DermayuMagz.com – Serial terbaru Vidio, The Scene – Living and Lifestyle in Southeast Asia, menjadi platform bagi anak-anak muda kreatif untuk berbagi pandangan. Dalam sebuah diskusi bertajuk “Shaping The Future: How Young Indonesian Drive Change”, Duo Twineester dan Bottlesmoker membagikan perspektif mereka tentang bagaimana generasi muda menjaga tradisi di tengah geliat kreativitas modern.
Dinda, moderator dari DW, membuka diskusi dengan menyoroti tantangan yang dihadapi Duo Twineester dalam mengembangkan dance hiphop di Aceh, sebuah wilayah yang dikenal dengan penerapan syariat Islam yang ketat.
Alisa, salah satu anggota Duo Twineester, mengakui adanya pandangan skeptis dari masyarakat terkait aktivitas menari mereka. Ia menjelaskan bahwa sebagai perempuan yang menekuni hiphop, mereka menghadapi berbagai persepsi. “Kita bilang bahwa dance itu bentuk ekspresi kita. Kita bisa disiplin, bisa juga tanggung jawab ambil dance tersebut,” ujarnya.
Alisa menambahkan bahwa di Aceh, untuk berkecimpung di dunia dance, penting untuk tetap konsisten dengan adat istiadat dan syariat, termasuk dalam hal berpakaian yang lebih longgar. Hal ini menunjukkan upaya mereka untuk menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku tanpa mengorbankan ekspresi seni mereka.
Senada dengan Alisa, Aliya, anggota Duo Twineester lainnya, menceritakan perjuangan mereka dalam meyakinkan masyarakat lokal mengenai budaya luar yang mereka bawa. Mereka terus berupaya mengubah persepsi negatif melalui pendekatan yang lebih sopan dan positif.
“Mungkin dulu masyarakat di Aceh susah menerima karena kita bawa budaya Barat. Tapi kita mencoba mengubah pandangan. Dari gerakan juga mengambil hal positif dan tentunya harus berpakaian yang sopan,” jelas Aliya.
Sementara itu, duo musik Bottlesmoker menawarkan perspektif berbeda mengenai bagaimana alam dapat menjadi sumber inspirasi bagi karya musik kontemporer. Ryan, salah satu personel Bottlesmoker, berbagi cerita tentang ketertarikannya dalam memproduksi musik menggunakan media yang tidak konvensional, seperti tanaman.
“Awalnya kita menggunakan medium yang menjadi alat berbeda dari umumnya. Berawal saat pandemi. Kita ingin berterima kasih kepada alam, nature,” kata Ryan.
Ia melanjutkan bahwa dari hal terkecil seperti tanaman, mereka menciptakan komposisi musik. Pengalaman ini memberikan mereka sensasi seolah berkomunikasi dan berterima kasih kepada alam melalui teknologi yang mereka miliki.
Agung, personel Bottlesmoker lainnya, menambahkan bahwa kesadaran akan pentingnya kearifan lokal muncul ketika mereka merasa tertinggal jika terus-menerus mengadopsi budaya dari luar negeri. Ia justru menemukan nilai-nilai futuristik dalam mempelajari kehidupan masyarakat adat di Indonesia.
“Ada momen kayak ketampar local distance, kayak ketinggalan zaman. Ketika kita pelajari ke masyarakat adat, ternyata sangat modern, futuristik,” ujar Agung.
Ia mencontohkan konsep rumah culture dan sustainable yang ditemukan pada masyarakat adat. Konsep-konsep inilah yang kemudian mereka bawa ke atas panggung dalam penampilan mereka, bahkan menggunakan simbol seperti nanas yang melambangkan selamat datang.
Ryan menegaskan bahwa budaya tradisional dan perkembangan zaman tidak harus saling bertentangan, melainkan dapat saling mengisi dan melengkapi. Ia menekankan pentingnya adaptasi agar makna asli dari tradisi tetap terjaga.
“Enggak hanya berdampingan tapi saling mengisi, harus saling beradaptasi. Berdampingan bukan berarti dicampuradukan, tapi saling mengisi dan maknanya tetap ada,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Agung menyoroti perlunya perubahan perspektif dalam industri kreatif agar lebih menghargai potensi yang ada di lingkungan sekitar. Ia berpendapat bahwa kekayaan budaya lokal merupakan kunci utama untuk menciptakan proyek musik yang unik dan memiliki keunggulan.
“Mungkin di musik persepsi tentang potensi yang ada di budaya lokal, di sekitar kita. Mungkin banyak yang melihat ke budaya Barat yang dianggap keren, lebih maju. Padahal di lokal banyak potensi yang bisa diangkat dan membuat proyek musik jadi unik dan punya kelebihan,” pungkas Agung.






