DermayuMagz.com – Suzuki Motor Corporation berpotensi mengungguli Honda Motor Company dalam hal penjualan mobil global untuk pertama kalinya. Kinerja positif Suzuki didorong oleh pencapaian signifikan di pasar India.
Sebagian besar produksi Suzuki untuk pasar global, lebih dari 70 persen, berasal dari fasilitas di India. Maruti Suzuki, anak perusahaan Suzuki di India, sendiri menguasai sekitar 40 persen pangsa pasar kendaraan di negara tersebut.
Selain itu, ekspor Maruti Suzuki dari India menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pada tahun fiskal 2025-2026, volume ekspor meningkat 34 persen menjadi 447.000 unit. Ekspor ini menjangkau lebih dari 100 negara, termasuk pasar di Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, Eropa, dan Jepang.
Secara total, Suzuki mengirimkan sekitar 3,32 juta kendaraan di seluruh dunia pada tahun fiskal 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan 1,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Honda mengalami penurunan performa penjualan global. Penjualan Honda turun 2,1 persen menjadi sekitar 3,15 juta unit pada periode yang sama.
Perbedaan penjualan antara Suzuki dan Honda cukup tipis, yaitu sekitar 170.000 unit. Hal ini membuka peluang bagi Suzuki untuk menyalip Honda pada tahun fiskal berjalan.
Di pasar domestik India, Maruti Suzuki kokoh sebagai produsen mobil terbesar dengan pangsa pasar sekitar 42 persen. Pada April 2026 saja, jenama Jepang ini berhasil menjual 187 ribu unit, naik sekitar 35 persen dari tahun sebelumnya.
Baca juga : BYD M6 DM Hadir di Indonesia, Mobil Hybrid dengan Teknologi Unik
Total penjualan bulanan Maruti Suzuki bahkan mencatat rekor tertinggi, mencapai sekitar 239 ribu unit.
Kerugian Honda untuk Pertama Kalinya
Honda menghadapi tantangan signifikan dalam sejarah perusahaannya. Perusahaan asal Jepang ini melaporkan kerugian operasional tahunan pertama sejak go public pada tahun 1957.
Menurut laporan Nikkei Asia, kerugian ini disebabkan oleh kesalahan strategi di pasar kendaraan listrik. Honda diperkirakan membukukan kerugian operasional sekitar 400 miliar yen atau setara Rp 44,8 triliun pada tahun fiskal 2025, yang berakhir Maret 2026.
Beban ini timbul dari biaya restrukturisasi yang besar dan penurunan nilai investasi di sektor kendaraan listrik. Total biaya terkait bisnis kendaraan listrik ini mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 148 triliun.
Situasi ini memaksa Honda untuk melakukan penyesuaian strategi bisnis. Perusahaan berlogo huruf ‘H’ tegak ini mulai mengurangi fokus pada mobil listrik dan kembali memprioritaskan kendaraan hybrid.
CEO Honda, Toshihiro Mibe, dikabarkan telah membatalkan target lama perusahaan untuk menjadikan mobil listrik menyumbang 20 persen dari total penjualan global pada tahun 2030.






