DermayuMagz.com – Perjalanan Qatar di Piala Dunia 2026 berakhir dengan getir. Meski datang sebagai juara Asia, tim berjuluk The Maroons tersebut gagal total di fase grup, terpuruk di dasar klasemen Grup B dengan hanya mengoleksi satu poin dari tiga pertandingan.
Kekalahan 1-3 dari Bosnia dan Herzegovina pada laga pamungkas di Lumen Field, Seattle, Kamis (25/6/2026) dini hari WIB, menjadi penutup pahit bagi kiprah Qatar di turnamen akbar ini. Hasil tersebut memastikan mereka harus angkat koper lebih awal tanpa meraih satu pun kemenangan.
Statistik Qatar di fase grup menunjukkan betapa jauhnya mereka dari performa yang diharapkan. Hanya mampu mencetak dua gol dan harus kebobolan sepuluh kali, catatan ini sangat kontras dengan status mereka sebagai juara Piala Asia dua kali.
Qatar Gagal Membuktikan Diri di Panggung Dunia
Pertandingan melawan Bosnia dan Herzegovina sejatinya menjadi laga penentuan bagi Qatar untuk setidaknya meraih hasil positif di akhir perjalanannya. Namun, alih-alih menampilkan performa gemilang, mereka justru kembali menelan kekalahan.
Kemenangan Bosnia dan Herzegovina membuat mereka tetap menjaga asa untuk lolos ke babak gugur melalui jalur peringkat tiga terbaik. Sementara itu, Qatar harus mengakhiri mimpinya di Piala Dunia 2026.
Kegagalan ini juga melanjutkan tren negatif Qatar di Piala Dunia. Sejak debutnya sebagai tuan rumah pada edisi 2022, Qatar belum pernah merasakan kemenangan dalam enam pertandingan yang telah mereka jalani di turnamen bergengsi ini.
Sebuah ironi mengingat Qatar datang ke Piala Dunia 2026 dengan modal berharga sebagai kampiun Piala Asia 2023. Hal ini sempat menimbulkan harapan besar bahwa mereka bisa memberikan kejutan di panggung sepak bola terbesar dunia.
Lopetegui Soroti Kesalahan Kecil yang Menghukum Qatar
Pelatih Qatar, Julen Lopetegui, menilai bahwa timnya sebenarnya mampu memberikan perlawanan yang berarti kepada Bosnia dan Herzegovina. Namun, beberapa kesalahan krusial di momen penting membuat mereka harus membayar mahal.
“Elemen kuncinya adalah mereka mencetak gol pertama yang luar biasa dan setelah itu kami melakukan dua kesalahan dan mereka memanfaatkannya,” ujar Lopetegui, pelatih asal Spanyol tersebut.
Menurut Lopetegui, timnya telah menunjukkan beberapa sisi positif dalam pertandingan tersebut. Namun, ia menekankan bahwa sepak bola di level tertinggi seringkali ditentukan oleh detail-detail kecil yang bisa berakibat fatal.
“Inilah sepak bola di level tinggi. Setelah itu, saya pikir kami melakukan banyak hal dengan baik, tetapi sepak bola tidak membalas kami hari ini,” imbuhnya.
Sumber: BBC Sport
DermayuMagz.com – Brasil berhasil mengamankan satu tempat di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah menampilkan performa yang memukau di fase grup. Kemenangan telak 3-0 atas Skotlandia dalam laga terakhir Grup C menjadi bukti nyata kebangkitan Selecao, yang sebelumnya sempat menuai kritik.
Perjalanan Brasil di awal turnamen tidak sepenuhnya mulus. Hasil imbang 1-1 melawan Maroko pada pertandingan pembuka Grup C sempat menimbulkan keraguan terhadap kesiapan tim.
Namun, di bawah arahan pelatih kawakan Carlo Ancelotti, Brasil perlahan menemukan kembali ritme permainan mereka. Sang juru taktik asal Italia ini berhasil menanamkan kepercayaan diri dan ketenangan pada skuad Selecao, mengembalikan aura tim yang selalu menjadi kandidat kuat juara.
Ancelotti Kembalikan Kepercayaan Diri Brasil
Kemenangan meyakinkan atas Skotlandia memastikan Brasil keluar sebagai juara Grup C dengan total tujuh poin. Dalam laga tersebut, Vinicius Junior tampil gemilang dengan mencetak dua gol, sementara Matheus Cunha turut menyumbangkan satu gol.
Sebelum memastikan kelolosan sebagai juara grup, Brasil sempat berada di bawah tekanan. Hasil imbang di laga pembuka membuat banyak pihak mempertanyakan kesiapan tim untuk bersaing di ajang sebesar Piala Dunia 2026.
Ancelotti membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih berpengalaman dengan meredam tekanan tersebut. Ia mampu menjaga mental para pemain Brasil tetap positif dan fokus pada pertandingan selanjutnya.
“Setelah pertandingan pertama, ada sedikit keraguan [tentang kami], tetapi pelatih kami memberi kami banyak kepercayaan diri,” ujar penyerang Brasil, Matheus Cunha, seperti dikutip dari BBC Sport.
“Bagi kami, seragam ini terasa berat, tetapi saya selalu berpikir ini adalah sebuah kehormatan besar. Kami berusaha menjadi idola, bekerja keras, dan meyakinkan orang-orang bahwa kami ada di sana untuk mewakili mereka,” tambahnya.
Keputusan Ancelotti Berbuah Manis Lewat Matheus Cunha
Salah satu keputusan taktis Ancelotti yang membuahkan hasil manis adalah perannya dalam mengoptimalkan potensi Matheus Cunha di lini serang Brasil. Pemain yang merumput di Manchester United ini awalnya hanya menjadi pilihan kedua saat Brasil menghadapi Qatar.
Pada pertandingan awal, Cunha memulai laga dari bangku cadangan. Namun, Ancelotti melihat potensi yang berbeda dari sang penyerang dan memutuskan untuk memberinya kesempatan bermain sebagai starter.
Kepercayaan tersebut langsung dibalas tuntas oleh Cunha dengan penampilan impresif. Ia berhasil mencetak dua gol saat melawan Qatar, berkontribusi besar pada kemenangan tim.
Ancelotti kembali mempercayai Cunha untuk mengisi lini depan saat melawan Skotlandia. Keputusan ini kembali terbukti tepat, di mana sang penyerang berhasil mencetak satu gol penting bagi kemenangan Brasil.
Sumber: BBC Sport






