DermayuMagz.com – Grab Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan jumlah armada kendaraan listrik (EV) di platformnya hingga tiga kali lipat pada akhir tahun 2026. Target ini dianggap realistis mengingat pesatnya perkembangan ekosistem kendaraan listrik dan kebutuhan mendesak untuk efisiensi biaya operasional.
Director of Mobility, Food, & Logistics Grab Indonesia, Tyas Widyastuti, menjelaskan bahwa penetapan target ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap faktor internal dan eksternal. Grab mengklaim telah memantapkan posisinya sebagai penyedia layanan ride-hailing dengan armada kendaraan listrik terbesar di Indonesia.
Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan mendorong perusahaan untuk mempercepat transisi ke kendaraan listrik. Efisiensi biaya operasional menjadi salah satu pertimbangan utama dalam strategi ini.
“Nah, oleh karena itu kita pastikan bahwa, kita gak cuma ngikutin tren nih, karena satu, selain ada biaya operasional, dan yang kedua kita juga mau tetap commit dengan komitmen kita yang mau tetap jadi number one ride-hailing provider untuk EV dan kontribusi kita terhadap langkah hijau. Jadi that’s why we set tiga kalo by end of this year,” ujar Tyas dalam acara Grab Bussiness Forum 2026, The Next Chapter: Scaller Smarter and Execute Faster, di Shangri-La Jakarta Hotel, pada Selasa, 9 Juni 2026.
Tyas menegaskan bahwa Grab tidak hanya sekadar mengikuti tren kendaraan listrik. Perusahaan memiliki komitmen kuat untuk mempertahankan predikatnya sebagai penyedia layanan ride-hailing terdepan dalam hal armada EV. Selain itu, Grab juga bertekad untuk berkontribusi aktif dalam upaya pengurangan emisi karbon dan mendukung transisi menuju transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Meskipun demikian, Tyas mengakui bahwa terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi dalam upaya memperluas penggunaan kendaraan listrik di kalangan mitra pengemudi.
Salah satu hambatan utama di masa lalu adalah keterbatasan pilihan kendaraan listrik yang terjangkau. Namun, situasi ini menunjukkan perubahan positif dalam dua tahun terakhir. Semakin banyaknya model mobil dan motor listrik yang hadir di pasar membuat pilihan menjadi lebih beragam dan harganya pun semakin kompetitif.
“Kalau lima tahun lalu pilihannya sangat terbatas dan relatif mahal. Sekarang sudah jauh lebih banyak dan lebih terjangkau sehingga lebih mudah diterima mitra pengemudi,” katanya.
Perubahan Persepsi Pengemudi
Tyas juga menyoroti perubahan positif dalam persepsi para pengemudi terhadap kendaraan listrik. Di awal pengenalan EV, banyak mitra pengemudi yang mengungkapkan kekhawatiran terkait daya tahan baterai dan operasional kendaraan.
Namun, seiring dengan bertambahnya pengalaman dan intensifikasi program edukasi, kekhawatiran tersebut kini mulai berkurang secara signifikan. Para pengemudi kini dinilai semakin memahami cara terbaik dalam mengelola penggunaan baterai.
Pemahaman ini mencakup pemanfaatan fasilitas penukaran baterai (battery swap) yang semakin luas dan optimalisasi proses pengisian daya.
Di luar faktor kendaraan dan pengemudi, Tyas menekankan bahwa keberhasilan adopsi kendaraan listrik juga sangat bergantung pada kesiapan ekosistem pendukung. Ketersediaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) untuk mobil dan jaringan battery swap yang memadai untuk motor merupakan elemen krusial dalam mempercepat transisi elektrifikasi transportasi.
Selain itu, dukungan dari pemerintah melalui kebijakan yang pro-elektrifikasi transportasi dan regulasi yang kondusif juga dianggap memegang peranan penting dalam pencapaian target ambisius ini.
“Grab hanya satu bagian dari ekosistem. Dukungan infrastruktur dan regulasi tetap menjadi faktor penting untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik,” pungkasnya.






