Perdamaian AS-Iran Redam Gejolak Minyak

Bisnis1 Dilihat

DermayuMagz.com – Harga minyak dunia menunjukkan tren penurunan pada perdagangan Jumat, 6 Juni 2026, seiring meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Keyakinan pasar terhadap potensi eskalasi konflik kedua negara mulai berkurang, yang turut memengaruhi pergerakan harga komoditas energi ini.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent tercatat melemah sebesar USD 1,94 atau 2,04 persen, ditutup pada angka USD 93,09 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga mengalami penurunan signifikan, yakni USD 2,50 atau 2,69 persen, dengan harga penutupan di USD 90,54 per barel.

Para analis menilai bahwa pasar mulai menangkap sinyal deeskalasi, meskipun belum ada kesepakatan damai yang terjalin antara AS dan Iran. Phil Flynn, seorang analis senior di Price Futures Group, menyatakan bahwa pasar tidak lagi mengantisipasi peningkatan konflik lebih lanjut.

Ia menambahkan bahwa meskipun belum ada penyelesaian, sentimen pasar cenderung mengarah pada meredanya situasi. Hal ini tercermin dari keyakinan pelaku pasar bahwa konflik tidak akan semakin memburuk.

Sentimen positif juga didukung oleh pernyataan resmi dari Petroleum Development Oman. Perusahaan tersebut mengonfirmasi bahwa operasional di Pelabuhan Mina al Fahal berjalan normal. Sebelumnya, sempat beredar laporan dari tiga sumber yang menyebutkan bahwa aktivitas pemuatan minyak di pelabuhan tersebut dihentikan pasca insiden ledakan di dekat area tambatan kapal.

Pelabuhan Mina al Fahal memegang peranan penting sebagai salah satu fasilitas ekspor utama bagi Oman. Pelabuhan ini bertanggung jawab menyalurkan sekitar 800.000 hingga 900.000 barel minyak mentah setiap harinya ke pasar global.

Meskipun terjadi pelemahan di akhir pekan, harga minyak masih berpeluang mencatatkan kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir. Sepanjang pekan ini, Brent tercatat menguat sekitar 1 persen, sementara WTI menunjukkan penguatan yang lebih besar, yaitu sekitar 3,1 persen.

Pada awal pekan, harga minyak sempat terdorong naik oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran pasar muncul akibat lambatnya kemajuan dalam perundingan perdamaian antara AS dan Iran. Selain itu, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital untuk sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, juga masih dilaporkan terbatas.

Harapan Pasar Terhadap Konflik AS-Iran

Analis dari Commerzbank mengamati bahwa harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran kembali memudar. Hal ini sempat menyebabkan penguatan pada harga minyak Brent dan gas alam Eropa selama pekan ini.

Namun, kenaikan harga minyak ini masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Faktor-faktor seperti persediaan minyak global yang ternyata lebih tinggi dari perkiraan, perubahan rute ekspor, serta perlambatan permintaan energi turut menahan laju kenaikan harga.

Dari sisi geopolitik, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, pada Kamis menolak proposal perdamaian yang dimediasi oleh AS antara Israel dan pemerintah Lebanon. Iran sendiri menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu syarat penting untuk mencapai kesepakatan damai dengan Washington.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme terkait perkembangan hubungan antara Israel dan Lebanon. Ia berpendapat bahwa Lebanon berhak mendapatkan perdamaian dan terdapat kemajuan dalam upaya penyelesaian konflik yang sedang berlangsung.

Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Minyak

Sementara itu, analis pasar IG, Tony Sycamore, berpendapat bahwa optimisme yang ada masih dibayangi oleh ketidakpastian. Ia menekankan bahwa perkembangan dan pernyataan yang saling bertentangan masih menciptakan keraguan.

“Setiap optimisme masih tertutup oleh berbagai perkembangan dan pernyataan yang saling bertentangan,” tulisnya dalam sebuah catatan riset.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sendiri tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global. Mereka memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,2 juta barel per hari untuk tahun ini. Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, menyatakan bahwa proyeksi ini tidak berubah, terlepas dari konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah dan gangguan di Selat Hormuz.

Di sisi lain, data pelayaran menunjukkan bahwa ekspor minyak Iran telah merosot ke level terendahnya dalam enam tahun terakhir. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh blokade angkatan laut AS. Selain itu, permintaan yang melemah dari China juga memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak Iran di pasar internasional.