DermayuMagz.com – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin pagi menunjukkan pelemahan sebesar 33 poin atau 0,19 persen, mencapai Rp 17.630 per dolar AS. Angka ini merupakan kelanjutan dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.597 per dolar AS, di mana berbagai faktor turut berkontribusi pada tekanan terhadap mata uang Indonesia.
Haris Turino, anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menyatakan bahwa pelemahan rupiah saat ini tidak dapat disamakan dengan situasi krisis moneter pada tahun 1998. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia.
Menurut Haris, rupiah merupakan salah satu indikator krusial yang mencerminkan pandangan pasar terhadap kondisi perekonomian Indonesia.
“Kita sadar bahwa rupiah adalah prediktor yang tidak bias terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Namun, kita juga harus mengakui bahwa situasi saat ini sangat berbeda dengan kondisi tahun 1998. Pada tahun 1998, proporsi utang luar negeri kita sangatlah besar,” ujar Haris dalam sebuah rapat bersama Bank Indonesia di Komisi XI DPR RI pada Senin, 18 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa depresiasi rupiah pada masa krisis 1998 jauh lebih parah, merosot dari kisaran Rp2.500 per dolar AS hingga menembus Rp16.500 per dolar AS. Sebaliknya, pelemahan rupiah saat ini terjadi dalam rentang yang lebih terkendali, yaitu dari sekitar Rp16.500 per dolar AS menjadi sekitar Rp17.600 per dolar AS.
Lebih lanjut, struktur utang Indonesia saat ini juga dinilai lebih sehat, dengan dominasi utang domestik yang lebih besar.
Meskipun demikian, Haris mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tetap memerlukan kewaspadaan karena berpotensi memengaruhi harga barang-barang impor, biaya produksi industri, serta memberikan tekanan pada sektor pangan dan energi.
Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab untuk menjaga stabilitas rupiah berada di pundak Bank Indonesia, meskipun bank sentral tidak secara langsung menerapkan kebijakan penargetan nilai tukar (exchange rate targeting).
“Bagaimanapun juga, menjaga stabilitas mata uang rupiah adalah tanggung jawab Bank Indonesia,” tegasnya.
Pada awal pekan ini, kurs dolar AS di beberapa bank besar di Indonesia masih bertahan tinggi, mencerminkan tekanan yang terus membayangi nilai tukar rupiah. Sejumlah bank besar menetapkan kurs jual dolar AS di kisaran Rp 17.670-an per dolar AS pada Senin, 18 Mei 2026.
Data terbaru menunjukkan Bank Central Asia menetapkan kurs beli Rp 17.653 dan kurs jual Rp 17.673 per dolar AS. Sementara itu, Bank Mandiri membanderol kurs beli Rp 17.655 dan kurs jual Rp 17.675 per dolar AS.
Baca juga : Contoh Rumah Pedesaan Bergaya Minimalis dengan Sentuhan Rustic Modern
Bank Rakyat Indonesia mencatat kurs beli Rp 17.655 dan kurs jual Rp 17.683 per dolar AS. Bank Negara Indonesia mematok kurs beli Rp 17.645 dan kurs jual Rp 17.675 per dolar AS.
Tingginya kurs dolar di perbankan ini sejalan dengan proyeksi pelemahan rupiah di pasar spot. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah kembali tertekan pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026.
Menurut Ibrahim, rupiah diprediksi bergerak di kisaran Rp 17.590 hingga Rp 17.660 per dolar AS. Hal ini disebabkan oleh masih kuatnya tekanan global terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Rupiah hari ini kemungkinan melemah dengan range Rp 17.590 hingga Rp 17.660,” ujar Ibrahim kepada Liputan6.com.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin pagi, 18 Mei 2026, dibuka dalam tekanan. Analis memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung lesu pada perdagangan awal pekan ini, dipicu oleh sentimen global.
Nilai tukar rupiah tercatat turun 33 poin atau 0,19 persen, menjadi Rp 17.630 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.597 per dolar AS. Angka ini mengutip data Antara pada Senin pekan ini.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini, Senin, 18 Mei 2026. Menurut Ibrahim, rupiah diperkirakan berada dalam rentang Rp 17.590 hingga Rp 17.660 per dolar AS. Hal ini disebabkan oleh masih tingginya tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Rupiah (Senin, 18 Mei 2026) kemungkinan melemah dengan rentang Rp 17.590-17.660,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com.
Tekanan terhadap rupiah sebelumnya juga terlihat pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026, ketika mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS. Berdasarkan data Google Finance, rupiah bahkan sempat berada di posisi Rp 17.612 per dolar AS sebelum bergerak di kisaran Rp 17.579 per dolar AS pada Jumat pagi.






