DermayuMagz.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan peringatan serius mengenai peningkatan aktivitas Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara. Peningkatan aktivitas kegempaan yang signifikan ini mengindikasikan adanya pergerakan suplai magma menuju permukaan, sehingga berpotensi menuju fase erupsi atau pembentukan kubah lava baru.
Menurut Kepala Badan Geologi, Lana Saria, lonjakan aktivitas vulkanik ini mulai terdeteksi sejak awal Juni 2026. Berbagai jenis gempa vulkanik tercatat dalam periode 1 hingga 10 Juni 2026, menunjukkan peningkatan aktivitas yang patut diwaspadai.
Gempa guguran tercatat sebanyak dua kali, gempa embusan sebanyak 44 kali, gempa tremor harmonik sebanyak 20 kali, gempa tremor nonharmonik sebanyak 47 kali, dan gempa hybrid/fase banyak tercatat sebanyak enam kali.
Selain itu, pada periode yang sama, tim pemantau juga merekam adanya 20 gempa vulkanik dangkal, 100 gempa vulkanik dalam, satu gempa tektonik lokal, serta sembilan gempa yang terasa oleh masyarakat dengan skala intensitas I-IV MMI. Gempa tektonik jauh juga tercatat sebanyak 143 kali.
Puncak peningkatan aktivitas kegempaan terjadi pada Kamis, 11 Juni 2026. Pada hari itu, tercatat lonjakan drastis dengan 70 kejadian gempa vulkanik dalam dalam sehari. Aktivitas ini terus berfluktuasi pada tanggal 12 dan 13 Juni, dengan peningkatan pada gempa hybrid, gempa guguran, dan tremor nonharmonik.
Meskipun aktivitas kegempaan meningkat tajam, belum ada anomali visual yang terlihat di lapangan. Kolom asap yang keluar dari puncak gunung masih terpantau normal, dengan ketinggian sekitar 20 meter.
Indikasi Pergerakan Magma dan Potensi Bahaya
Analisis data manifes kegempaan Gunung Karangetang menunjukkan indikasi kuat adanya mobilisasi atau pergerakan suplai magma dari dalam perut bumi menuju area yang lebih dangkal. Munculnya rentetan gempa vulkanik dangkal, hybrid, dan guguran pasca-lonjakan gempa vulkanik dalam merupakan penanda penting.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa fluida vulkanik mulai mengganggu kestabilan kubah lava yang ada. Kondisi ini biasanya menjadi pertanda bahwa gunung api sedang dalam proses persiapan menuju fase erupsi, baik itu erupsi magmatik maupun efusif yang ditandai dengan lelehan lava.
Karakteristik utama Gunung Karangetang adalah potensi bahaya erupsi magmatik dan guguran awan panas. Bahaya ini dapat sewaktu-waktu meluncur ke lembah di bawah kawah utara maupun kawah selatan gunung tersebut.
Rekomendasi Zona Bahaya
Menanggapi peningkatan aktivitas vulkanik dan potensi bahaya yang meningkat, Badan Geologi telah mengeluarkan rekomendasi jarak aman bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung api, serta bagi para wisatawan dan pendaki.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 1,5 kilometer dari pusat kawah utara dan kawah selatan Gunung Karangetang. Selain itu, zona bahaya diperluas hingga 2,5 kilometer pada sektor barat daya dan selatan dari kawah selatan.
Pemerintah daerah dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus mengimbau masyarakat Kabupaten Kepulauan Sitaro untuk tetap tenang, tidak panik, dan selalu mengikuti instruksi resmi yang dikeluarkan. Penting juga untuk menyaring informasi yang beredar agar tidak termakan berita bohong atau hoaks yang dapat menimbulkan keresahan yang tidak perlu.






