Menu Wajib di Meja Makan Prabowo

News8 Dilihat

DermayuMagz.com – Tiga hidangan sederhana ini selalu menjadi favorit Presiden Prabowo Subianto dan tak pernah absen dari meja makannya.

Bahkan saat melakukan perjalanan udara, baik dalam maupun luar negeri, menu-menu ini selalu dipersiapkan.

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, membagikan informasi mengenai menu kesukaan orang nomor satu di Indonesia ini.

Menurut Dirgayuza, orang-orang yang sering makan bersama Presiden Prabowo pasti akan menyebutkan tiga menu khas yang selalu ada.

Menu tersebut adalah Kopi Hambalang, bakso, dan nasi bakar.

Dirgayuza merasa beruntung karena sering mendapatkan kesempatan makan bersama Presiden dan mengenal beliau lebih dekat.

Tiga menu ini tidak hanya disajikan di meja makan kepresidenan, tetapi juga menjadi permintaan khusus saat Prabowo melakukan penerbangan.

Tim chef on board Garuda Indonesia selalu memastikan ketiga hidangan tersebut tersedia.

Salah satu chef yang sering bertugas, Yudi Mulyadi, yang merupakan koki asli Bogor, telah bekerja di Garuda Indonesia sejak tahun 2012.

Untuk penerbangan jarak jauh, Chef Yudi dan timnya bahkan harus memasak bakso dan nasi bakar di dalam pesawat saat terbang.

Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri karena ketersediaan bahan baku yang terbatas di udara.

Dirgayuza menjelaskan bahwa bahan-bahan seperti daun pembungkus nasi bakar harus dibawa khusus dari Indonesia.

Ini karena cita rasa masakan Indonesia yang khas dan spesifik.

Semua bahan baku utama harus dipastikan dibawa dari tanah air agar rasa yang disajikan tetap otentik.

Dirgayuza menambahkan bahwa dalam setiap penerbangan jarak jauh Presiden, area crew rest seringkali tidak digunakan untuk istirahat.

Area tersebut dialihfungsikan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan pokok.

Di luar menu makanan yang disajikan secara fisik, ada “menu” lain yang tak kalah penting di meja makan Presiden Prabowo.

Menu ini tidak tercantum dalam buku menu dan tidak disajikan oleh koki istana atau koki pribadi.

Menu istimewa ini justru datang dari R.M. Margono Djojohadikusumo, kakek Prabowo yang juga merupakan pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) dan anggota BPUPKI.

Melalui ajaran dan falsafah Jawa yang diserap dari kakeknya dan guru-guru lainnya, Presiden Prabowo membentuk cara berpikir dan pengambilan keputusannya.

Dirgayuza mengaku hampir setiap sesi makan bersama Presiden selalu diakhiri dengan pelajaran baru.

Salah satu falsafah yang sering diungkapkan adalah becik ketitik ala ketara, yang berarti kebaikan akan terlihat jejaknya, dan keburukan akan terungkap.

Prinsip ini seringkali menjadi pengingat bagi Presiden saat menghadapi tuduhan atau fitnah.

Beliau percaya bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri, meskipun mungkin memerlukan waktu.

Selanjutnya, ada sabdo pandito ratu, yang menekankan bahwa ucapan seorang pemimpin adalah janji.

Oleh karena itu, Presiden Prabowo selalu mengingatkan pentingnya berhati-hati dalam menyampaikan janji kepada publik.

Prinsip lain yang sering terdengar adalah rame ing gawe, sepi ing pamrih, yang berarti banyaklah bekerja dan sedikitlah menuntut imbalan.

Pesan ini menekankan pentingnya fokus pada pekerjaan tanpa terlalu mengharapkan pujian.

Presiden juga kerap mengingatkan untuk tidak dumeh, yaitu jangan bersikap sombong karena jabatan, kekuasaan, atau keberhasilan.

Alasannya, keadaan dapat berubah sewaktu-waktu dan kesombongan bisa membawa pada kejatuhan.

Berkaitan dengan ojo dumeh adalah prinsip ojo ngoyo, yang berarti jangan memaksakan kehendak di luar batas kemampuan.

Ambisi memang penting, namun harus selalu diimbangi dengan perhitungan kemampuan yang matang.

Dalam hal kepemimpinan, falsafah ing ngarsa sung tulada menjadi ajaran yang paling sering dikutip oleh Presiden Prabowo.

Artinya, seorang pemimpin harus berada di depan untuk memberikan teladan kepada bawahannya.

Seorang pemimpin tidak cukup hanya memberikan perintah, tetapi harus menjadi contoh nyata.

Mengenai kekayaan, Presiden Prabowo sering mengutip pepatah sugih tanpo bondo, yang berarti kaya tanpa harta benda.

Ini menyiratkan bahwa kekayaan sejati bukanlah pada kepemilikan materi, melainkan pada nilai-nilai luhur, prinsip, kehormatan, dan pengabdian.

Dalam ranah perjuangan politik, kemenangan yang sesungguhnya adalah menang tanpo ngasorake.

Artinya, kemenangan yang terbaik adalah kemenangan yang tetap menjaga martabat semua pihak yang terlibat.

Pada akhirnya, pelajaran kepemimpinan yang sering dibagikan Presiden Prabowo di meja makan selalu bermuara pada satu tolok ukur sederhana.

Beliau sering mengutip perkataan Cak Nur, mantan Gubernur Jawa Timur: “Yen wong cilik iso gumuyu” (jika rakyat kecil bisa tersenyum).

Senyum kebahagiaan rakyat kecil menjadi indikator bahwa mereka berada di jalan yang benar dalam memimpin.