DermayuMagz.com – Film terbaru sutradara Celine Song, “Materialists,” yang tayang di Netflix sejak Desember 2025, menawarkan sebuah eksplorasi mendalam tentang cinta modern di tengah hiruk pikuk New York.
Berbeda dengan karya sebelumnya, “Past Lives” yang sarat nostalgia, “Materialists” membawa penonton pada sebuah kritik tajam terhadap hubungan romantis di era kapitalisme urban. Film ini menggali persimpangan antara cinta, status sosial, dan persepsi nilai diri perempuan.
Inti cerita berpusat pada Lucy, seorang mak comblang profesional di sebuah agen perjodohan elit di New York. Ia terbiasa mengukur kecocokan cinta berdasarkan data konkret: tingkat pendidikan, pendapatan, gaya hidup, hingga latar belakang sosial kliennya. Dalam dunia Lucy, asmara seringkali dipandang sebagai sebuah perhitungan matematis, bukan semata-mata dorongan emosional.
Namun, ironi mulai muncul ketika logika yang sama harus diterapkan pada kehidupan pribadinya. Lucy dihadapkan pada sebuah dilema personal yang rumit, sesuatu yang tak bisa diselesaikan dengan grafik atau algoritma canggih.
Ia harus memilih antara dua pria dengan latar belakang yang sangat berbeda. Di satu sisi ada Harry, seorang pria mapan yang stabil secara finansial dan emosional. Harry mewakili gambaran pasangan ideal menurut standar masyarakat: aman, rasional, dan menjanjikan masa depan yang pasti.
Di sisi lain, ada John, mantan kekasih Lucy yang menjalani hidup penuh ketidakpastian. Karier aktingnya belum stabil, dan masa depannya masih samar. Namun, dari John, Lucy menemukan kejujuran, kedekatan emosional yang mendalam, dan perasaan dimengerti—sesuatu yang tak ternilai harganya.
Segitiga emosional ini menjadi poros utama konflik dalam “Materialists.” Film ini secara efektif menggambarkan pertarungan antara cinta yang menawarkan keamanan material dan cinta yang terasa murni dari lubuk hati.
Celine Song mempertahankan gaya khasnya sebagai penulis dan sutradara. Dialog-dialog yang reflektif, tempo penceritaan yang tenang, serta penggambaran konflik batin melalui keheningan dan bahasa tubuh menjadi kekuatan utama film ini. Dibandingkan dengan nuansa lembut dan melankolis “Past Lives,” “Materialists” hadir dengan sentuhan yang lebih sinis dan konfrontatif.
Film ini bukan sekadar cerita romansa konvensional; justru, Song berupaya membongkar ilusi-ilusi yang seringkali menyelimuti romantisme itu sendiri. New York dalam film ini digambarkan sebagai kota yang dingin dan penuh persaingan. Apartemen mewah, restoran mahal, dan kantor-kantor modern bukan sekadar simbol kesuksesan, melainkan representasi tekanan sosial yang memengaruhi cara orang menjalin hubungan.
Relasi personal dalam konteks ini seringkali terasa seperti sebuah transaksi. Lucy, sebagai tokoh sentral, berada di tengah pusaran sistem ini, berperan sebagai pelaku sekaligus korban.
Dari perspektif feminis, “Materialists” menawarkan pandangan yang relevan dan berani. Lucy digambarkan sebagai perempuan yang tidak pasif; ia sadar akan nilai dirinya, memahami realitas ekonomi, dan mengakui bahwa cinta seringkali bersinggungan dengan faktor kelas sosial dan jaminan finansial.
Film ini secara tajam mengkritik standar ganda yang kerap dibebankan pada perempuan. Di satu sisi, mereka diharapkan memilih pasangan yang mapan. Namun, ketika perempuan mulai mempertimbangkan faktor ekonomi dalam pilihan mereka, mereka justru dicap materialistis dan tidak tulus.
Melalui karakter Lucy, Song membalik narasi yang umum terjadi. Pertanyaan krusial yang diajukan film ini bukanlah apakah Lucy terlalu materialistis, melainkan mengapa perempuan terus menerus dihakimi ketika mereka bersikap realistis terhadap kehidupan mereka sendiri.
Profesi Lucy sebagai mak comblang menjadi metafora yang kuat. Ia membantu orang lain menemukan pasangan ideal versi pasar, namun ketika ia mencoba menerapkan logika yang sama untuk dirinya sendiri, ia justru diseret ke dalam ruang penghakiman moral.
Penampilan Dakota Johnson sebagai Lucy dinilai sangat meyakinkan. Ia berhasil memerankan karakter yang cerdas, rapuh, namun penuh kontradiksi. Pedro Pascal memancarkan pesona pria “sempurna” yang nyaris tanpa cela, sementara Chris Evans menghadirkan kehangatan sekaligus frustrasi seorang pria yang masih bergulat dengan perjalanan hidupnya.
Dinamika ketiga karakter ini membuat konflik yang dihadirkan dalam film terasa hidup dan kompleks, memukau penonton dengan kedalaman emosionalnya.
“Materialists” menolak untuk memberikan akhir bahagia yang sederhana dan mudah ditebak. Pilihan yang dibuat Lucy tidak digambarkan sebagai sebuah kemenangan romantis semata, melainkan sebagai keputusan sadar seorang perempuan dewasa yang telah memahami sepenuhnya konsekuensi emosional dan sosial dari setiap langkah yang diambilnya.
Sebagai tontonan akhir tahun, “Materialists” bukanlah film romansa ringan yang menawarkan rasa nyaman instan. Sebaliknya, film ini mengajak penonton untuk merenungkan kembali makna cinta di era modern—sebuah era di mana perasaan, logika, dan struktur sosial seringkali saling beradu dan bertabrakan.
Baca juga di sini: 5 Tokoh Inspiratif dalam Penghargaan Pengusaha Tahun Ini yang Mengubah Dunia Bisnis
Dengan visi penyutradaraan khas Celine Song yang kuat dan perspektif perempuan yang diangkat dengan mendalam, “Materialists” layak ditonton. Film ini bukan untuk mencari jawaban pasti, melainkan untuk memprovokasi pertanyaan kembali mengenai arti cinta, nilai diri, dan kebebasan memilih dalam kompleksitas kehidupan.






