Pelatihan Tanggap Bencana Tsunami untuk Warga Lumajang oleh Pemprov Jatim

Berita5 Dilihat

DermayuMagz.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, secara aktif meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat di Kabupaten Lumajang dalam menghadapi potensi bencana tsunami.

Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi yang mendalam, berfokus pada simulasi evakuasi mandiri. Tujuannya adalah agar warga tidak hanya memahami risiko bencana, tetapi juga mampu bertindak strategis untuk menyelamatkan diri, sehingga meminimalkan dampak kerugian.

Sekretaris BPBD Provinsi Jatim, Andhika Nurrahmad Sudigda, menekankan pentingnya menanamkan budaya sadar bencana sebagai gaya hidup. Ia menyatakan bahwa pengetahuan mengenai evakuasi mandiri sangat krusial dan dapat disebarluaskan kepada keluarga serta tetangga di lingkungan sekitar.

Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan di Balai Desa Tegalrejo, Kecamatan Tempursari, Lumajang pada Sabtu, 26 April 2026, menjadi platform penting untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai gempa bumi dan tsunami kepada warga setempat.

Melalui simulasi evakuasi mandiri, diharapkan terjadi penguatan kerja sama antara warga, pemerintah, dan para relawan. Kesadaran bahwa bencana adalah tanggung jawab bersama menjadi landasan utama, di mana setiap individu dituntut untuk saling menjaga dan melindungi saat situasi darurat.

Salah satu strategi kunci yang diterapkan adalah sistem ‘buddy system’, yang mendorong setiap warga untuk memiliki pasangan atau kelompok kecil yang saling memantau dan memberikan bantuan. Ini sangat vital, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas, untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam proses evakuasi.

Christine Bui, perwakilan dari Konsulat-Jenderal Australia di Surabaya, yang turut hadir dalam simulasi, memberikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Provinsi Jatim, khususnya BPBD Jatim dan BPBD Kabupaten Lumajang, atas inisiatif kolaboratif dan inovatif ini. Ia menambahkan bahwa kegiatan multisepihak semacam ini sangat efektif dalam memperkuat pemahaman masyarakat dalam merespons situasi gawat darurat.

Mambaus Suud, Program Partnership Implementation Manager SIAP SIAGA Provinsi Jatim, menggarisbawahi perlunya pemerintah desa untuk merancang mekanisme evakuasi hingga ke tingkat dusun. Setiap dusun disarankan menunjuk seorang penanggung jawab untuk mengidentifikasi dan mengoptimalkan sumber daya lokal yang dapat dimanfaatkan saat evakuasi.

Selain itu, koordinasi yang jelas dan terintegrasi antar berbagai tingkatan pemerintahan, mulai dari desa, kecamatan, hingga kabupaten, sangatlah penting. Fungsi-fungsi vital seperti penyebaran peringatan dini dan pelaksanaan evakuasi perlu diperjelas, serta penyediaan area evakuasi alternatif untuk mencegah kekacauan.

Yohadi Susanto, Kepala Dusun Tegalbanteng, Desa Tegalrejo, menyatakan bahwa simulasi tsunami ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi warga. Mereka kini memiliki pengetahuan dan pengalaman langsung dari para ahli, sehingga lebih siap menghadapi situasi darurat dan mampu melakukan evakuasi mandiri.

Skenario simulasi dimulai dengan skenario gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,1 yang berpusat di koordinat 10.13 LS 112.96 BT dengan kedalaman 10 kilometer, terjadi pada pukul 09.00 WIB. Guncangan gempa ini dirasakan kuat di Desa Tegalrejo.

Sekitar 26 menit kemudian, perangkat desa menerima informasi dari BMKG Stasiun Geofisika Malang mengenai potensi tsunami yang ditimbulkan oleh gempa tersebut bagi Desa Tegalrejo. Informasi ini segera disebarluaskan kepada warga melalui pengeras suara musala, memicu warga untuk segera keluar rumah dan bergerak menuju zona aman tsunami atau ‘blue zone’ yang telah ditentukan di lereng Gunung Kursi.

Sebanyak 300 orang berpartisipasi dalam simulasi ini, mencakup seluruh lapisan masyarakat dari berbagai usia, termasuk perempuan, lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak. Keberagaman peserta ini memastikan bahwa semua kelompok masyarakat terwakili dalam latihan kesiapsiagaan.

Desa Tegalrejo, yang dihuni oleh sekitar 3.690 jiwa, memiliki kondisi geografis yang unik, dikelilingi pegunungan dan berada di pesisir Selatan Jatim. Lokasinya yang terpencil di Kabupaten Lumajang ini menjadikannya kawasan yang memerlukan perhatian khusus dalam mitigasi bencana.

Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Malang, Ricko Kardoso, Desa Tegalrejo berhadapan langsung dengan zona megathrust. Berdasarkan pemodelan tsunami, desa ini berpotensi mengalami gempa bumi dengan intensitas 6 MMI yang dapat merusak bangunan, serta ancaman rendaman tsunami setinggi 15 meter hingga sejauh 3 kilometer dari garis pantai.

Kondisi tersebut menuntut respons cepat dari masyarakat. Kemampuan evakuasi mandiri menjadi sangat krusial, mengingat ‘golden time’ atau waktu kritis untuk mencapai tempat aman hanya berkisar 20 menit.

Pelaksanaan simulasi tsunami ini bertepatan dengan peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional pada 26 April, dengan tema “Siap untuk Selamat”.

Kegiatan ini didukung penuh oleh Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, Tim Reaksi Cepat BPBD, petugas kesehatan, serta Unit Layanan Disabilitas Penanggulangan Bencana (ULD-PB) Kabupaten Lumajang.

Baca juga di sini: Roblox: Verifikasi Usia untuk Fitur Chat Mulai 2026

Diharapkan, melalui inisiatif cerdas ini, masyarakat Jawa Timur akan semakin siap, tangguh, dan mampu merespons ancaman bencana dengan cepat dan tepat, demi memastikan keselamatan seluruh warga saat bencana terjadi. (*)