Rupiah Melemah Akibat Harga Minyak dan Sikap The Fed

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Senin. Mata uang Garuda tercatat melemah ke level Rp17.668 per dolar Amerika Serikat, berbanding dengan posisi sebelumnya yang berada di Rp17.597 per dolar AS.

Pemicu utama pelemahan ini, menurut pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, adalah meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap inflasi di Amerika Serikat. Kekhawatiran ini diperparah oleh kenaikan harga minyak dunia yang kembali terjadi.

Kondisi ini menimbulkan ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan awal pasar.

“Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed semakin menguat karena harga energi yang lebih tinggi jelas telah memperlambat kemajuan disinflasi, mendorong inflasi semakin jauh dari target 2 persen The Fed,” ujar Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Baca juga : Pengumuman SNBT 2026: Jadwal, Tautan, dan Cara Melihat Hasil

Selain isu suku bunga, sentimen negatif di pasar global juga diperberat oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Upaya untuk menghentikan konflik antara Amerika Serikat dan Iran, serta Israel, dilaporkan belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.

Situasi di Timur Tengah semakin memanas dengan adanya laporan serangan terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab (UEA). Bersamaan dengan itu, muncul kabar bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran.

Pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berlangsung pekan lalu juga tidak memberikan solusi konkret terkait konflik AS-Iran.

Menunggu Perkembangan Suku Bunga

Ketegangan geopolitik yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan energi global. Serangan drone yang dilaporkan terjadi di UEA dan Arab Saudi, ditambah dengan retorika keras yang dilontarkan oleh Amerika Serikat dan Iran, semakin meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah UEA sendiri menyatakan bahwa mereka masih dalam proses penyelidikan mengenai sumber serangan yang terjadi di pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah. Pemerintah UEA juga menegaskan bahwa mereka berhak untuk memberikan respons terhadap “serangan teroris” tersebut.

Dari dalam negeri, pasar juga memberikan perhatian pada pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto terkait pelemahan nilai tukar rupiah. Presiden sebelumnya menyampaikan bahwa sebagian besar masyarakat di daerah tidak terlalu bergantung pada penggunaan dolar AS dalam aktivitas ekonomi sehari-hari, sehingga dampak pelemahan rupiah dinilai tidak terlalu dirasakan secara langsung.

Tidak hanya kurs rupiah di pasar spot, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia juga menunjukkan tren pelemahan. Pada perdagangan hari ini, JISDOR tercatat berada di level Rp17.666 per dolar AS, mengalami penurunan dari posisi sebelumnya yang berada di Rp17.496 per dolar AS.

Pelaku pasar saat ini secara cermat memantau perkembangan kebijakan terkait suku bunga yang akan diambil oleh The Fed, serta dinamika geopolitik global. Kedua faktor ini diprediksi akan menjadi penentu utama arah pergerakan nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.