DermayuMagz.com – Fenomena jalan amblas yang terjadi di Jalan Kayu Mas Utara, atau yang lebih dikenal warga sebagai Jalan Cinta, RT 011/RW 03, Kelurahan Pulo Gadung, Jakarta Timur, telah menciptakan lingkaran setan bagi para penghuninya. Kerusakan yang terjadi sejak Lebaran 2026 ini bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga memaksa warga untuk terus menerus mengeluarkan biaya perbaikan yang tak kunjung usai.
Risky, salah seorang warga yang terdampak langsung, menceritakan pengalaman pahitnya. Jalan sepanjang kurang lebih 100 meter di depan rumahnya mengalami amblas secara tiba-tiba. Ia menduga, penyebab utama kerusakan ini adalah aktivitas pengerukan kali di dekat lokasi, yang diduga menggunakan alat berat berukuran besar. Dampaknya, badan jalan tidak hanya rusak, tetapi juga merembet hingga ke bangunan rumah warga yang berada di sekitarnya.
Saat peristiwa amblas itu terjadi, Risky sedang tidak berada di Jakarta. Ia sedang mudik ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarganya. Kabar mengenai kerusakan rumahnya baru ia terima dari tetangga.
“Itu kan pas lebaran, satu hari atau dua hari itu saya dikabarin tetangga sebelah suruh langsung datang ke Jakarta, katanya rumah depan saya longsor,” ungkap Risky kepada Liputan6.com pada Senin (6/7/2026).
Namun, agenda keluarga yang padat membuatnya belum bisa langsung kembali ke ibu kota. Ia membutuhkan waktu sekitar seminggu untuk menyelesaikan urusan keluarganya sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang.
“Saya masih bingung, belum langsung ke Jakarta. Mungkin seminggu dulu, karena masih ada acara di rumah karena emang lagi pulang kampung, mudik lebaran,” tambahnya.
Sesampainya di Jakarta, Risky terkejut melihat kondisi rumahnya. Tembok bagian depan kediamannya terlihat retak parah dan sebagian sudah ambrol. Jarak antara rumahnya dengan jalan yang terus melebar membuat celah yang cukup besar. Bahkan, ayam-ayam yang ia pelihara untuk usaha sempat terperosok ke dalam lubang yang terbentuk akibat jalan amblas.
“Pas sampai sini, ini (tembok) udah teretak, udah ambrol. Tapi ambrol ini, ini makin lebar terus. Jadi ayam itu kan, saya belanja ayam, ayam sampai masuk ke sini (lobang jalan amblas),” tuturnya dengan nada prihatin.
Risky menjelaskan bahwa retakan pada tembok rumahnya awalnya hanya selebar satu jari. Namun, seiring berjalannya waktu, retakan tersebut terus membesar hingga mencapai lebar dua hingga tiga jari, bahkan cukup untuk membuat ayam terperosok.
“Awalnya itu cuma segini, sejenggal gini, satu jari, lalu lama-lama dua jari, tiga jari, sampai ayam bisa masuk. Jadi terus, ini sebenarnya enggak amblas, cuma jalannya naik karena yang di sana amblas miring, jadi sini miring. Terus tembok ini, bawahnya kan nggak kuat, jadi ikutin jalan,” jelas Risky.
Tak ingin melihat kerusakan semakin parah, Risky berinisiatif untuk memperbaiki sendiri bagian depan rumahnya. Ia melakukan pengecoran ulang pada area yang rusak. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan.
Beton yang baru saja dicor selalu kembali retak hanya dalam hitungan hari. Fenomena ini seolah menjadi siklus yang tak berujung.
“Efeknya ayamnya pada nyelip ke selokan. Terus ini dicor sendiri. Udah dicor, cornya retak lagi, ngecor lagi, retak lagi, ngecor lagi. Ini kalau nggak salah udah ketiga kali (dicor) ini yang terakhir buat nutupin lubang. Tadinya nggak ada retak sama sekali? Nggak ada sama sekali,” keluhnya.
Ia mengungkapkan kekhawatiran yang mendalam, mengingat tepat di bawah area rumahnya terdapat saluran air. Jika kerusakan terus meluas, ia takut rumahnya akan ikut terdampak parah.
“Bawahnya ini selokan. Takutnya kalau makin ambrol, bawahnya selokan. Ini bisa habis,” katanya dengan nada cemas.
Menurut pengamatan Risky, beberapa waktu lalu tanah di sekitar rumahnya masih terus bergerak, menyebabkan munculnya retakan-retakan baru. Namun, dalam beberapa hari terakhir, pergerakan tanah tersebut mulai berkurang.
“Jadi kan ini dicor, sehari dua hari langsung retak lagi. Kalau yang sebelah ini udah dicor nih, jalan sama teras langsung retak lagi, sehari dua hari langsung retak lagi. Kayaknya udah beberapa hari ini enggak gerak sih,” katanya.
Meskipun pergerakan tanah mulai melambat, kekhawatiran Risky belum sepenuhnya hilang. Selain ancaman terhadap rumahnya, kondisi jalan yang amblas juga berdampak signifikan pada usahanya berjualan ayam, yang merupakan sumber penghidupan utama keluarganya.
“Harapannya segera diperbaiki, soalnya ayam mau lewat juga susah. Angkutan ayam kan biasanya dari sana nih langsung ke sini. Harus putar lagi kalau mau menempatkan ayam,” tutup Risky, penuh harap agar pemerintah segera turun tangan mengatasi masalah yang telah berlangsung berbulan-bulan ini.






