DermayuMagz.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengumumkan rencana penerapan sistem kecerdasan buatan (AI) untuk memantau seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah ini diproyeksikan dapat menghemat anggaran negara hingga ratusan miliar rupiah.
Luhut menyampaikan rencana ini saat menjelaskan tentang sistem teknologi pemerintahan atau government technology. Ia juga menyatakan bahwa laporan mengenai pemantauan BUMN dengan sistem AI ini telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Luhut, penerapan AI ini akan mencakup semua BUMN, termasuk perusahaan besar seperti Pertamina. Ia meyakini bahwa teknologi ini akan memberikan efisiensi yang signifikan dalam pengelolaan BUMN.
“Kemudian tadi Presiden juga kami lapori, nanti semua BUMN baik Pertamina apa semua akan semua berbasis AI,” ujar Luhut di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Ia memprediksi bahwa penghematan yang dihasilkan dari sistem ini bisa mencapai puluhan miliar, bahkan mungkin ratusan miliar rupiah di masa mendatang. Hal ini merupakan langkah strategis untuk mengefisienkan penggunaan anggaran negara.
Luhut juga menekankan bahwa penerapan sistem AI ini tidak akan memerlukan penambahan personel baru. Sebaliknya, sistem ini akan memanfaatkan sumber daya dan pengalaman yang sudah ada, termasuk pengembangan dari sistem yang pernah digunakan saat pandemi COVID-19 seperti PeduliLindungi, e-katalog, dan Simbara.
“Ini bukan hal baru, kita tidak meng-hire orang. Kita mengerjakan pengalaman kita sejak mulai Covid yang lalu, dengan PeduliLindungi, e-katalog, Simbara dan seterusnya. Saya kira itu yang sangat penting untuk kita sampaikan,” jelas Luhut.
Penyaluran Bansos dan Subsidi Bakal Pakai Digital Single ID
Dalam kesempatan yang sama, Luhut juga menyinggung rencana pemanfaatan teknologi untuk penyaluran bantuan sosial (bansos) dan subsidi. Salah satu inovasi yang akan diterapkan adalah penggunaan digital single identity (ID).
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berencana untuk mengimplementasikan sistem digitalisasi yang didukung oleh kecerdasan buatan (AI). Penggunaan Digital Single ID ini diharapkan dapat lebih memastikan ketepatan sasaran penyaluran bantuan.
Direncanakan, sistem Digital Single ID ini akan mulai diterapkan pada akhir tahun 2026. Dengan adanya identitas tunggal digital ini, seluruh data penerima bansos dan transfer tunai langsung diharapkan dapat dikelola dengan lebih efektif.
“Kita melihat bahwa dalam waktu tidak terlalu lama kita akan punya digital single ID, mungkin akhir tahun ini akan ada single digital single ID yang akan mengakibatkan semua bansos atau direct cash transfer itu akan targeted,” ungkap Luhut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026.
Luhut menambahkan bahwa dengan data yang terpusat dan teranalisis menggunakan AI, penyaluran bantuan akan lebih akurat dan efisien.
Subsidi Tak Lagi ke Barang
Pemanfaatan teknologi digitalisasi berbasis AI ini juga akan mengubah cara penyaluran subsidi. Luhut menyatakan bahwa subsidi tidak akan lagi disalurkan dalam bentuk barang, melainkan akan langsung diberikan kepada penerima yang berhak.
Pendekatan ini diharapkan dapat meminimalkan kebocoran dan memastikan bantuan sampai langsung ke tangan masyarakat yang membutuhkan.
“Saya melihat nanti, subsidi tidak akan lagi ke barang, subsidi akan langsung kepada yang penerima. Karena rata-rata kita kumpulkan semua bansos itu dengan cash transfer dan seterusnya ada Rp 5,4 juta per orang, dan ini nanti akan dikelompokkan dengan AI,” beber dia.
Mulai Tahun Depan
Selain bansos dan subsidi, Luhut juga melihat potensi pemanfaatan teknologi AI dalam program Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sistem ini memungkinkan pemantauan latar belakang nasabah KUR secara lebih mendalam.
Dengan demikian, Indonesia akan menjadi negara pertama yang menerapkan digitalisasi berbasis AI secara menyeluruh untuk berbagai program pemerintahan pada awal tahun depan.
“Jadi ini satu pemerintahan yang berpenduduk hampir 300 juta orang pada awal tahun depan yang pertama menggunakan digitalisasi berbasis AI,” ujar dia.
Luhut juga menekankan bahwa sistem ini dibangun oleh sumber daya manusia Indonesia, menunjukkan kemandirian bangsa dalam pengembangan teknologi. Ia mengapresiasi keberanian dalam mengadopsi teknologi ini untuk kemajuan negara.
“Nah ini saya kira satu keberanian tersendiri karena tadi sempat disinggung. Semua akan bisa dimonitor dengan sistem ini, dan sekali lagi sistem ini dibangun oleh anak-anak Indonesia,” pungkas Luhut.






