Dampak Julukan Fisik: Mendikdasmen Ingatkan Potensi Perundungan

News5 Dilihat

DermayuMagz.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa panggilan yang merujuk pada fisik seseorang dapat dikategorikan sebagai tindakan perundungan atau bullying. Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk terus menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keberagaman.

Mu’ti mengungkapkan bahwa banyak candaan yang dianggap biasa di lingkungan sekolah sebenarnya berpotensi menyakiti perasaan siswa. Salah satu contohnya adalah penggunaan julukan yang menyinggung fisik dengan dalih bercanda.

“Terkadang, sebagian dari candaan justru berujung pada pelecehan. Misalnya, memanggil seseorang ‘si kuntet’. Meskipun niatnya bercanda, itu tetap saja pelecehan, sebenarnya itu adalah bullying,” ujar Mu’ti dalam acara “Sosialisasi dan Deklarasi Komitmen Penguatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” di Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua siswa tanpa adanya diskriminasi. Hal ini berlaku baik untuk penampilan fisik maupun kemampuan akademik. Setiap siswa memiliki bakat, kemampuan, dan potensi yang berbeda, sehingga semuanya harus dihargai setara.

Sekolah Lebih Humanis

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong institusi pendidikan untuk memperkuat budaya sekolah yang lebih humanis, inklusif, dan partisipatif. Budaya ini sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang tidak hanya fokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada penghormatan terhadap seluruh elemen sekolah.

Penghormatan ini mencakup murid, guru, hingga tenaga kependidikan. Dengan pendekatan ini, Mu’ti berharap proses belajar mengajar dapat berlangsung dalam suasana yang menyenangkan. Suasana ini tercipta tanpa perlu merendahkan atau menyakiti orang lain. Sekolah harus menjadi tempat yang merayakan keberagaman dan memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai dengan potensi mereka masing-masing.

Baca juga : Suzuki Landy Hybrid Terbaru Hadir dengan Fitur Menarik

“Kami ingin semua anak belajar dengan gembira. Sekolah harus menjadi tempat di mana semua orang merayakan keberagaman. Inilah nilai dasar mengapa kami menekankan aspek yang lebih humanis, yang inklusif dalam menerima semua orang, dan partisipatif,” jelasnya, seperti dikutip dari Antara.