Roger Danuarta dan Cut Meyriska Terkejut dengan Kasus Hanania Travel, Ingatkan Rekor Akreditasi A Plus

showbiz1 Dilihat

DermayuMagz.com – Pasangan selebritas Roger Danuarta dan Cut Meyriska mengungkapkan keterkejutan mereka mengenai kasus hukum yang menjerat Hanania Travel. Mereka mengaku tidak menyangka agen perjalanan yang pernah mereka gunakan tersebut kini terseret masalah.

Roger dan Cut Meyriska mengingat kembali pengalaman mereka terbang ke Tanah Suci bersama keluarga. Pada saat itu, tidak ada satupun indikasi bahwa Hanania Travel akan bermasalah. Namun, kini situasi telah berubah drastis.

Cut Meyriska menjelaskan bahwa perjalanan umrah mereka bersama keluarga menggunakan jasa Hanania Travel terjadi pada tahun 2024. Ia menyatakan bahwa baru pada tahun ini kasus-kasus yang berkaitan dengan travel tersebut mulai mencuat ke publik.

“2024… eh 2024, sudah lama sebenarnya kan. Mulai ada kasus-kasus ini setahu aku tahun ini ya. Satu kali doang, itu sama keluarga,” ujar Cut Meyriska saat ditemui di Polda Metro Jaya pada Jumat, 12 Juni 2026.

Roger Danuarta turut menyampaikan rasa prihatinnya terhadap para jemaah yang belum dapat berangkat menunaikan ibadah umrah. Meskipun kasus ini tidak berdampak langsung pada karier profesionalnya, ia merasa terbebani secara moral.

“Efek yang dirasakan ya kasihan sama jemaahnya yang belum berangkat, turut prihatin. Kalau dari kita karena keberangkatannya sudah lama, jadi tidak ada yang gimana-gimana sih,” tutur Roger.

Pasangan ini mengklaim bahwa sebelum memutuskan untuk menggunakan jasa Hanania Travel, mereka telah melakukan riset mendalam mengenai kredibilitas agen perjalanan tersebut. Roger menekankan bahwa pada saat itu, mereka melihat profil perusahaan yang sangat meyakinkan, lengkap dengan akreditasi yang baik dan testimoni positif dari pengguna lain.

“Sebenarnya kita sudah nyari ya, karena kan dia sudah akreditasi A, sudah rekor MURI, dan juga sudah tanya sama jemaah yang sudah berangkat sebelumnya, mereka semua happy,” tegas Roger.

Merasa Semuanya Aman

Cut Meyriska menambahkan bahwa selama masa perjalanan mereka, pelayanan yang diterima sangat memuaskan dan tidak menunjukkan adanya tanda-tanda penipuan. Ketidakpastian mereka mengenai perubahan manajemen atau masalah keuangan yang mungkin dihadapi travel di tahun ini membuat mereka sangat menyayangkan apa yang terjadi.

“Karena di tahun aku, tahun aman ya. Tahun aku tuh masih tahun aman, tidak ada kejadian apa-apa jadi semuanya aman-aman saja. Pada akhirnya seperti ini kita juga tidak tahu apa-apa sih dan tidak mengerti ya. Makanya itu tadi ya kita bantu sebisa mungkin apa yang bisa kita bilang ke Polisi dan sebagainya, ya semoga bisa jadi mendapatkan keadilan buat semua jemaah. Kasihan,” beber Cut Meyriska.

Ngaku Sudah Hati-Hati

Meskipun sudah melakukan pengecekan yang cukup ketat sejak awal, kejadian ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi mereka berdua. Cut Meyriska mengaku terkejut karena reputasi besar yang dimiliki sebuah perusahaan ternyata tidak menjamin keamanan jangka panjang bagi jemaah lainnya.

“Sebenarnya dibilang hati-hati kan kita sudah mengecek ya, sudah akreditasi A, sudah ada rekor MURI, seharusnya sudah aman. Dan itu mungkin kejadiannya di tahun ini, jadi kita tidak tahu. Tidak tahu bakal begini,” ungkap Chika lagi.

Jelas Kaget

Roger pun menegaskan bahwa keterlibatan mereka dalam kasus ini murni sebagai saksi yang ingin membantu proses hukum berjalan dengan baik. Ia merasa terpukul ketika mengetahui bahwa banyak rekan sejawat juga turut menanyakan integritas travel tersebut kepada mereka.

“Tapi kami sempat kaget juga sih maksudnya akhirnya terbawa… Kaget, kaget jelas kaget banget. Banyak juga yang menanyakan kan, menghubungi begitu. Karena banyak teman-teman juga yang berangkat ke sana,” pungkas Roger Danuarta.

DermayuMagz.com – Dalam sebuah kolaborasi yang tak terduga, aktris Acha Septriasa menggandeng aktris dan diaspora ternama, Imelda Budiman. Bersama, mereka akan mengangkat isu kesehatan mental melalui sebuah proyek film baru yang diberi judul 9 Aku, Love Heals.

Film ini akan mengisahkan perjalanan Anastacia Wella, seorang perempuan asal Kediri yang didiagnosis mengidap Dissociative Identity Disorder (DID) atau kepribadian ganda. Kondisi ini timbul akibat trauma mendalam yang dialaminya sejak masa kecil.

Keterlibatan Imelda Budiman dalam proses kreatif 9 Aku, Love Heals diharapkan dapat memberikan kedalaman emosi pada alur cerita yang disajikan. Acha Septriasa dan Imelda Budiman berdiskusi secara mendalam mengenai cara menerjemahkan beban psikologis yang dialami penderita DID secara realistis.

Mereka juga sepakat pentingnya menyajikan perspektif yang tepat kepada penonton nantinya. Pembuatan film ini bukan semata-mata untuk hiburan komersial, melainkan juga sebagai sarana edukasi publik mengenai pentingnya kepedulian terhadap dysfunctional family yang dapat menimbulkan trauma dan berdampak signifikan pada kesehatan mental seseorang.

Imelda Budiman mengungkapkan bahwa ia telah memiliki keinginan untuk mengangkat kisah Anastacia Wella ke layar lebar sejak tahun 2017. Ia mencari cerita nyata dari Indonesia yang unik, kuat, dan memiliki dampak sosial yang besar.

“Saat itu, saya mencari cerita nyata dari Indonesia yang unik, kuat, dan memiliki dampak sosial besar. Nama Wella cukup viral pada masa itu karena perjuangannya menghadapi DID masih sangat jarang dipahami masyarakat luas,” ujarnya.

Dalam sebuah percakapan melalui telepon pada 14 Juni 2026, Imelda Budiman menambahkan bahwa ketertarikannya bukan hanya pada kondisi Anastacia Wella. Ia juga tergerak oleh proses penyembuhan dan kekuatan cinta yang menjadi inti dari kisah Anastacia Wella.

Pesan Kemanusiaan Yang Dalam

“Saya melihat ada pesan kemanusiaan yang dalam: bahwa seseorang yang mengalami luka batin begitu kompleks tetap bisa menemukan harapan, pemulihan, dan makna hidup,” kata Imelda Budiman, yang telah selama 26 tahun menetap di Amerika Serikat bersama keluarganya.

Ia optimistis bahwa di bawah arahan Acha Septriasa, 9 Aku Love Heals akan menjadi lebih dari sekadar film. Karya seni ini diharapkan mampu menyajikan sebuah perjalanan yang dapat menumbuhkan empati, pemahaman, serta harapan bagi siapapun yang menyaksikannya.

Momen Tepat Wujudkan Impian

Imelda Budiman secara terbuka menyatakan bahwa sejak pertama kali mendengar kisah 9 Aku Love Heals, ia merasa kisah ini sangat layak untuk dibagikan kepada khalayak luas. Ia meyakini film merupakan media yang paling tepat untuk menyampaikan cerita tersebut.

“Karena itu, saat bertemu tim yang memiliki visi sama, termasuk Acha dan Avarta Media, saya merasa ini momen tepat untuk mewujudkan impian yang sudah saya simpan bertahun-tahun,” tambah bintang film Matadewa tersebut.

Peran Besar Imelda Budiman

Bagi Imelda Budiman, benang merah yang ingin disampaikan dalam film ini adalah bahwa setiap individu, terutama perempuan, memiliki kemampuan luar biasa untuk bangkit dan menemukan kembali harapan. Hal ini berlaku bahkan setelah mereka menghadapi luka batin yang sangat dalam.

Dalam proyek 9 Aku Love Heals, Imelda Budiman memegang berbagai peran penting. Ia tidak hanya terlibat sebagai salah satu penulis naskah bersama rekannya, Andhu Malikulkusno. Bersama Avarta Media, ia juga berperan sebagai produser dan produser eksekutif.

Lebih dari itu, Imelda Budiman juga akan tampil di depan kamera sebagai salah satu tokoh dalam film ini. “Saya salah satu penulis bersama rekan saya, Andhu Malikulkusno. Bareng Avarta Media, saya juga terlibat sebagai produser dan produser eksekutif. Tidak hanya di belakang layar, saya juga akan main sebagai salah satu tokoh film ini,” pungkas Imelda Budiman.