DermayuMagz.com – Gangguan pasokan air bersih dari Perusahaan Air Minum (PAM) di sejumlah wilayah Jakarta telah menyebabkan berbagai kesulitan bagi penduduk. Aliran air dari pipa PAM mati total, memaksa warga untuk mencari sumber air alternatif, bahkan hingga harus menumpang mandi di rumah tetangga.
Penyebab utama terhentinya aliran air ini berasal dari pusat kota, yaitu pemeliharaan kelistrikan di Gardu PLN yang berdampak pada operasional Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pejompongan I di Jakarta Pusat. Kekurangan daya listrik pada mesin pengolah air ini berimbas pada distribusi air hingga ke wilayah pinggiran Jakarta.
Di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, Ani Asia (46), seorang pedagang mi ayam, merasakan langsung dampak dari gangguan pasokan air ini. Air PAM di kontrakannya mengecil bahkan seringkali mati total. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi Ani yang usahanya sangat bergantung pada ketersediaan air bersih.
Tanpa aliran air yang memadai, Ani terpaksa harus membeli air dari pedagang pikul. Setiap jeriken air dibeli dengan harga Rp 4 ribu, dan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk memasak mi ayam dagangannya, ia bisa menghabiskan belasan jeriken.
Selain biaya yang dikeluarkan, Ani juga harus mengerahkan tenaga ekstra untuk menggotong sendiri jeriken-jeriken air tersebut ke dalam rumahnya. Ia berharap pemeliharaan gardu listrik di Pejompongan segera selesai agar usahanya tidak terancam gulung tikar.
Situasi serupa juga dialami warga di Jembatan Lima, Jakarta Barat. Di tengah kesulitan tersebut, beberapa warga justru terbantu berkat adanya sumur bor pribadi.
Anis (56), warga Jembatan Lima, mengaku beruntung karena telah membuat sumur bor di rumahnya beberapa tahun lalu. Keputusan ini terbukti sangat membantu saat aliran PAM terhenti akibat gangguan listrik di Pejompongan.
Air dari sumur bor Anis menjadi penyelamat bagi dirinya dan juga tetangga-tetangganya yang mengontrak. Mereka berbondong-bondong mendatangi rumah Anis untuk meminta air, baik untuk keperluan wudhu maupun untuk mandi.
Bahkan, warga yang kesulitan mengambil air bantuan dari truk tangki yang biasanya disalurkan ke wilayah tersebut, kini bisa mengandalkan sumur bor Anis. Hal ini dikarenakan lokasi Jembatan Lima yang terpisah oleh kali, sehingga memerlukan usaha ekstra untuk menyeberang dan mengambil air bantuan.
Anis dengan lapang dada membiarkan tetangganya memanfaatkan air dari sumur bornya. Ia juga tidak ikut mengantre air bantuan dari truk tangki, agar jatah tersebut dapat sepenuhnya dimanfaatkan oleh warga yang lebih membutuhkan.
Di wilayah Krendang Tengah, Jakarta Barat, dampaknya tidak separah di daerah lain. Ketua RT 10 RW 03, Rusiah (52), mengimbau warganya untuk menampung air di bak-bak penyimpanan sejak awal mengetahui adanya gangguan pasokan.
Rusiah menjelaskan bahwa sebagian besar warga di Krendang Tengah memiliki sumur air tanah mandiri. Hal ini membuat ketergantungan mereka terhadap air PAM relatif rendah. Air PAM biasanya hanya digunakan untuk keperluan konsumsi atau air minum.
Kemandirian warga Krendang dalam memanfaatkan air tanah dan air PAM membuat mereka tidak terlalu panik menghadapi gangguan pasokan air ini. Namun, bagi warga Jakarta yang tidak memiliki sumur bor, setiap keterlambatan perbaikan di IPA Pejompongan I menjadi perjuangan berat untuk mendapatkan air bersih.






