Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro Sukses Lestarikan Busana Jawa dan Tingkatkan Pengalaman Wisatawan

hot4 Dilihat

DermayuMagz.com – Kawasan Malioboro, Yogyakarta, tidak hanya menawarkan hiruk pikuk khas destinasi wisata populer, tetapi juga sebuah pengalaman unik yang mendalam. Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro hadir sebagai penggerak tradisi busana Jawa, berhasil menyulap wisatawan menjadi layaknya bangsawan Jogja melalui jasa foto dan penyewaan busana adat.

Heriberto Satyo, yang akrab disapa Satyo, adalah sosok sentral di balik kesuksesan Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro. Sebagai Ketua Koperasi, pria berusia 45 tahun ini menceritakan bagaimana usaha jasa foto dan sewa busana adat Jawa ini berkembang pesat, bahkan hingga mendapatkan dukungan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI.

Perjalanan Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro dimulai pada akhir tahun 2018. Awalnya, kelompok ini berbentuk paguyuban yang berfokus pada jasa fotografi dengan busana Jawa. Seiring waktu, pada tahun 2022, paguyuban tersebut bertransformasi menjadi sebuah koperasi yang lebih terstruktur dengan nama Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro.

“Kami mendirikan kelompok ini awalnya di tahun 2018 akhir masih berbentuk paguyuban dengan nama Pokoke Blangkon yang bergerak di fotografi dengan busana Jawa. Terus tahun 2022, paguyuban ini berubah menjadi koperasi dengan nama Koperasi Pokoke Blakon Malioboro yang bergerak di fotografi dengan busana Jawa. Seperti itu,” kenang Bang Satyo.

Ide kreatif ini muncul secara spontan dari aktivitas di selasar Jalan Malioboro. Banyak wisatawan yang tertarik untuk berfoto dengan pakaian tradisional Jawa, namun bingung mengenai cara mengenakannya yang benar. Fenomena ini kemudian ditangkap sebagai peluang oleh tokoh lokal, Bapak T. K. Tono, yang awalnya berjualan baju Jawa.

“Mengenai sejarahnya, di tahun 2018 itu berawal dari seseorang bernama Bapak T K Tono. Beliau awalnya menjual baju jawa. Nah, dari penjualan itu kebetulan banyak tamu ketika mereka beli terus minta berfoto, dipotoin, dipakaikan karena nggak banyak yang paham cara pakai baju Jawa. Dari situ terbesit ide untuk menyewakan aja. Jadi busana Jawa disewakan lengkap dengan fotografernya. Beliau mengajak kami dari warga wilayah, mendirikan itu tadi, Paguyuban Pokoke Blangkon,” jelas Heriberto Satyo.

Seiring berjalannya waktu, sang perintis awal kemudian mengundurkan diri dan menyerahkan estafet kepemimpinan kepada warga lokal. Satyo sendiri dipercaya menjadi Ketua 2 dalam struktur koperasi yang baru.

“Beliau tahun dua tahun kemarin mengundurkan diri dari koperasi dan membentuk usaha sendiri yang sama jadi persewaan juga, ada fotografi juga dan resmi meninggalkan legasinya. Saat ini, kepala Yogyakarta saat ini diketuai oleh Bapak Sumarti sebagai Ketua 1 dan saya sebagai Ketua 2,” lanjutnya.

Lokasi operasional yang sebelumnya hanya emperan toko, kini telah berpindah ke tempat yang lebih representatif. Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro kini berlokasi di Jl. Malioboro No.11, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.

“Awal berdirinya itu kita ada di emperan toko, kita tidak punya tempat. Dua tahun yang lalu, karena sudah tidak diizinkan lagi ada di eperaan toko, dan kebetulan depan tempat nongkrong kita juga dibangun, kita menyewa tempat ini, yang beralamat di Jl. Malioboro No.11, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta,” ungkap Satyo.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman menjadi bangsawan Jawa, Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro menawarkan kemudahan reservasi. Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp atau dengan datang langsung ke lokasi.

“Datar online kami ada nomor WA, ada Whatsapp, ada Instagram yang bisa di DM nanti via situ bisa Tinggal kontak aja, mau foto tangga sekian Kalau pengen daftar biasanya Kita ada 2 macam, ada 2 macam jalur booking via whatsapp atau yang lain-lain dan biasanya ada langsung datang kesini atau melalui marketing kami yang ada di bawah harga sama baik hari biasa maupun high season, long weekend, sama aja kita gak pernah menaikkan harga,” tegas Satyo.

Proses pelayanan didesain ringkas dan efisien, mulai dari pendaftaran, pemilihan paket, hingga sesi pemotretan di sepanjang Jalan Malioboro.

“Caranya memakai jasa foto ini bagaimana? Seperti biasa, kita nggak terlalu banyak untuk harus booking, harus bagaimana, cukup datang ke sini bisa, datang langsung ke sini, daftar, aku mau foto, ambil paket, apa yang mau diambil paketnya biasanya tergantung jumlah orangnya yang mau foto jumlah orang, sesuai dengan paketnya kita carikan fotografer, ganti baju, foto di jalan. selesai foto, pilih foto, bayar,” paparnya.

Harga yang ditawarkan sangat bersahabat, dengan pilihan busana Jawa mulai dari Rp25.000 hingga Rp50.000. Paket foto pun bervariasi, rata-rata sekitar Rp50.000 hingga Rp75.000 per orang, sudah termasuk sewa busana.

“Harga busana Jawa ada 2 macam Rp25.000 dan Rp50.000. Rp25.000 itu yang berupa biasa, beskap dan yang cewek yang model blutdru itu itu Rp25.000. Ada yang Rp50.000 model janggan atau kamisol itu Rp50.000 yang cowok biasanya sama semua itu sudah komplit orang Jawa bilang sepengatek jadi dari ujung sampai bawah sesendal-sendalnya Untuk fotonya tergantung berapa orangnya. Paket yang diambil bermacam-macam rata-rata per orang sekitar 50, Dengan busana 75 ribuan Rata-rata Rata-rata 75 ribuan,” rinci Bang Satyo.

Jam operasional Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro adalah pukul 08.00-17.00 WIB pada hari kerja, dan pukul 07.00-17.00 WIB pada akhir pekan. Sesi pemotretan malam hari tidak disediakan karena pertimbangan pencahayaan.

“Kita buka Senin sampai Jumat pukul 8. Sabtu, Minggu pukul 7. Sampai last order pukul 5 sore. Sesi malam kita nggak ada. Kenapa kita nggak ada sesi malam? Karena lighting di Malioboro, kami anggap masih terlalu gelap untuk foto,” tambahnya.

Untuk menjadi anggota koperasi, syarat utamanya adalah memiliki kamera sendiri. Hal ini penting demi menjaga kualitas hasil foto yang seragam dan profesional.

“Syaratnya Minimal punya kamera, karena kami tidak menyediakan kamera untuk dipegangkan. Mau kamera seperti apa. Ya biasanya sekarang sih paling enggak meroles jangan poket kamera dipakai, paling enggak seperti itu. Jangan sekadar asal beli kamera jauh dari teman-teman dengan hasil yang beda banget kasihan juga. Kadang-kadang mereka jualan terus dibandingkan dengan teman yang lain bedanya jauh mas, itu kan kasihan juga,” ujarnya.

Target pasar utama koperasi ini adalah wisatawan dan anak muda yang ingin menciptakan konten unik. Lebih dari sekadar bisnis, mereka juga berupaya mengedukasi tentang busana Jawa.

“Untuk target yang pasti kami adalah wisatawan. Wisatawan yang datang ke kota Yogyakarta. Kemudian kawula muda yang pingin bikin cerita yang berbeda di Yogyakarta. Kadang mereka nggak niat ke Jogja, tapi pingin aja bikin cerita, oh datang ke sini aja sekedar berfoto. Itu target kami. Yang pasti juga mereka yang belum paham tentang Busana Jawa. Jadi kami di sini tidak sekedar hanya menyewakan, tapi dari koperasi menuntut fotografer dan semua tim untuk paham apa itu tentang Busana Jawa,” tegasnya.

Keunikan Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro terletak pada komitmennya menjaga keautentikan busana adat Jawa gaya Yogyakarta, termasuk penggunaan kain lilit yang dibentuk langsung.

“Beda jasa ini dengan jasa foto lainnya apa? Yang pertama ketika awal kita pasti melatih anggota untuk benar-benar layak jual hasil mereka bisa kami bertanggung jawabkan untuk lebih baik. Jadi tidak sekedar ini kamera cari fit. Kemudian membawa narasi budaya tadi. Kami memaksa fotografer untuk paham itu. Data teman-teman yang pemerhati budaya memberikan literasi tentang budaya, tentang busat Jawa tadi. Mesti kami bisa memahamkan tentang narasi budaya itu. Kemudian busana jawa yang kami pakai ini gagret, kami pastikan ini adalah gagret Yogyakarta kami tidak memakai rok yang sudah jadi kami tetap memakai lilit, kain lilit tetap dibentuk dari awal,” paparnya.

Menjaga kekompakan internal menjadi kunci. Meskipun menghadapi tantangan finansial, terutama untuk biaya sewa tempat, anggota koperasi tetap berusaha menjaga kebersamaan.

“Kami tiap hari tentu saja ketemu tiap hari. Itu yang membuat kami kompak merasakan bagaimana berkegiatan disini, kumpul setiap saat, itu yang faktor utamanya Agenda biasanya kemarin ketika kami masih, ya caranya, anggota kami banyak kemarin kan secara keuangan kami masih solid, bukan gak perlu sewa tempat, kita jalan-jalan bareng juga sering pick barang itu aja,” jelasnya.

“Cuma akhir-akhir ini karena kami terpaksa masih mengejar sewa tempat, modal baru untuk usaha-usaha. Usaha-usaha dulu kan milik pribadi anggota, sekarang milik kooperasi sendiri. Kemarin kan modal habis di situ, modal habis buat sewa tempat. Belum sempat jalan-jalan ya, kumpul-kumpul di sini aja kadang belum makan-makan bareng aja dengan biasa di sini,” lanjutnya.

Dukungan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI menjadi angin segar bagi Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro. Fasilitas ini membantu dalam pembiayaan operasional, termasuk sewa tempat yang krusial.

“Ikut BRI apa saja pak? Di awal kami Untuk kerja sama, karena pada awal kemarin masih bisa untuk Pokoke Blangkon kan sebagai lembaga ya. Sebagai lembaga bisa untuk caranya packingan untuk permohonan KUR. Kemarin kami banyak teman-teman yang ada di sana mengajukan KUR. Itu lebih mudah. Diawal juga kami mendapatkan beberapa peralatan-peralatan seperti payung dari BRI. Dan beberapa dari teman teman juga menggunakan Tabungan BRI. Seperti itu,” ungkap Bang Satyo.

Kontribusi KUR BRI sangat signifikan dalam menjaga roda operasional koperasi tetap berputar dan memungkinkan mereka untuk terus berkembang.

“Sangat berpengaruh, karena dengan adanya KUR ini kami bisa berkembang, membangun koperasi hingga saat ini koperasi kita masih pun terus berjalan,” pungkas Bang Satyo.

BRI Katamso juga memberikan dukungan penuh, tidak hanya dalam bentuk pinjaman KUR, tetapi juga membantu anggota koperasi untuk melakukan upgrade kamera dan memberikan bantuan properti.

“Fasilitas pinjaman kredit untuk fotografer-fotografernya itu. Fotografernya itu kan butuh upgrade kamera dan upgrade kamera itu bisa mengajukan pinjaman di BRI,” jelas Desti Dwi, Kaunit Pasarkembang BRI Katamso.

Proses pinjaman berjalan lancar berkat adanya kepercayaan antara BRI dan pengurus koperasi.

“Sejauh ini pinjamannya aman, karena kan kita juga dapat referensi dari pengurus koperasinya langsung, maksudnya ini kita kan konsultasi juga bagaimana karakter anggotanya, seperti itu,” tambahnya.

Selain itu, BRI juga memberikan bantuan properti seperti payung untuk menunjang kenyamanan operasional di Malioboro.

“Kalau yang sudah kita lakukan itu BRI memberikan bantuan berupa properti ya, kayak payung kemarin, seperti itu,” ungkapnya.

Kemitraan antara Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro dan BRI telah terjalin sejak tahun 2022, dan semakin intensif di tahun 2023.

“Mereka sudah tegabung dengan kita sejak tahun 2022 hingga kini. Cuma intensnya itu di tahun 2023,” pungkas Desti Dwi.

Wisatawan seperti Arini dan Nugraha merasakan langsung kepuasan atas layanan yang diberikan. Mereka memuji hasil foto yang estetik dan pelayanan yang ramah dari tim Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro.

“Kami benar-benar sangat puas dengan layanannya, mulai dari proses pendaftaran, dibantu memakai kain lilitnya, sampai selesai foto semua pelayanannya sangat tanggap. Hasil fotonya bagus sekali dan yang paling membuat kami nyaman itu para fotografernya sangat ramah serta telaten saat mengarahkan gaya kami di sepanjang jalanan Malioboro,” ujar Arini.

Nugraha menambahkan, pengalaman ini sangat direkomendasikan bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Baca juga : Menteri Dalam Negeri dan Menteri PKP Resmikan Program Bedah Rumah BSPS di Maluku dan Bali-Nusra

“Bagi para wisatawan lain yang punya rencana ingin berkunjung ke Jogja, khususnya di kawasan Malioboro, saya sangat merekomendasikan sekali untuk mencoba menggunakan jasa foto ini. Selain tarifnya yang sangat aman di kantong, kita bisa mendapatkan kenang-kenangan foto yang estetik sekaligus merasakan langsung pengalaman unik mengenakan busana adat Jawa yang asli,” pungkas Nugraha.