Nasib Baru TPST Bantargebang Diungkap Rano Karno

News3 Dilihat

DermayuMagz.com – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, memberikan kabar terbaru mengenai nasib Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi, Jawa Barat. Ia memastikan bahwa mulai Agustus 2026, TPST Bantargebang tidak akan lagi menggunakan metode open dumping, sebuah sistem pembuangan sampah terbuka yang dinilai kurang ramah lingkungan dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serta pencemaran.

Perubahan ini merupakan langkah strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam upaya membenahi sistem pengelolaan sampah kota yang semakin kompleks. Selain itu, kebijakan ini juga menjadi dorongan kuat bagi masyarakat untuk lebih aktif dalam memilah sampah dari sumbernya, yaitu dari rumah tangga.

Rano Karno menjelaskan bahwa transisi dari sistem open dumping ke metode yang lebih terkelola merupakan salah satu tantangan terbesar yang sedang dihadapi Pemprov DKI. “Yang paling berat yaitu kita (Pemprov DKI) melakukan kesadaran atau sosialisasi tentang memilah sampah dari pusat atau dari rumah. Tapi ini harus kita lakukan karena Agustus ini yang namanya Bantargebang ini sudah tidak boleh lagi open dumping. Semua yang kita kirim semua sudah residunya saja,” ujar Rano di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Minggu (28/6/2026).

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa mulai pertengahan tahun 2026, sampah yang akan dikirim ke Bantargebang adalah residu hasil pengolahan, bukan lagi sampah mentah yang langsung dibuang. Hal ini tentunya memerlukan persiapan infrastruktur dan teknologi yang memadai.

Untuk mendukung kebijakan ambisius ini, Pemprov DKI Jakarta secara masif menggalakkan program “Jakarta Pilah Sampah” di seluruh wilayah ibu kota. Sosialisasi tidak hanya dilakukan melalui acara-acara seremonial, tetapi juga menyasar langsung ke tingkat komunitas terkecil di setiap wilayah, memastikan pesan pentingnya pemilahan sampah dapat tersampaikan secara efektif.

Selain upaya peningkatan kesadaran masyarakat, Pemprov DKI juga tengah serius mempersiapkan infrastruktur pendukung. Salah satu langkah konkretnya adalah pembangunan tiga fasilitas Intermediate Treatment Facility (ITF) di beberapa lokasi strategis, termasuk di kawasan Sunter.

Keberadaan fasilitas ITF ini diharapkan dapat menjadi solusi krusial dalam mengurangi ketergantungan yang selama ini begitu besar pada TPST Bantargebang. Dengan adanya pengolahan sampah yang lebih dekat dengan sumbernya, diharapkan volume sampah yang perlu diangkut ke TPA Bantargebang dapat berkurang secara signifikan.

Rano Karno menekankan pentingnya pembangunan fasilitas pengolahan sampah di berbagai wilayah. Tujuannya adalah agar sampah dapat diolah sedekat mungkin dengan lokasi dihasilkannya. Dengan demikian, beban transportasi sampah lintas wilayah menuju Bantargebang dapat diminimalkan, yang pada gilirannya akan mengurangi biaya operasional dan dampak lingkungan dari transportasi tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa kesuksesan perubahan sistem pengelolaan sampah ini sangat bergantung pada partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, Rano kembali mengajak seluruh warga Jakarta untuk mulai membiasakan diri memilah sampah dari rumah sebagai langkah awal yang fundamental dalam mewujudkan Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan di masa depan.

Perubahan menuju pengelolaan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan di TPST Bantargebang ini menandai babak baru dalam upaya penanganan masalah sampah di Jakarta, sebuah isu yang senantiasa menjadi perhatian utama bagi pemerintah daerah dan seluruh warganya.