Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Ini Penyebabnya

Bisnis1 Dilihat

DermayuMagz.com – Kurs rupiah kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, menyentuh level 18.128 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dipicu oleh sejumlah faktor eksternal maupun domestik yang memengaruhi sentimen pasar keuangan global.

Menurut data yang dirilis, rupiah ditutup anjlok 114 poin atau setara dengan 0,63% dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka 18.014 per dolar AS. Tren pelemahan ini juga tercermin pada pergerakan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, yang melemah ke level 18.090 per dolar AS dari sebelumnya 18.005 per dolar AS.

Muhammad Amru Syifa, Research and Development dari Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama pelemahan rupiah adalah meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Lonjakan permintaan ini terjadi seiring dengan kembali memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Konflik yang kembali memanas di Timur Tengah ini secara langsung berdampak pada kenaikan harga minyak mentah, khususnya West Texas Intermediate (WTI), yang menembus kisaran US$ 74 per barel. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi global yang lebih tinggi. Kondisi ini secara tidak langsung memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (the Fed) Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level yang relatif tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Selain itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, yaitu Klaim Tunjangan Pengangguran Awal. Data ini dianggap krusial karena dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter the Fed di masa mendatang. Ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga the Fed kerap kali membuat investor cenderung memindahkan dananya ke aset yang lebih aman, seperti dolar AS.

Meskipun dihadapkan pada tekanan eksternal yang cukup kuat, fundamental ekonomi Indonesia disebut masih menunjukkan ketahanan. Hal ini tercermin dari posisi cadangan devisa Indonesia yang tercatat mengalami peningkatan. Per akhir Juni 2026, cadangan devisa mencapai US$ 145,6 miliar, naik dari US$ 144,9 miliar pada bulan sebelumnya. Peningkatan ini memberikan amunisi tambahan bagi Bank Indonesia dalam upayanya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar global.

Amru menambahkan bahwa inflasi yang tetap terkendali di dalam negeri serta komitmen kuat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan moneter juga menjadi faktor penopang bagi rupiah. Bank sentral Indonesia terus berupaya menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan mata uang domestik untuk meredam volatilitas yang berlebihan.

Namun demikian, dalam jangka pendek, pergerakan nilai tukar rupiah diprediksi akan lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan sentimen global. Ketidakpastian geopolitik dan potensi perubahan kebijakan moneter bank sentral negara maju seringkali memiliki dampak yang lebih dominan terhadap mata uang negara berkembang dibandingkan dengan faktor domestik semata.

Sebelumnya, pada Kamis pagi, rupiah terpantau melemah 52 poin atau 0,29% menjadi 18.066 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan dari penutupan perdagangan sebelumnya di 18.014 per dolar AS. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga tertekan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menggarisbawahi bahwa eskalasi konflik AS-Iran telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan yang lebih serius terhadap jalur pelayaran minyak dunia, terutama di Selat Hormuz. Gangguan pada pasokan energi dari Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut dan berdampak negatif pada perekonomian global.

Selain itu, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2026 juga menjadi sorotan. Dokumen tersebut menunjukkan kekhawatiran para pembuat kebijakan the Fed terhadap potensi tekanan inflasi yang masih bertahan. Hal ini dapat memengaruhi keputusan mereka terkait suku bunga dan pergerakan dolar AS ke depan.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Josua memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup fluktuatif pada hari itu, diprediksi berada di antara 17.975 hingga 18.125 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang dipicu oleh dinamika geopolitik dan kebijakan moneter global.