Kemenkop Dorong Pengelola Koperasi Merah Putih Kenali Potensi Desa

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Kementerian Koperasi (Kemenkop) menaruh perhatian besar pada kualitas manajerial Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Sebanyak 29.830 calon manajer kini tengah dipersiapkan melalui program pelatihan intensif dan sertifikasi kompetensi sebelum mereka diterjunkan langsung ke berbagai wilayah di Indonesia.

Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop, Destry Anna Sari, menegaskan bahwa keberhasilan sebuah koperasi tidak hanya bergantung pada suntikan modal. Lebih dari itu, manajer dituntut memiliki kepekaan tinggi dalam memetakan potensi lokal serta menyusun strategi bisnis yang relevan dengan kondisi lapangan.

Dalam arahannya saat membuka pelatihan di Satuan Pendidikan (Satdik) 2 Kodiklatal, Makassar, pada Jumat (24/7/2026), Destry menekankan pentingnya peran manajer sebagai ujung tombak operasional. Ia menyebut kemampuan membangun jejaring atau networking sebagai aset krusial bagi para manajer yang akan bertugas sebagai single fighter di unit koperasi masing-masing.

“Networking ini mahal, karena Anda akan jadi single fighter di KDKMP tempat Anda ditempatkan. Kenali koperasi itu membutuhkan apa,” ujar Destry.

Ia mendorong para calon manajer untuk proaktif menjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kepala desa, pengurus koperasi, hingga elemen masyarakat setempat. Langkah ini dianggap penting agar manajer dapat memahami secara mendalam persoalan serta peluang ekonomi yang bisa dioptimalkan melalui koperasi.

Koperasi sebagai Solusi Komunitas

Destry menjelaskan bahwa koperasi pada dasarnya adalah entitas bisnis berbasis komunitas. Oleh karena itu, model bisnis yang dikembangkan harus berpijak pada kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar menjual produk tanpa arah. Manajer diharapkan tidak hanya menguasai teori bisnis di kelas, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi program yang memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga desa.

Dalam kesempatan yang sama, Pendiri The Local Enablers, Dwi Purnomo, turut memberikan wawasan mengenai pentingnya kepemimpinan yang solutif. Menurutnya, fokus utama seorang manajer adalah memberikan nilai tambah bagi masyarakat melalui koperasi yang dikelolanya.

“Manajer harus berpikir memberikan solusi bagi masyarakat, tidak hanya berpikir menghasilkan produk. Produk itu sebagus apa pun, kalau tidak memberikan solusi, tidak akan menjadi value,” tegas Dwi.

Dwi menambahkan bahwa kolaborasi adalah kunci. Pengelola KDKMP perlu membangun ekosistem usaha yang melibatkan berbagai mitra, baik di lingkup desa maupun pihak eksternal, guna memperkuat daya saing koperasi di tengah tantangan ekonomi modern.

Kurikulum Pelatihan dan Sertifikasi Nasional

Program pelatihan yang berlangsung sejak Kamis (17/7/2026) hingga Selasa (29/7/2026) ini dilakukan secara serentak di 15 komando latihan dan 61 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Selama periode tersebut, para peserta mengikuti 451 kelas pelatihan dengan standar kurikulum yang seragam.

Adapun rincian materi yang diberikan kepada para calon manajer meliputi:

  • Total 90 jam pelajaran intensif.
  • 12 modul pembelajaran komprehensif.
  • 42 materi spesifik yang mencakup manajemen koperasi dan keuangan.
  • 10 unit kompetensi yang diakui secara nasional.

Setelah pelatihan berakhir, seluruh peserta wajib mengikuti ujian sertifikasi kompetensi yang diakreditasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap manajer yang ditempatkan memiliki standar profesionalisme dan akuntabilitas yang tinggi, sehingga mampu menjawab tantangan serta kebutuhan masyarakat di desa atau kelurahan tempat mereka bertugas.

Kegiatan ini diharapkan menjadi titik balik bagi penguatan ekonomi kerakyatan, di mana koperasi benar-benar menjadi penggerak utama kesejahteraan di tingkat akar rumput melalui tata kelola yang lebih modern dan profesional.