Pemerintahan Prabowo Terbuka Kritik, KSP Bantah Isu Intimidasi

Berita4 Dilihat

DermayuMagz.com – Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal Dudung Abdurachman, membantah keras adanya isu intimidasi atau tekanan yang dilakukan oleh pemerintah maupun aparat penegak hukum terhadap masyarakat dan organisasi sipil yang kritis.

Ia menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjunjung tinggi keterbukaan dan sangat menerima kritik yang membangun.

Penegasan ini disampaikan Dudung saat menjawab pertanyaan awak media di pelataran Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta, pada Rabu (13/5). Pernyataannya muncul sebagai respons terhadap hasil survei yang dirilis oleh salah satu lembaga.

Dudung menggarisbawahi bahwa hingga saat ini, tidak ada bukti atau laporan mengenai ancaman terhadap pihak-pihak yang memberikan koreksi atau masukan kepada pemerintah.

“Bapak Presiden mau setiap saat minta masukan. Beliau menyampaikan: kita harus berani bicara, kita harus berani berpendapat, tetapi kita harus berani mendengarkan pendapat orang lain,” ujar Dudung, mengutip langsung sikap Presiden Prabowo.

Lebih lanjut, Dudung mengimbau agar tidak ada kesan yang dibangun seolah-olah pemerintah melakukan intimidasi terhadap individu atau kelompok yang memiliki pandangan berbeda.

“Jangan kemudian seakan-akan ada intimidasi, kalau ada intimidasi berarti juga mengeklaim bahwa pemerintah ini tidak mau dikoreksi. Janganlah dibuat-buat seperti itu,” tegasnya.

Ia kembali menekankan komitmen pemerintah, termasuk Presiden sendiri, untuk senantiasa terbuka terhadap berbagai bentuk kritik dan masukan yang datang dari berbagai lapisan masyarakat.

“Jangan kemudian dipelintir seakan-akan Presiden tidak mau menerima masukan,” tandas mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini.

KRITIK DISEBUT BAGIAN WAJAR DALAM DEMOKRASI

Menurut pandangan Dudung, dinamika politik yang melibatkan kritik, perbedaan pendapat, bahkan perdebatan, adalah suatu keniscayaan dalam sebuah negara demokrasi. Hal ini berlaku baik di ruang publik maupun di ranah media sosial.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk senantiasa mengedepankan hati nurani dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya.

Dudung mengingatkan bahwa Presiden Prabowo dalam berbagai kesempatan telah berulang kali menyatakan sikapnya yang tidak anti-kritik. Ia selalu siap untuk melakukan koreksi diri apabila menerima masukan yang konstruktif.

Bahkan, dalam pidatonya saat Puncak Perayaan Natal yang diselenggarakan pada awal tahun 2026, Presiden Prabowo secara eksplisit menyatakan bahwa kritik merupakan sebuah bentuk bantuan yang berharga.

“Kalau kritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan,” ungkap Prabowo kala itu, menunjukkan keterbukaannya terhadap evaluasi.

Sebagai penutup, Dudung juga mengutip sebuah pandangan bijak dari Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, mengenai konsekuensi yang melekat pada sebuah kepemimpinan.

Baca juga: Tintin: Sekuel Resmi Dikonfirmasi, Naskah Telah Rampung

“Gus Dur pernah menyampaikan bahwa sebenar apa pun yang kamu lakukan, sebaik apa pun yang kamu kerjakan, pasti ada kebencian orang lain,” pungkasnya, mengingatkan bahwa setiap tindakan, sekecil apapun, pasti akan menuai beragam reaksi.