DermayuMagz.com – Transformasi ancaman di era digital mendorong perubahan besar dalam sistem keamanan. Tak lagi sekadar kejahatan fisik, kini ancaman hadir dalam bentuk siber, disinformasi, hingga krisis kepercayaan publik.
Menjawab tantangan tersebut, pembangunan Markas Kepolisian Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Mapolda DIY) resmi dimulai dengan konsep futuristik berbasis teknologi dan kolaborasi lintas sektor.
Groundbreaking pembangunan Mapolda DIY digelar pada Minggu, 3 Mei 2026, di Jalan Bibis, Godean, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Acara ini dipimpin langsung oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X, Kapolda DIY Anggoro Sukartono, serta GKR Condrokirono.
Dalam sambutannya, Sri Sultan menegaskan bahwa pembangunan Mapolda DIY tidak boleh dipandang sebagai proyek infrastruktur biasa. Ia menyebut, gedung ini harus menjadi simbol “arsitektur peradaban masa depan” yang mengedepankan sistem kerja terintegrasi, adaptif, dan berbasis teknologi.
“Gedung ini harus menghadirkan command center terintegrasi, ruang kolaborasi lintas sektor, fasilitas pelatihan berbasis simulasi, hingga ekosistem kerja yang adaptif. Namun yang terpenting, manusia tetap menjadi pusat pengabdian,” ujar Sultan.
Menurutnya, kompleksitas ancaman digital seperti kejahatan siber menuntut respons cepat, akurat, dan berintegritas. Karena itu, Mapolda DIY dirancang sebagai sistem keamanan terpadu berbasis lima pilar utama.
Baca juga: Chris Hemsworth dan Mark Ruffalo dalam Urusan Kejahatan 101
Pilar tersebut meliputi penguatan keamanan konvensional, data-driven policing hub, social listening & sentiment intelligence system, cyber security defence center, dan decision intelligence & knowledge system.
Konsep tersebut diharapkan mampu menjadikan kepolisian bukan hanya sebagai penegak hukum, tetapi juga penjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
Jadi Pusat Lahirnya Polisi Presisi dan Humanis
Sri Sultan juga menaruh harapan besar agar Mapolda DIY menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia Polri yang presisi, humanis, dan berkesadaran tinggi.
“Ke depan, institusi ini harus kokoh secara infrastruktur, cerdas dalam sistem, dan semakin dekat dengan rakyat,” tegasnya.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengapresiasi dukungan berbagai pihak, termasuk Keraton Yogyakarta, yang telah memberikan izin pemanfaatan Sultan Ground untuk pembangunan Mapolda tersebut.
Sigit menegaskan bahwa pembangunan ini mengusung semangat “Bhayangkara Presisi” yang selaras dengan nilai budaya lokal “Hamemayu Hayuning Bawono”.
“Ini adalah amanah untuk menjaga, memperbaiki, dan menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Sejalan dengan nilai Tri Brata dan Catur Prasetya,” jelas Sigit.
Listyo Sigit memastikan, Mapolda DIY ke depan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pelayanan kepolisian dan pengembangan SDM, tetapi juga menjadi ruang aman dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
Usung Konsep Smart City dan Teknologi AI
Mengusung konsep smart city, Mapolda DIY akan mengintegrasikan teknologi mutakhir, termasuk Artificial Intelligence (AI), dalam sistem operasionalnya. Teknologi ini memungkinkan kepolisian menganalisis data secara real-time dan memberikan rekomendasi tindakan yang lebih tepat.
Dengan pendekatan tersebut, setiap kebijakan dan langkah kepolisian diharapkan menjadi lebih presisi, responsif, dan berbasis kebutuhan masyarakat.
“Ke depan, Polda DIY harus mampu memberikan layanan optimal bagi Yogyakarta sebagai kota budaya, pariwisata, dan pendidikan,” jelas Kapolri.
Pembangunan Mapolda DIY ini menjadi simbol transformasi besar Polri dalam menghadapi era digital. Lebih dari sekadar kantor, Mapolda DIY diharapkan menjadi pusat inovasi keamanan modern yang menggabungkan teknologi, kolaborasi, dan pendekatan humanis.
Dengan konsep ini, DIY tak hanya memperkuat sistem keamanan wilayahnya, tetapi juga berpotensi menjadi model nasional dalam pembangunan institusi kepolisian berbasis teknologi dan nilai budaya.






