Sinjira.
“Kenangan terbaik adalah ketika saya meminta izin kepada pemilik untuk menyanyikan lagu untuknya. Saya minta naik tangga, dan suara saya bisa menembus (kandang). Bua Noi tampak bersemangat. ‘Siapa di sana? Siapa yang mencoba menolong saya?’”
“Kemudian dia turun dan duduk sambil menatap saya. Saya pikir kami punya semacam koneksi. Saya beruntung. Saya rasa Kanit tidak akan mengizinkan saya melakukan itu lagi setelah kampanye ini.”
Kebun Binatang Pata menolak permintaan CNA untuk wawancara atau pernyataan.
Namun, Kanit sebelumnya pernah memberikan wawancara kepada media, membela praktik penangkaran yang mereka lakukan dan perlakuan terhadap Bua Noi di kebun binatangnya.
“Tidak ada aturan atau regulasi yang menetapkan berapa luas ruang yang dibutuhkan setiap hewan. Ini bukan soal ruang, melainkan bagaimana Anda memperlakukan hewan. Ruang yang kami sediakan cukup bagi mereka untuk bergerak bebas dan berolahraga,” katanya kepada The Guardian pada 2010.
Sepuluh tahun kemudian, dia kembali berbicara kepada Bangkok Post, menanggapi upaya yang kian gencar untuk membebaskan gorila yang hidup sendirian itu.
“Ingin mengirimnya kembali ke alam? Kita harus memikirkan kualitas hidup hewan di hutan. Mereka menghadapi ancaman penyakit seperti AIDS dan Ebola, serta perang saudara dan pemburu liar. Kita bisa belajar dari kebakaran hutan di Australia yang menewaskan sekitar 500 juta hewan,” katanya.
“Saya tidak akan mengirim Bua Noi ke negara lain. Dia adalah aset bangsa Thailand.”
Kanit menegaskan bahwa Bua Noi dibawa ke sini secara legal setelah lahir di kebun binatang di Jerman.
Namun, pihak lain meyakini perjalanan Bua Noi bermula dari hutan, melintasi batas negara, dan terkait dengan perdagangan global gelap. Pada masa itu, perdagangan semacam ini jarang meninggalkan jejak dokumentasi yang dapat dipercaya.
Sinjira Apaitan telah memperjuangkan kebebasan Bua Noi selama puluhan tahun. (Foto: CNA/Jack Board)
KISAH DARI AFRIKA
Pada 1980-an, Guinea Khatulistiwa di Afrika Tengah adalah negara yang baru bangkit dari salah satu masa paling brutal dan represif di benua tersebut.
Negara itu porak-poranda oleh rezim yang membantai atau mengusir sepertiga penduduknya. Infrastruktur runtuh. Perbatasan longgar. Korupsi merajalela.
Menangkapi satwa liar adalah cara warga pedesaannya bertahan hidup. Dan di wilayah ini, satwa tersebut termasuk gorila dataran rendah barat.
Ketika itu, pedagang satwa asal Eropa sudah beroperasi di seluruh Afrika Tengah.
Daniel Stiles, pakar perdagangan satwa liar ilegal yang berbasis di Kenya, telah menelusuri catatan lama perdagangan kera besar dan melakukan riset mendalam tentang asal-usul Bua Noi.
“Tim ayah dan anak asal Jerman adalah pedagang satwa yang biasanya beroperasi secara ilegal. Di Afrika Tengah, mereka mengirim tim penangkap untuk menangkapi bayi gorila, lalu mengekspornya dengan dokumen palsu atau tanpa dokumen sama sekali,” katanya.
“Mereka melakukan ini secara rutin, memasok kebun binatang dan meraup keuntungan yang besar.”
“Banyak tempat seperti kebun binatang atau taman safari bermunculan di Thailand pada 1980-an dan 1990-an. Mereka menginginkan kera besar di antara satwa lainnya,” ujarnya.
Gorila dataran rendah barat adalah yang paling umum dari spesies yang terancam punah. Diperkirakan ada sekitar 316.000 ekor di alam liar seluruh dunia.
Namun, jumlahnya terus menurun dengan cepat akibat kombinasi penyakit, perburuan liar, dan hilangnya habitat.
Terdapat hukum internasional yang mengatur perpindahan dan perdagangan spesies terancam punah. Instrumen utamanya adalah CITES — Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah.
Dalam CITES, gorila masuk dalam Apendiks I, yang berarti perdagangan internasional untuk tujuan komersial dilarang. Thailand meratifikasi CITES pada 1983 dan setiap perdagangan gorila yang legal ke negara tersebut seharusnya tercatat dalam basis datanya.
Tidak ada catatan gorila yang dipindahkan secara legal dari Jerman ke Thailand antara 1980 hingga 1995, maupun dari negara lain.
“Ada catatan sangat sedikit simpanse dan orangutan yang masuk ke Thailand, tetapi jumlah sebenarnya mencapai ratusan. Maksud saya, Kebun Binatang Pata bukan satu-satunya tempat yang memiliki simpanse dan orangutan. Satwa-satwa itu terus berdatangan untuk tempat hiburan seperti ini, dan tidak ada catatan gorila yang masuk,” kata Stiles.
Pada saat itu muncul kekhawatiran tentang satwa yang diperdagangkan secara ilegal keluar dari Afrika. Pada 1988, sekretariat CITES mengirim surat kepada berbagai pihak, memperingatkan agar tidak menerima impor satwa dari Guinea Khatulistiwa.
Kebun Binatang Pata menyatakan bahwa Bua Noi didatangkan secara legal dan dilakukan sebelum undang-undang satwa liar Thailand diberlakukan.
Ketika sebuah negara meratifikasi CITES, negara tersebut terikat secara hukum internasional. Namun, diperlukan undang-undang nasional untuk menegakkannya. Thailand memang telah memiliki regulasi satwa liar saat itu, tetapi sejauh mana ketentuan CITES diterapkan dan ditegakkan dalam hukum domestik masih jadi pertanyaan.
Akan tetapi, Stiles dan pihak lain menyatakan, tidak ada bukti kredibel bahwa Bua Noi lahir dari penangkaran.
Gorila dalam penangkaran juga dilacak dalam studbook internasional, sebuah registri global yang mencatat setiap individu, induknya, serta tempat mereka pernah hidup. Ini semacam silsilah bagi gorila di kebun binatang di seluruh dunia.
Studbook Eropa yang mencakup Kebun Binatang Pata mencatatkan dua gorila. Salah satunya adalah Bwana, gorila pertama di Thailand, yang juga sempat tinggal di Pata bersama Bua Noi sebelum mati dalam penangkaran.
Catatan tersebut menunjukkan Bwana lahir di alam liar di Afrika, lalu beberapa kali berpindah ke kepemilikan pribadi, termasuk ke kebun binatang di Jerman, sebelum akhirnya tiba di Thailand pada 1984.
Catatan itu juga mencantumkan gorila kedua, Bua Noi, yang disebut lahir di alam liar dan dipindahkan ke Kebun Binatang Pata pada September 1987.
Pemerintah Thailand menyatakan, tidak ada pelanggaran yang jelas menurut hukum saat ini yang dapat menjadi dasar penyitaan Bua Noi. Kebun binatang tersebut memiliki izin yang sah dan tidak ada perintah hukum untuk menyitanya.
Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tumbuhan Thailand (DNP) secara resmi menolak permintaan wawancara. Mereka hanya menyatakan bahwa Bua Noi dimiliki secara sah oleh Kebun Binatang Pata dan setiap komentar tentangnya berpotensi melanggar hak kebun binatang tersebut.
PERDAGANGAN SATWA ILEGAL SAAT INI
Perdagangan satwa liar ilegal masih menjadi bisnis besar hingga kini.
Interpol dan lembaga lain memperkirakan perdagangan satwa ilegal bernilai miliaran dolar, menjadikannya salah satu bisnis haram paling menguntungkan setelah narkoba dan perdagangan manusia.
Asia Tenggara secara luas diakui sebagai simpul utama dalam jaringan perdagangan satwa liar global, berperan sekaligus sebagai sumber, titik transit, dan pasar permintaan.
Kawasan ini menyumbang hingga seperempat dari permintaan global untuk produk satwa ilegal, seperti trenggiling, kura-kura, gading gajah, dan bagian tubuh beruang, menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).
Salah satu pihak yang menyelidiki bisnis yang penuh kerahasiaan ini adalah Ricardo Forrester, wakil direktur Freeland, tim yang terdiri dari aparat penegak hukum dan pakar teknis yang melacak dan menghentikan para pelaku perdagangan.
Baca juga: TMMD 128 Probolinggo Ajarkan Disiplin Sejak Dini
Pekerjaannya berfokus di zona-zona rawan, termasuk perbatasan Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Laos, serta pada penguatan kapasitas penegakan hukum, intelijen sumber terbuka, pemetaan, dan analitik data.
“Saya berpendapat, jika saya seorang kriminal karier, saya akan terlibat dalam perdagangan satwa liar, karena saya bisa memilih ke mana hewan dipindahkan dan dari mana asalnya, sebab tidak ada regulasi yang seragam,” katanya.
Menurut Forrester, ketimpangan antara penegakan hukum yang lemah dan keuntungan yang tinggi membuat sebagian wilayah Asia Tenggara sangat menarik bagi para pelaku.
“Di ASEAN, setiap negara memiliki pendekatan berbeda terhadap perdagangan satwa liar. Di beberapa tempat, pelaku bisa dipenjara, sementara di tempat lain mungkin hanya dikenai denda yang bahkan tidak sebanding dengan nilai produk di pasar akhir.
“Akibatnya, tidak ada efek jera yang nyata. Jika melihat rasio risiko dan keuntungan, risikonya kecil, keuntungannya sangat besar,” ujarnya.
Stiles mengatakan di beberapa bagian dunia, perdagangan satwa liar justru semakin menguntungkan.
“Dilakukan dengan berbagai cara, oleh pelaku yang berbeda, tetapi memiliki kesamaan tertentu. Jaringan kejahatan terorganisasi lintas negara telah muncul. Dan mereka menghasilkan uang dalam jumlah besar,” katanya.
Collapse
Expand
KEUNTUNGAN BESAR
Stiles mengatakan kesadaran publik tentang eksploitasi yang terjadi di tempat-tempat seperti kebun binatang untuk hiburan dan sirkus memang semakin meningkat. Namun tidak di semua tempat.
“Praktik itu masih sangat marak di Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan China. Bahkan di Timur Tengah, justru semakin berkembang. Semakin banyak kebun binatang privat bermunculan, dan mereka menginginkan kera besar serta kucing besar.”
Kebun binatang biasanya dipromosikan sebagai benteng konservasi alam, pusat penangkaran penting, dan sarana edukasi. Namun, tidak semua kebun binatang punya misi seperti itu.
Ian Redmond, ketua Ape Alliance sekaligus primatolog yang telah hampir 50 tahun bekerja dengan gorila liar, mengatakan, kebun binatang modern memang berkontribusi pada perlindungan habitat. Banyak di antaranya, katanya, menyalurkan sebagian pendapatan untuk proyek konservasi.
Namun dia menilai industri ini masih menyimpan kontradiksi.
“Mereka seperti berpijak di dua sisi,” katanya, dengan mengusung konservasi sekaligus tetap menjadikan hewan sebagai atraksi.
Redmond berpendapat ketertarikan terhadap satwa langka sejak lama telah bercampur dengan kepentingan komersial. Satwa eksotis menjadi simbol status dan tontonan yang menarik kerumunan orang yang bersedia membayar.
“Jika Anda memiliki hewan yang sangat langka atau unik, orang akan terpesona. Ada semacam kebanggaan yang ikut muncul. Ini menjadi simbol status, memiliki hewan atau mengendalikannya,” katanya.
Namun, sebaik apa pun niat para penjaga kebun binatang, menurutnya kehidupan satwa tersebut bisa sangat terbatas dan artifisial.
“Di China dan Asia Tenggara, Anda masih melihat hewan didandani dan dipaksa melakukan trik-trik konyol untuk menghibur keluarga. Penonton menyukainya, tetapi kehidupan hewan-hewan itu sebenarnya cukup menyedihkan,” katanya.
Dia menambahkan bahwa kera besar adalah makhluk sosial, hidup dalam kelompok keluarga, dan ekosistem yang kompleks. Namun, tidak ada gorila lain yang menemani Bua Noi untuk berinteraksi, dia juga tidak memiliki hutan dan kelompok sosial.
“Mereka punya pikiran, emosi, harapan, dan kehidupan sosial—yang dalam kasus Bua Noi, terbatas pada para penjaganya,” kata Redmond.
“Menurut saya, ini mungkin hukuman terburuk yang bisa kita berikan. Ketika manusia melakukan kejahatan serius, mereka ditempatkan dalam sel isolasi. Itu adalah hukuman terburuk yang bisa kita bayangkan bagi manusia, namun kita justru melakukannya pada makhluk non-manusia tanpa berpikir dua kali.”
Seekor orangutan terlihat di balik kandang di Kebun Binatang Pata, Bangkok. (Foto: CNA/Jack Board)
TEKANAN MENINGKAT
Pada November 2019, di luar Pusat Perbelanjaan Pata Pinklao di Bangkok, para aktivis—termasuk perempuan yang tubuhnya dilumuri cat berwarna—membawa poster yang menyerukan boikot terhadap kebun binatang di lantai atas mal tersebut.
Mereka mengecam penahanan satwa yang terus berlangsung, termasuk Bua Noi, dengan tulisan seperti “biarkan hewan menunjukkan jati dirinya” dan “kekejaman bukan hiburan”.
Momen itu menjadi titik penting dalam upaya bertahun-tahun oleh kelompok seperti People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) dan lainnya untuk menekan Kanit agar melepaskan gorilanya.
Lima tahun sebelumnya, para aktivis telah mengajukan petisi seruan penutupan kebun binatang tersebut kepada otoritas Thailand. Mereka berargumen bahwa atap pusat perbelanjaan bukan tempat yang layak bagi satwa liar, terutama gorila, mengingat persoalan kesejahteraan dan keselamatan. Upaya itu tidak berhasil.
Namun pada 2020, momentumnya mulai menguat.
Setelah aksi penyelamatan gajah Kaavan yang mendapat sorotan luas dari Pakistan ke Kamboja, ikon pop Cher—pendiri lembaga amal satwa Free the Wild—mengalihkan perhatiannya ke Bua Noi, menggunakan media sosial dan surat langsung kepada pejabat Thailand.
Selebritas lain, termasuk aktris Gillian Anderson, juga menyatakan dukungan. Bua Noi akhirnya mendapat perhatian media global.
Pada periode ini pula Sytsma merilis film pendeknya dan menayangkannya di berbagai festival di seluruh dunia.
Namun, sebuah peristiwa besar yang mengubah dunia datang dan menghentikan—setidaknya untuk sementara—pergerakan tersebut.
“Kami mulai melihat ada kemajuan, dan kami akan mendapatkan pertemuan dengan pemerintah Thailand. Saat itu, pemerintah mulai lebih memahami isu ini. Lalu COVID membuat semuanya tertunda,” katanya.
“Kami tidak bisa mengadakan pertemuan. Tidak ada yang terjadi. Dan itu memadamkan momentum yang kami miliki.”
Kebun Binatang Pata berada di lantai 6 dan 7 sebuah mal di pusat Bangkok. (Foto: CNA/Jack Board)
Ketika dunia mulai kembali normal beberapa tahun kemudian, muncul laporan bahwa pejabat senior kementerian mengusulkan penggalangan dana sekitar 30 juta baht Thailand (Rp16 miliar) untuk membeli Bua Noi dan memindahkannya ke suaka di Jerman.
Kebun Binatang Pata menolak gagasan tersebut, dengan alasan Bua Noi adalah “satwa yang berharga” dan tidak cocok dipindahkan pada usianya—sekitar 35 tahun saat itu—karena berisiko mati.
Gorila liar umumnya memiliki harapan hidup 35–40 tahun, sementara yang hidup dalam penangkaran sering kali bisa bertahan hingga satu dekade lebih lama.
“Akan sangat menyedihkan jika hewan itu mati di puncak mal itu. Itu akan menjadi hari yang sangat menyedihkan bagi banyak orang,” kata Sytsma.
“Thailand akan tercoreng jika dikenang karena hal itu, bukan karena keputusan lebih baik untuk memindahkannya ke tempat yang lebih layak.”
Selama bertahun-tahun, sudah ada berbagai rencana untuk Bua Noi. Tawaran masih terbuka, bukan hanya agar dia bisa kembali menginjak rumput, tetapi juga dipindahkan kembali ke benua asalnya di Afrika.
Amos Courage adalah direktur proyek luar negeri di Aspen Foundation, organisasi satwa liar dan konservasi asal Inggris yang memiliki proyek di Afrika Tengah. Hingga baru-baru ini, lembaga itu merupakan satu-satunya yang menjalankan proyek reintroduksi gorila ke alam liar.
Dia mengakui bahwa meski dengan niat baik, melepaskan gorila dari penangkaran adalah tugas yang sangat berat. Untuk Bua Noi, hal itu masih sangat kecil kemungkinannya.
Pilihan terbaik berikutnya, katanya, adalah hidup di suaka khusus, bersama sesama jenisnya, dengan tingkat kebebasan yang lebih sesuai.
Rencananya, jelas dia, adalah memindahkannya ke Gabon, di habitat alaminya, dengan suhu, makanan, dan aroma yang mungkin masih familiar baginya dan dapat membangkitkan semacam ingatan genetik.
“Ini proses yang sulit dan panjang. Namun, begitu mereka dibawa ke hutan dan melewati fase awal yang traumatis, kilau itu kembali ke mata mereka, mereka mulai berinteraksi dengan gorila lain, dan mulai berkembang.
“Stres jangka pendek bukan masalah. Yang merusak adalah stres jangka panjang. Di suaka seperti ini, dia tidak akan dipertontonkan, tidak akan dilihat dan dipermalukan setiap hari.
“Dan kita tidak pernah tahu. Seiring waktu, dia mungkin bisa direintroduksi. Namun, sekalipun tidak bisa, dia akan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik di habitat yang jauh lebih layak.”
Bua Noi telah hidup sendirian selama bertahun-tahun, setelah kematian gorila pertama Thailand, Bwana. (Foto: CNA/Jack Board)
MATI ATAU BEBAS
Pihak Kebun Binatang Pata, setidaknya dalam satu dekade terakhir, secara konsisten menolak keras segala rencana untuk memindahkannya.
Kebun binatang tersebut membela posisinya dengan menyatakan bahwa Bua Noi telah dibesarkan di atas lantai beton dan dalam kondisi steril selama puluhan tahun. Paparan mendadak terhadap tanah atau permukaan alami berisiko menimbulkan infeksi atau stres.
Pada 2023, para aktivis menyemprotkan grafiti “Free Bua Noi” di dinding luar gedung Pata Department Store. Aksi itu memicu reaksi keras.
Kebun binatang menawarkan hadiah 100.000 baht (Rp53 juta) bagi siapa pun yang memberikan informasi siapa pelakunya, menyebut tindakan tersebut sebagai vandalisme dan mengumumkan langkah hukum.
Saat pengunjung Kebun Binatang Pata berkumpul di ruang tunggu kecil sebelum dapat melihat Bua Noi, mereka diminta duduk dan menyaksikan video pembuka.
Di layar, diputar video berbahasa Thai. Suara laki-laki dengan nada jenaka, dilapisi efek suara komedi.
Video itu memperkenalkan Bua Noi sebagai bintang cantik kebun binatang, membahas fasilitas pendingin udaranya, menjelaskan bahwa gorila terancam punah, serta menyebut Thailand tidak berencana lagi mendatangkan gorila baru.
Video tersebut juga secara langsung menyindir para aktivis dan pakar satwa, mengejek serta mengecam kampanye mereka selama bertahun-tahun.
Kemudian pintu terbuka, dan pengunjung masuk untuk melihat Bua Noi melalui kaca.
Deretan kandang berisi berbagai satwa di Kebun Binatang Pata, Bangkok. (Foto: CNA/Jack Board)
Meski tawaran pemindahan masih ada, hingga kini belum ada indikasi Bua Noi akan dilepaskan.
Beberapa bulan lalu, kandangnya sempat ditutup sementara untuk umum. Kebun Binatang Pata menyatakan Bua Noi perlu waktu untuk beristirahat. Tidak jelas apakah dia sakit saat itu, namun kini dia telah kembali ditampilkan.
Sementara itu, Sinjira—pembela utama kebebasan Bua Noi—terus melanjutkan misinya.
Dia masih mengorganisasi, terus meningkatkan kesadaran, dan tetap berharap suatu hari bisa melihat “Teratai Kecil”-nya bebas.
“Dia hanya punya dua kemungkinan: mati di atas sana, atau terbang ke Afrika. Kita menunggu hari itu, tetapi konsekuensinya akan sangat berbeda,” katanya.
“Itu mencerminkan upaya kita untuk terus mencoba. Upaya untuk mengembalikan martabatnya, keindahan sang putri hutan. Anda tidak harus menjadi aktivis. Tidak perlu menjadi pecinta hewan. Cukup menjadi manusia yang punya belas kasih.”
Selama hampir empat dekade, dunia di sekitar Bua Noi terus berubah. Namun dia tetap berada di tempat yang sama.
Masa depannya masih belum pasti. Bua Noi tidak bisa menyampaikan apa yang dia inginkan. Yang bisa dia lakukan hanyalah menjalani konsekuensi dari keputusan yang dibuat untuknya.
Bagi Sinjira, fokusnya bukan pada pengakuan atau menyalahkan pihak tertentu, melainkan membayangkan masa depan yang lebih baik bagi satwa yang sangat dia pedulikan.
“Anda tidak perlu menyebut nama saya. Saya tidak masalah jika nama saya dilupakan,” katanya. “Tapi berikan Bua Noi apa yang layak dia dapatkan.”
Laporan tambahan oleh Jarupat Karunyaprasit.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.
Baca:
Thailand tetapkan 5 kucing ras jadi peliharaan nasional, tapi apakah nasib mereka akan lebih baik?
Populasi harimau meningkat pesat di hutan Thailand. Apa rahasianya?
Juga layak dibaca
Content is loading…
Iklan
Iklan
Klik untuk baca selengkapnya






