Rupiah Melemah, Chatib Basri Prediksi Harga Naik

Bisnis4 Dilihat

DermayuMagz.com – Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Chatib Basri, menyampaikan kekhawatirannya mengenai potensi kenaikan harga barang akibat pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini diungkapkannya saat menyampaikan laporan terkini kondisi ekonomi kepada Presiden terpilih, Prabowo Subianto.

Menurut Chatib Basri, pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga, yang pada gilirannya akan berdampak signifikan terhadap masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

“Kami menyampaikan salah satu isu penting yang harus diperhatikan itu adalah kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah,” ujar Chatib Basri di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa, 9 Juni 2026.

Ia menambahkan bahwa dampak kenaikan harga ini akan sangat dirasakan oleh masyarakat yang memiliki daya beli lebih rendah. Selain itu, isu ini juga berpotensi mempengaruhi tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah.

“Karena ini tentu akan berdampak kepada menengah bawah dan apa yang harus dilakukan termasuk juga menumbuhkan masalah confidence, masalah trust kepada pemerintah,” jelasnya.

Chatib Basri menilai bahwa langkah-langkah efisiensi anggaran yang telah diambil oleh pemerintah, termasuk yang berkaitan dengan program makan bergizi gratis, merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi dampak tersebut.

“Salah  satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran termasuk salah satu di antaranya dalam kaitan dengan MBG,” tutur mantan Menteri Keuangan ini, merujuk pada program yang kemungkinan besar terkait dengan perbaikan gizi masyarakat.

Pergerakan Rupiah dan Kebijakan BI

Sebelumnya, pada Selasa, 9 Juni 2026, nilai tukar rupiah dilaporkan mengalami penguatan di sore hari. Data dari Google Finance pada pukul 17.14 WIB menunjukkan bahwa dolar Amerika Serikat melemah terhadap rupiah, bahkan sempat menyentuh angka Rp 17.983.

Pada penutupan perdagangan Selasa sore, rupiah berhasil menguat sebesar 130 poin atau setara dengan 0,71 persen. Nilai tukar rupiah tercatat berada di Rp 18.058 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di Rp 18.188 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengaitkan penguatan rupiah ini dengan keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan, BI-Rate, sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,50 persen pada hari yang sama.

“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah,” jelas Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip dari Antara pada Selasa, 9 Juni 2026.

Alasan BI Meningkatkan Suku Bunga

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam sebuah pernyataan resminya, menjelaskan bahwa peningkatan suku bunga acuan ini juga bertujuan untuk meningkatkan imbal hasil. Diharapkan, hal ini dapat menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke Indonesia.

Dalam evaluasi yang dilakukan sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan pada 19-20 Mei 2026, Perry Warjiyo mencatat bahwa nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan yang lebih signifikan dari perkiraan awal.

Selain dipengaruhi oleh gejolak global yang terus berlanjut dan tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, pelemahan rupiah juga disebut didorong oleh aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia.

Upaya Penguatan Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia memandang perlu untuk mengambil langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan kembali meningkatkan imbal hasil dan memberikan berbagai insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.

Sentimen pasar global saat ini masih dipengaruhi oleh ketegangan antara Iran dan rezim Zionis Israel. Meskipun ada indikasi penghentian serangan, laporan menyebutkan bahwa Teheran akan melanjutkan tindakan jika Israel terus menyerang Hizbullah di Lebanon.

Surat kabar Israeli Hayom melaporkan bahwa Tel Aviv dan Washington telah menyampaikan pesan kepada Teheran. Pesan tersebut menyatakan bahwa tidak akan ada serangan lanjutan dari Israel jika Iran tidak melanjutkan serangannya.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis oleh Bank Indonesia juga menunjukkan tren penguatan pada hari yang sama. JISDOR tercatat bergerak ke level Rp 18.141 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya di Rp 18.171 per dolar AS.