Pemerintah diminta beri penanganan trauma korban kecelakaan kereta Bekasi

Berita4 Dilihat

DermayuMagz.com – Pasca insiden tragis kecelakaan kereta api yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak pemerintah untuk segera menyediakan layanan pemulihan trauma bagi para korban.

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menekankan bahwa aspek pemulihan mental korban harus menjadi prioritas utama dalam penanganan pascakecelakaan ini.

Ia menegaskan bahwa dukungan psikososial dan penyembuhan trauma sangat krusial. Menurutnya, pemulihan mental merupakan komponen yang tak terpisahkan dari proses pemulihan korban secara keseluruhan.

Selain itu, Netty juga menyoroti pentingnya pemenuhan seluruh hak korban dan keluarga mereka tanpa hambatan. Hal ini mencakup layanan kesehatan yang memadai dan jaminan sosial yang seharusnya.

DPR juga mendorong agar semua hak korban luka mendapatkan layanan kesehatan terbaik hingga mereka benar-benar pulih. Bagi keluarga korban yang meninggal dunia, mereka berhak mendapatkan santunan dan segala bentuk perlindungan sosial yang cepat, transparan, serta tepat sasaran.

Lebih lanjut, DPR mendesak dilakukannya investigasi yang menyeluruh terhadap insiden tersebut. Tujuannya adalah agar hasil investigasi ini dapat dijadikan dasar untuk perbaikan sistem keselamatan transportasi di Indonesia.

Netty menekankan bahwa investigasi harus dilakukan secara objektif, transparan, dan tuntas. Hal ini penting untuk mengungkap secara pasti penyebab kecelakaan yang mengerikan ini.

Perbaikan sistem keselamatan transportasi nasional diharapkan dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.

Kecelakaan yang terjadi pada Senin malam, 27 April 2026, melibatkan tabrakan antara KRL Commuterline dan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Benturan keras tersebut menyebabkan kerusakan parah pada rangkaian kedua kereta.

Baca juga di sini: BTS ARIRANG Raih Platinum di Prancis, Pecahkan Rekor Dunia

Insiden ini memicu kepanikan di antara para penumpang. Proses evakuasi korban berlangsung hingga keesokan harinya.

Berdasarkan data yang dirilis oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero), total terdapat 107 korban dalam kecelakaan ini. Rinciannya adalah 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka.

Pemerintah, melalui Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), telah menyatakan kesiapannya untuk memberikan layanan pemulihan trauma bagi para korban serta keluarga yang terdampak.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Wihaji, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi ini. Ia menegaskan bahwa penanganan korban menjadi prioritas utama pemerintah saat ini.

“Yang jelas hari ini dari pihak terkait adalah penanganan korban,” ujar Wihaji, menekankan fokus pemerintah pada korban.

Ia memastikan bahwa layanan trauma healing akan diberikan sesuai dengan kebutuhan para korban dan keluarga mereka, terutama setelah penanganan darurat selesai dilakukan.

“Tentu kita akan tindak lanjuti kalau ada yang butuh konsultasi yang berkenaan dengan keluarga, trauma healing, kewenangan kita di situ… kalau memang nanti butuh trauma healing pasti kita turunkan, itu bagian dari kewajiban kami,” jelasnya.

Kesaksian dari para korban menggambarkan betapa mengerikannya peristiwa tersebut. Endang Kuswati, seorang penumpang berusia 41 tahun, sempat terjebak di dalam gerbong selama berjam-jam sebelum akhirnya berhasil dievakuasi.

Menurut sepupunya, Iqbal, Endang sempat menghubungi keluarga pada malam kejadian kecelakaan.

“Dia nelepon bahwa dia itu jadi salah satu korban yang ada di kereta tersebut,” ungkap Iqbal mengenai percakapan terakhirnya dengan Endang.

Proses evakuasi Endang dilaporkan berlangsung cukup lama. Hal ini disebabkan oleh posisi korban yang berada di bagian belakang rangkaian kereta.

“Saudara saya jadi salah satu dari tiga orang yang terakhir ditarik dari kereta tersebut,” tambah Iqbal, menggambarkan kesulitan evakuasi.

Endang baru berhasil dikeluarkan dari gerbong pada pagi hari setelah kecelakaan. Ia kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut.

Selain dampak fisik yang serius, para korban kecelakaan kereta api ini juga berisiko tinggi mengalami gangguan psikologis akibat pengalaman traumatis yang mereka alami.

Atika Dian Ariana, seorang dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, menjelaskan bahwa kecelakaan merupakan situasi krisis yang dapat memicu respons emosional yang kuat dan stres pada individu.

“Respons tersebut juga dapat muncul dalam bentuk fisik, seperti gemetar, jantung berdebar, keringat dingin, hingga sesak napas sebagai bagian dari respons stres,” paparnya.

Ia menambahkan bahwa reaksi awal yang umum dialami korban biasanya berupa keterkejutan, kebingungan, hingga disorientasi. Kondisi ini kemudian dapat berkembang menjadi kecemasan, kesedihan, kemarahan, atau kepanikan.

Meskipun demikian, Atika menekankan bahwa setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk pulih dari situasi krisis. Hal ini sangat bergantung pada kondisi psikologis masing-masing individu serta cara mereka memaknai peristiwa yang terjadi.

Namun, jika pengalaman traumatis tersebut dirasakan melampaui batas ketahanan psikologis individu, maka risiko terjadinya trauma jangka panjang, seperti post-traumatic stress disorder (PTSD), dapat meningkat secara signifikan.