Prediksi Rupiah Pekan Depan di Tengah Dinamika Negosiasi AS-Iran

Bisnis3 Dilihat

DermayuMagz.com – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada pekan depan diprediksi akan mengalami fluktuasi. Namun, para analis memperkirakan mata uang Garuda berpotensi ditutup menguat, didorong oleh kombinasi sentimen global yang menguntungkan.

Salah satu faktor utama yang memengaruhi adalah perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan geopolitik yang terus dipantau oleh pasar global ini dapat memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi dan pergerakan mata uang.

Selain itu, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini menunjukkan pelemahan. Hal ini berpotensi memengaruhi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), yang pada gilirannya dapat memberikan dorongan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup ketat pada awal pekan. Prediksinya menempatkan rupiah di kisaran 17.910 hingga 17.970 per dolar AS untuk perdagangan hari Senin.

Sementara itu, untuk pergerakan sepanjang satu pekan penuh, Ibrahim memperkirakan rupiah akan berfluktuasi dalam rentang yang lebih luas, yaitu antara 17.850 hingga 18.100 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan potensi volatilitas yang dipicu oleh berbagai faktor ekonomi dan geopolitik.

Pada penutupan perdagangan Jumat (4/7/2026), rupiah tercatat menguat tipis sebesar 34 poin, mengakhiri sesi di level 17.963 per dolar AS. Penguatan ini terjadi dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka 17.995 per dolar AS.

Meskipun ada penguatan, Ibrahim menekankan bahwa pelemahan yang mungkin terjadi masih tergolong terbatas. Hal ini dikarenakan pasar keuangan global sedang mencerna berbagai sentimen yang saling tarik-menarik.

Peluang penguatan rupiah pada awal pekan depan dinilai masih terbuka lebar. Sentimen positif ini muncul seiring dengan meningkatnya optimisme investor terhadap perkembangan isu-isu internasional yang krusial.

Sentimen yang Memengaruhi Rupiah

Perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu sorotan utama pasar. Investor secara cermat mengikuti setiap perkembangan pembicaraan antara kedua negara tersebut.

Ada indikasi bahwa proses negosiasi bergerak ke arah yang lebih positif. Presiden AS Donald Trump sendiri sempat menyatakan bahwa Iran telah menyetujui hampir semua tuntutan yang diajukan.

Namun, optimisme ini tetap diiringi oleh sejumlah ketidakpastian. Laporan dari Wall Street Journal mengindikasikan adanya penolakan dari pihak Iran terhadap proposal Washington terkait pembebasan klaim atas Selat Hormuz. Sebagai imbalannya, Iran diminta untuk mencairkan aset-asetnya yang dibekukan.

Amerika Serikat dikabarkan menawarkan berbagai insentif finansial, termasuk akses terhadap dana yang selama ini dibekukan. Tujuannya adalah untuk memastikan kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz tanpa adanya gangguan.

Sayangnya, hingga saat ini, Iran dilaporkan belum memberikan persetujuan terhadap tawaran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa negosiasi masih berjalan alot dan penuh tantangan.

“Sinyal yang beragam ini membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian para pedagang. Pasar kini mengamati perkembangan lebih lanjut dalam negosiasi AS-Iran, arus minyak mentah dari Teluk, dan tanda-tanda pemulihan permintaan setelah libur akhir pekan di Amerika Serikat untuk mendapatkan arah baru bagi pergerakan pasar,” ujar Ibrahim.

Data Tenaga Kerja AS

Selain isu geopolitik, pergerakan nilai tukar rupiah juga mendapatkan dukungan dari data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan tren pelemahan. Data terbaru mengenai penciptaan lapangan kerja di AS ternyata lebih rendah dari perkiraan.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan bahwa ekonomi Amerika Serikat hanya berhasil menciptakan 57.000 lapangan kerja baru pada bulan Juni. Angka ini jauh di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memprediksi penambahan sekitar 110.000 pekerjaan.

Lebih lanjut, data penambahan tenaga kerja untuk bulan Mei juga mengalami revisi penurunan. Angka sebelumnya yang tercatat 172.000 pekerjaan kini direvisi menjadi 129.000.

Meskipun tingkat pengangguran secara tak terduga menunjukkan penurunan menjadi 4,2% dari sebelumnya 4,3%, hal ini tidak sepenuhnya menutupi kekhawatiran pasar. Kenaikan rata-rata upah per jam sebesar 0,3% secara bulanan dan 3,5% secara tahunan dinilai masih sesuai dengan ekspektasi pasar.

“Data Non Farm Payroll yang lemah ini membantu mendinginkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve (The Fed),” pungkas Ibrahim.

Menurut perhitungan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga oleh The Fed pada bulan September mendatang turun menjadi 51%, dari sebelumnya yang berada di angka 63% sebelum data ketenagakerjaan dirilis. Penurunan probabilitas ini berpotensi memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat lebih lanjut.