Purbaya: 3 Poin Utama Pembentukan Badan Ekspor

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, angkat bicara mengenai isu pembentukan badan ekspor oleh pemerintah. Namun, Purbaya mengaku belum memiliki informasi detail terkait rencana tersebut.

Ia menyatakan bahwa pengumuman mengenai hal ini akan datang langsung dari Presiden. Purbaya menyampaikan hal ini kepada wartawan usai memimpin sidang aduan Debottlenecking pada Selasa, 19 Mei 2026.

Isu yang beredar menyebutkan bahwa pemerintah berencana membentuk sebuah lembaga baru. Lembaga ini akan memiliki fungsi sentral untuk mengelola dan memusatkan seluruh kegiatan ekspor, khususnya untuk komoditas-komoditas tertentu.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud, pernah mengemukakan gagasan serupa. Ia menyebutkan bahwa pemerintah sedang mengkaji pembentukan lembaga badan ekspor.

Gagasan ini muncul sebagai respons terhadap perlunya peningkatan kinerja ekspor nasional. Pembentukan badan khusus diharapkan dapat menyatukan berbagai pemangku kepentingan dan menyelaraskan strategi ekspor agar lebih efektif dan efisien.

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejatinya tidak selalu membawa dampak negatif bagi perekonomian Indonesia. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, berpendapat bahwa kondisi ini justru bisa menjadi peluang.

Peluang tersebut terutama terbuka bagi industri yang berorientasi ekspor. Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi membuka lapangan kerja baru di sektor-sektor produktif.

Eddy Junarsin menilai bahwa depresiasi rupiah memang dapat membebani perusahaan yang sangat bergantung pada impor. Namun, di sisi lain, hal ini justru memberikan keuntungan bagi perusahaan eksportir.

Perusahaan-perusahaan ini biasanya menggunakan modal dalam rupiah namun memperoleh pendapatan dalam mata uang dolar AS. Dengan demikian, pelemahan rupiah akan meningkatkan nilai pendapatan mereka ketika dikonversikan kembali ke rupiah.

Artikel mengenai tanggapan Purbaya Yudhi Sadewa terkait pembentukan badan ekspor ini menjadi salah satu yang paling banyak diminati pembaca di Kanal Bisnis Liputan6.com. Berikut adalah rangkuman tiga artikel terpopuler di kanal tersebut pada Rabu, 20 Mei 2026:

1. Kata Purbaya Soal Pembentukan Badan Ekspor

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan tanggapan terkait isu pembentukan badan ekspor oleh pemerintah. Purbaya menyatakan bahwa dirinya belum mengetahui secara pasti mengenai rencana tersebut.

“Wah saya enggak tahu, nanti Presiden ngumumin itu,” ujar Purbaya singkat kepada wartawan. Pernyataan ini disampaikan usai ia memimpin sidang aduan Debottlenecking pada Selasa, 19 Mei 2026.

Isu yang beredar menyebutkan bahwa pemerintah akan segera mengumumkan sebuah lembaga baru. Lembaga ini akan bertugas memusatkan seluruh kegiatan yang berkaitan dengan ekspor, khususnya untuk komoditas-komoditas tertentu.

Sebelumnya, Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak selalu berdampak buruk bagi perekonomian nasional. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menilai kondisi tersebut justru dapat menjadi peluang bagi industri yang berorientasi ekspor.

Baca juga : Puluhan Kendaraan ASN Depok Didenda Akibat Parkir Sembarangan

Potensi peningkatan lapangan kerja di sektor produktif juga disebut dapat terwujud. Eddy memandang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih menyimpan peluang positif bagi sejumlah sektor ekonomi, terutama industri yang berorientasi ekspor.

Menurutnya, depresiasi rupiah memang bisa menjadi beban bagi perusahaan dengan tingkat ketergantungan impor yang tinggi. Namun, di sisi lain, kondisi ini menguntungkan perusahaan yang menggunakan modal rupiah namun mendapatkan pendapatan dalam dolar AS, seperti perusahaan eksportir.

2. Rupiah Tembus Rp 17.600, Purbaya Minta Masyarakat Tenang

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi tekanan terhadap nilai tukar rupiah akan mulai mereda pada pertengahan pekan ini. Prediksi ini didasarkan pada berkurangnya tekanan di pasar obligasi (bond market).

Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah mulai masuk ke pasar obligasi secara bertahap. Langkah ini kemudian diikuti oleh investor asing, yang diharapkan dapat membantu menurunkan tekanan di pasar keuangan, termasuk terhadap nilai tukar rupiah.

“Saya pikir pertengahan minggu ini juga sudah mulai berkurang. Pemerintah sudah masuk ke bond market sedikit-sedikit, asing juga sudah mulai masuk, sehingga tekanan di bond mestinya berkurang,” kata Purbaya kepada wartawan di Istana pada Selasa, 19 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa berkurangnya tekanan di pasar obligasi biasanya turut meredakan sentimen negatif terhadap rupiah. Purbaya pun menunjukkan optimisme karena kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April menunjukkan hasil yang positif.

Kondisi APBN yang positif ini dianggap sebagai bukti kuatnya fondasi ekonomi nasional. Hal ini memberikan keyakinan bahwa rupiah akan stabil dan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir.

3. Siap-siap, Harga Emas Bakal Tertekan

Harga emas dunia menunjukkan pergerakan naik tipis pada perdagangan Senin, yang didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Namun, kenaikan harga logam mulia ini masih tertahan.

Faktor penahan kenaikan harga emas antara lain adalah kenaikan imbal hasil obligasi dan tingginya harga minyak mentah. Kondisi ini diperparah oleh memanasnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya terkait perang di Iran.

Mengutip dari CNBC, harga emas di pasar spot tercatat naik 0,2% menjadi USD 4.548,14 per ounce pada pukul 13.41 waktu AS atau 17.41 GMT. Sebelumnya, emas sempat menyentuh level terendah sejak 30 Maret 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni justru mengalami penurunan 0,1% dan ditutup pada posisi USD 4.558 per ounce. Hal ini menunjukkan adanya sentimen negatif yang masih membayangi pergerakan emas.

Pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga emas. Indeks dolar tercatat turun 0,3% terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Hal ini membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga mendorong permintaan.

“Indeks dolar AS turun ke level terendah dalam sesi perdagangan dan itu menjadi sentimen positif bagi pasar emas,” ujar analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff. Namun, faktor lain seperti kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak tetap menjadi penekan.