Kekurangan Sumber Daya Manusia dan Alat Medis di RSUD Ngantang Malang Hambat Optimalisasi Layanan Kesehatan

Berita3 Dilihat

DermayuMagz.com – RSUD Ngantang di Kabupaten Malang tengah menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan sumber daya manusia (SDM) dan peralatan medis. Kondisi ini berdampak pada belum optimalnya layanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat.

Plt Direktur RSUD Ngantang, dr. Henry Sulistianto, Sp.OG, secara terbuka menyampaikan bahwa rumah sakit tipe D tersebut mengalami kekurangan di berbagai lini. Mulai dari tenaga kesehatan, alat-alat medis esensial, hingga sarana dan prasarana pendukung.

“Kami masih sangat kekurangan di hampir semua aspek. Baik itu dari segi SDM, alat, maupun sarana-prasarana,” ungkap dr. Henry usai mendampingi kunjungan Bupati Malang, H. Sanusi, pada Senin (4/5/2026).

Ia memberikan contoh konkret mengenai keterbatasan alat medis untuk penanganan persalinan. Saat ini, RSUD Ngantang hanya memiliki satu alat yang digunakan untuk memeriksa kondisi ibu hamil dan janin sebelum proses persalinan dimulai.

“Dokter spesialis perlu memeriksa kondisi jantung bayi dan kesehatan ibu terlebih dahulu. Namun, alat yang tersedia hanya satu. Jika alat tersebut sedang digunakan, pasien lain yang membutuhkan tidak bisa segera dilayani,” jelasnya lebih lanjut.

Keterbatasan ini turut dirasakan langsung oleh dr. Henry dalam praktiknya sebagai dokter spesialis kandungan. Ia menyebutkan bahwa beberapa alat penunjang persalinan yang krusial belum tersedia. Salah satunya adalah alat rekam jantung janin yang sangat penting untuk memantau kesehatan bayi selama proses kehamilan dan persalinan.

“Tanpa alat tersebut, penanganan persalinan tidak dapat dilakukan secara optimal,” tegasnya.

Selain itu, fasilitas penunjang untuk kondisi darurat juga belum berfungsi sebagaimana mestinya. Sejumlah unit ventilator yang dimiliki rumah sakit belum dapat dimanfaatkan karena terkendala kekurangan komponen pendukung.

“Ada unit ventilator yang tersedia, namun belum bisa digunakan karena masih ada bagian yang belum lengkap, seperti konektornya,” kata dr. Henry.

Ia menambahkan bahwa situasi ini sudah berlangsung sejak awal ia bertugas di RSUD Ngantang. Bahkan, menurutnya, kelengkapan sarana di Puskesmas Ngantang justru terlihat lebih memadai dibandingkan dengan rumah sakit tersebut.

Kredensial BPJS Belum Terpenuhi

Selain kendala fasilitas, RSUD Ngantang juga belum dapat menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Hal ini disebabkan oleh belum terpenuhinya persyaratan kredensial yang ditetapkan oleh BPJS.

Baca juga: DPRD Jatim: Audit Keamanan Daycare Mendesak, Sidak Perizinan Saja Tak Cukup

Menurut dr. Henry, salah satu hambatan utama dalam proses kredensial ini adalah kekurangan dokter spesialis. Ketersediaan dokter spesialis merupakan salah satu syarat utama yang harus dipenuhi agar rumah sakit dapat bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

“Untuk bisa bekerja sama dengan BPJS, banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Saat ini kami masih belum bisa memenuhinya karena keterbatasan tenaga kesehatan dan sarana yang ada,” tuturnya.

Pihaknya mengungkapkan harapan agar proses kredensial tersebut dapat segera terealisasi, setidaknya pada bulan Mei 2026.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang, Hernina Agustin Arifin, membenarkan bahwa pengajuan kerja sama dari RSUD Ngantang pernah diterima. Namun, pengajuan tersebut belum dapat disetujui karena belum memenuhi syarat, terutama terkait ketersediaan dokter spesialis.

“Dulu memang belum ada dokter Obgyn di RSUD Ngantang. Apakah sekarang sudah ada, namun belum ada pengajuan ulang,” jelasnya.

DPRD Dorong Percepatan Solusi

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, Feri Andi Suseko, mengakui bahwa kondisi RSUD Ngantang memang masih memprihatinkan. Ia menilai bahwa diperlukan langkah-langkah percepatan untuk mengatasi berbagai kendala yang dihadapi rumah sakit tersebut.

“Saya mengetahui kendala yang ada di RSUD Ngantang. Harus segera dicarikan solusi percepatan, mana yang menjadi prioritas harus didahulukan,” ujar Feri.

Salah satu fokus yang didorong oleh DPRD adalah pemenuhan syarat kredensial BPJS Kesehatan. Hal ini penting agar pembiayaan pasien yang berobat di RSUD Ngantang dapat terjamin.

“Masih kurang dua dokter spesialis. Memang tidak mudah untuk mencukupinya, tetapi harus segera disikapi. Jika tidak, RSUD Ngantang akan terus kesulitan dalam melayani pasien,” tegasnya.